Posted in FTV / Sinetron

#SINET: A Sundae For Sunday eps. 1

image

Senin, 10 Agustus 2015.

Masih ada sekitar 30 menit sebelum bel tanda masuk dibunyikan, tapi seorang remaja putri bernama Rena sudah duduk manis di tempat duduk kesayangannya.

Ia melamun, melamunkan sesuatu yang indah.

20 menit berlalu, Rena masih tak bergeming, namun semenit kemudian suara yang sudah sangat dikenal oleh Rena membuyarkan lamunannya.

“Rennnnn, lo udah ketemu sama si anak baru, belum?”

Itu suara Chili, Michili Ziudith, teman sebangku Rena sejak tahun pertamanya di SMA. Rena mendengar pertanyaan Chili dengan jelas, hanya saja ia memilih diam.

“Nadya Arena Prahudita yang terhormat, gue lagi ngomong sama lo.”

Berhasil, Rena akhirnya bersuara. “Ada anak baru?”

Chili membesarkan matanya. “Lah, lo nggak tau?”

“Nggak.”

“Astaga, Renaaa. Lo harus liat dia, harus!” jelas Chili dengan semangat empat-lima. “Ganteeenggg, Ren. Lo pasti langsung naksir kalo ketemu sama dia.”

Rena mendecak, “Ck. Lo sendiri udah ketemu?”

“Nggak usah ditanya kali, Ren. Semua orang tau kalo gue itu orang paling up to date yang pernah ada di dunia. Ya kali gue belum ketemu dia.”

“Dan lo naksir sama dia?”

Chili nyengir. “Nggak, lah. Bara gue kemanain?”

“Kalo lo aja nggak naksir, apalagi gue.”

“Lo tuh emang ya, paling bisa kalo ngeles.”

“Nggak ngeles, ini fakta,” kata Rena membela diri.

“Atau jangan-jangan lo emang belum bisa move on dari Kay makanya lo jomblo terus?”

Rena menatap Chili tajam. “Gue itu jomblo belum ada 3 bulan, dan lo udah seribet ini? Lagian gue udah lupa kali sama si Kay.”

“Yakin? Terus apa alasan lo dingin kayak gini ke semua cowok?”

“Tanpa cowok, gue masih bisa beli eskrim, kok,” jawab Rena santai.

Chili melongo mendengar jawaban Rena, ia tersadar, nggak ada gunanya berdebat dengan temannya itu, lalu Chili pun diam.

Tepat sedetik kemudian, bel berbunyi nyaring.

*****

Nadya Arena Prahudita, 18 tahun, seorang ice cream freak. Tiada hari tanpa eskrim.

Rena bukanlah anak gaul yang kekinian, tidak termasuk juga dalam jajaran most wanted girl di sekolah, tapi cukup banyak yang iri dengannya. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Rena sempat berpacaran dengan Kay, ketua ekskul sepak bola yang bertampang diatas lumayan.

“Ren, ada Kay, tuh. Kayaknya dia nungguin lo, deh,” bisik Chili sambil melirik pintu kelas mereka.

Rena menoleh ke arah yang dimaksud oleh Chili, dan benar saja, ada Kay sedang bersandar di samping pintu. “Gue kesana bentar,” ujar Rena pelan.

Kay tersenyum melihat Rena menghampirinya, tapi kalimat yang didengarnya beberapa detik kemudian memudarkan senyumnya seketika.

“Lo harusnya tau dan sadar kalo gue udah males banget ketemu sama lo.”

Jelas. Cukup dalam.

“Ren, udah hampir 3 bulan lo ngejauhin gue.”

Rena tertawa sinis. “So what?

“Kalo lo belum bisa maafin gue, nggak masalah. Tapi ada satu hal yang harus lo tau, Ren. Gue bakal kayak gini tiap hari, nungguin lo di pintu kelas kayak orang kurang kerjaan, buat minta maaf sampe lo maafin gue.” Kay menatap Rena tepat di bola matanya dan tersenyum. “Gue balik dulu, jaga diri lo sampe kita ketemu lagi besok.”

Kay, Rayn Wikaya, seantero sekolah mengenalnya, dari murid, guru, hingga pegawai. Populer dan tampan.

Rena merasakan tepukan pelan di pundaknya. “Ren, lo nggak apa-apa?”

“Aman, Chil,” jawab Rena tenang.

“Balik, yuk?”

Rena hanya mengangguk.

*****

Parkiran sudah sepi, sepertinya berbicara dengan Kay sedikit banyak membuang waktu Rena dan Chili.

“Lo balik naik apa, Chil?” tanya Rena.

“Gue dijemput, supir udah di depan.”

“Ya sudah, hati-hati, ya! Bilang supir lo kalo dia dapet salam dari Rena, salam kangen.”

Chili mencubit lengan Rena cepat, lalu memasang tatapan sok serius. “Lo tuh, ya. Umur lo sama supir gue kan jauh banget. Ntar kalo lo sama dia, terus lo ditinggal mampus duluan, gimana? Udah siap jadi janda muda?”

“Sialan lo. Sana pergi,” ujar Rena sambil tertawa.

Setelah Chili berlalu, Rena mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi ojek online untuk memesan satu agar ia bisa pulang.

Sialnya, tak ada satupun driver yang berada di dekat sekolahnya, dan itu berarti ada sebuah masalah baru yang harus dihadapi Rena, bagaimana caranya pulang ke rumah secepatnya.

Tiba-tiba sebuah suara berat yang belum pernah didengar Rena terdengar di belakangnya. “Lo ngapain masih disini? Bukannya udah bubaran dari tadi?”

Rena refleks menoleh, menyebabkan wajahnya dan wajah orang itu cukup dekat. Rena mendadak salah tingkah, grogi. “Seragamnya sama, berarti anak sini juga, tapi kenapa gue baru liat. Ini anak baru yang dibilang Chili apa bukan, ya?” katanya dalam hati.

“Kenapa diem?” tanya orang itu lagi.

Rena melihat badge nama di seragam orang itu, Rezeky Nazar. “Rezeky Nazar? Eky? Orang ini Eky? Sejak kapan dia punya seragam sekolah gue?”

“Lo kayaknya harus periksain pendengaran lo ke THT,” ujar orang yang bernama Rezeky itu sebelum kemudian ia pergi meninggalkan Rena yang masih terdiam.

Kini, sejuta pertanyaan berkecamuk di pikiran Rena. “Eky….. Balik lagi? Nggak mungkin. Gue pasti lagi halusinasi.”

*****

“Jadi lo beneran masuk SMA gue cuma buat nyari mantan pacar lo pas TK? Lo udah nggak waras?”

“Pacar gue, bukan mantan. Gue pindah dan nggak ada yang bilang putus sampe sekarang.”

Sore itu cuaca cerah. Di bawah matahari yang bersembunyi di balik awan, dua orang remaja laki-laki sedang bertanding basket secara one on one.

“Seorang Rezeky Nazar alias Eky yang jadi idaman cewek-cewek gagal move on dari cinta monyetnya pas TK? Seriously, bruh?”

Eky melepaskan bola basket ditangannya, shoot and goal. “Udah 15, gue menang.” serunya.

Rezeky Nazar dan Arbami Yasiz. Kakak-beradik yang lebih terlihat seperti sahabat karib.

“Sesuai perjanjian, lo harus traktir gue, Bam.”

Bami menganggukkan kepalanya dengan malas. “Bawel lo. Yuk.”

15 menit kemudian, keduanya sudah berada di sebuah restoran sederhana favorit mereka.

“Siapa namanya? Gini-gini gue punya banyak kenalan kakak kelas.” tanya Bami setelah mereka memesan makanan.

“Aren.”

Bami menaikkan sebelah alisnya. “Gue nggak pernah tau ada anak kelas tiga yang namanya Aren.”

Eky hanya mengangkat bahu.

“Emang gimana orangnya? Jangan bilang lo nggak tau apa-apa soal dia sekarang,” tanya Bami lagi.

“Gue emang nggak tau, tapi gue yakin dia masih sebaik dulu,” jawab Eky mantap.

Bami tertawa. “Bang, coba lo mikir, deh. Gimana kalo ternyata kesayangan lo itu sekarang gendut, item, jerawatan? Atau mungkin dia emang cantik, tapi udah punya pacar lain. Gimana coba?”

Sebuah jitakan cukup keras mendarat sempurna di kepala Bami. “Sebagai adik harusnya lo doain yang baik-baik buat gue.”

*****

Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari, namun Rena masih terjaga.

Pikirannya melayang ke masa beberapa tahun silam. Kejadian yang terjadi tadi mengusik otaknya cukup hebat.

“Alen, Eky suka sama Alen. Alen mau kan pacalan sama Eky?”

“Ih Eky… Kita kan masih kecil. Eky bilang r aja belum bisa.”

“Kalo gitu nanti Eky belajal bilang l biar Alen mau sama Eky, deh.”

“Ah, Eky bisa aja…”

“Nggak apa-apa bial Alen seneng, jadi nanti Eky juga ikut seneng.”

“Ya sudah, deh. Aku mau jadi pacar Eky.”

“Asik! Sebagai hadiahnya, Eky mau minta uang sama mama buat beliin Alen es klim. Alen pulangnya hati-hati ya besok kita beli es klim baleng-baleng.”

Air mata Rena menetes, namun bibirnya menyunggingkan senyum. Masa kecil yang menyenangkan.

Saat itu ia belum tau cinta, tapi mengerti apa itu sayang. Saat itu ia belum mengenal Kay, ia hanya punya Eky.

“Apa iya cowok yang tadi itu beneran dia?”

Mendadak, Rena ingin kembali ke masa lalunya.

Tiba-tiba Rena merindukan Eky.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s