Posted in FTV / Sinetron

#FTV: How Lucky Am I?

image

Senja baru saja datang. Gumpalan-gumpalan awan gelap yang tadi sibuk menutupi langit kotaku, perlahan-lahan mengundurkan diri, seolah mempersilahkan sang senja untuk memperlihatkan wujudnya. Aku menatap bola bulat yang tinggal setengah lingkaran itu. Memejamkan mata, mempersilahkan cahaya orangenya berpendar di mataku. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan setelah hujan. “huft..” lalu mendesah lembut.

“Gak ada yang pernah cerita ke aku kalau cinta bisa serumit dan sesakit ini.” Gumamku setelah membuka mata.

Aku, Michili ziudith, gadis remaja yang mencoba memasuki dunia asing yang di sebut ‘cinta’, dan mencoba merasakan pengalaman yang diceritakan oleh teman-temanku. Sayangnya, aku langsung menemukan kekecewaan di sana, pada lembar pertama kisah cintaku.

17 tahun sudah, aku meyakinkan diri bahwa aku belum membutuhkan cinta. Maksudku pacar. Meski kadang terasa sangat sepi dan kosong, tapi aku tetap mempertahankannya. Tapi, keyakinan itu meletus, membeku lalu menguap begitu saja karena kehadirannya.

“Terus dia meluk gue, pelukan yang bener-bener nyaman, seolah-olah pelukan itu mampu melindungi gue dari semuanya. Pokoknya rasanya tuh, aman, hangat, huft…”

Aku cuma bisa tersenyum mendengar penuturan Sahabat gue nadyaarena yang sering di panggil rena.

image

“Ya ampun Chil, lo bisa bayangin gak sih, perasaan gue waktu itu?” Rena menatapku, menunggu tanggapan seperti apa yang akan aku berikan. Tapi lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum dan bergeleng gak paham.

“Makanya lo cari pacar dong, Chil! Masak cewek SMA umur 17 tahun belum pernah pacaran? Emang lo gak pengen apa kayak cewek-cewek pada umumnya? Dimanjain, kemana-mana ada yang nemenin, diperhatiin, dimengerti.”

“Kenapa jadi bahas soal gue, sih?”

“Ya abisnya lo tuh, kalau diajak curhat soal cowok pasti banyak gak pahamnya. Cari pacar dong atau mau gue cariin?”

“Ah, apa sih? Nggak-nggak. Gue males mikirin masalah itu.” Aku meninggalkan Rena yang berteriak-teriak memintaku kembali.

Di pinggir jembatan ini aku berada sekarang. Jembatan yang menghubungkan rumahku dengan rumah Rena. Setelah kabur dari rumah Rena tadi, rasanya aku belum ingin pulang. Makanya, aku menyempatkan diri menikmati suasana jembatan ini. Panas memang, tapi itu terasa lebih baik dari pada aku pulang sekarang. Begitu pikirku beberapa menit yang lalu, sebelum aku menemukan pemandangan beberapa remaja yang asyik bercengkrama dengan pasangannya  yang membuatku memikirkan kata-kata Rena.
Aku mengamati mereka. Ada getaran aneh yang mendesak di sudut hatiku dan aku menyadari hal itu, Perasaan yang selama ini ku hiraukan keberadaannya. Aku memutar posisiku menghadap sungai. Berharap supaya perhatianku teralih dari mereka.
Rena benar. Kadang-kadang rasanya begitu sepi. Aku benci mengakui hal ini, tapi untuk pertama kalinya aku mengalah pada egoku dan mengakuinya. Aku ingin seperti gadis-gadis itu.

“Kamu sadar gak sih, Chil? Kamu tuh, cewek! Kamu tuh, gak mungkin kayak gini terus! Aku yakin, kamu juga pasti butuh perhatian, butuh dukungan, butuh orang yang bisa belain kamu, jagain kamu, ngelindungin kamu. Kamu butuh itu Michili. Ok, mungkin sekarang kamu belum sadar soal itu. Tapi nanti suatu saat kamu pasti akan menyadarinya.” Begitu respon Rezekynazaar waktu beberapa minggu yang lalu dia menembakku dan aku tolak.

Lalu sekarang, dia datang lagi. Untuk yang kedua kali, mencoba meluluhkan hatiku. Rezeky merupakan ketua tim basket disekolah aku yang sering dipanggil eky, dan banyak cewek-cewek satu sekolah pada mengaguminya.

“Gimana, Chil?”

Pertanyaan itu mengantarkanku ke berbagai ingatan. Ingatan bahwa orang-orang sekelilingku menginginkanku memiliki pacar. Gak terkecuali sepupu gue catsandrasleee. Setiap kali aku bertemu dengan saudara-saudaraku, pasti yang menjadi sasaran empuk untuk ditanyakan adalah aku.

image

“Sudah punya pacar belum? pacarnya anak mana? pacarnya masih sekolah apa udah kuliah?” Tanya cat.

Jujur Aku paling gak suka diberi pertanyaan seperti itu. Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menjawabnya dan hanya bisa tersenyum aneh. Bahkan waktu aku sakit, dokter yang memeriksaku ikut-ikutan menanyakan hal itu.

“Michili..” sentuhan tangan Eky mengembalikan pikiranku. Dia menatapku, sementara tangannya meremas-remas jemariku. Mencoba meyakinkanku bahwa dia serius.

Aku menghela napas. Kemudian dengan berbagai pertimbangan tadi, aku memantapkan hati untuk menganggukkan kepala.

Eky mengembangkan senyum, wajahnya benar-benar terlihat bahagia. “Makasih, Michili.” Dia memelukku.

image

Aku memejakan mata, mencoba merasakan apa yang pernah diceritakan Rena kepadaku. Sialnya, aku membenarkan hal itu. Rasanya benar-benar hangat dan sangat nyaman.

Entah, ini karena aku yang masih amatir dalam dunia percintaan atau gimana, aku jadi tampak posesif terhadap Eky. Aku merasa hatiku sudah benar-benar tertawan oleh cowok itu. Sampai-sampai kuletakkan seluruh kepercayaanku padanya, aku gak mau kehilangan dia. Seluruh hati, perasaan dan jiwaku, telah aku kurung dan aku segel hanya untuk mencintainya. Tapi, dengan sedikit sentuhan kebohongan, Eky mematahkan segel itu.

“Chil, sebenernya gue gak tega cerita soal ini sama lo, tapi gue pikir lo harus tahu soal ini. Sebenernya, Eky masih berhubungan dengan mantannya kalau gak salah namanya ceriaathomas itu loh si ceria ketua cheerleader.” Ucap rena.

Deeg.

Kalimat itu seperti petir yang langsung menyambar ke ulu hatiku. Sangat menggangggu. Pikiran-pikiran aneh langsung bermunculan layaknya rumput di musim hujan. Sekuat tenaga, aku menyingkirkan berbagai pikiran buruk itu dan berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Rena.

“Bagus, dong! Berarti eky itu orangnya baik, walaupun udah putus, tapi dia masih mau berhubungan sama mantannya.”

“Tapi ini gak seperti hubungan yang lo bayangin! Ini tuh hubungan antara cewek dan cowok yang udah putus tapi masih saling sayang.”

“Udahlah, Ren. Gue percaya Eky, kok. Dia pasti bisa jaga hatinya baik-baik.” Aku meninggalkan Rena.

Selalu begitu. Setiap kali aku kehabisan kata-kata untuk membela diri atas pernyataan Rena, aku pasti meninggalkannya dan Rena Cuma bisa memperhatikan.

‘‘Gimana kalau yang diomongin Rena itu bener? Gimana kalau Eky memang masih sayang sama ceria? Gimana kalau hubungan mereka memang lebih dari sekedar mantan?’’ gimana-gimana yang lain gak urung ikut berdatangan.

Dari pada aku tambah stress gara-gara mikirin hal yang belum pasti itu, aku memutuskan untuk menghubungi Eky dan menanyakan kebenaran berita itu.

“Eky, aku mau kamu jujur sama aku!”

“Hei, kenapa, sih? Kok tiba-tiba serius begini?”

“Gosip tentang kamu sama ceria itu..’ aku tidak melanjutkan kalimatku.

Eky menaikkan alis dan mengerutkan dahi “Jadi kamu minta aku cepet-cepet ke sini Cuma mau nanyain itu?” Eky menatapku.

Aku mengangguk tanpa berpaling dari tatapannya.

“ha.. ha..”

“kok ketawa, sih?”

“ya ampun, michi.. kamu beneran percaya sama gosip itu?”

“gak juga sih”

“teruuusss?”

“ya.., aku cuma.. aku…” aku benar-benar gak tahu harus melakukan pembelaan seperti apa.

“Michili, denger..” Eky meremas pundakku. “Aku sayang sama kamu.” Eky mengucapkan kalimat itu pelan-pelan. Membuat darahku berdesir dan jantungku berdebar hebat.

“Kamu percaya kan, kalau aku gak akan nyakitin kamu?” dia menatapku dengan penuh keyakinan, parahnya aku selalu luluh dengan tatapan itu.

Aku mengangguk. Dia mendekakan wajahnya ke wajahku, aku memejamkan mata. Sepertinya dia berniat mencium bibirku. Tapi niatnya diurungkan. Dia memilih memindahkan sasaranya ke dahiku. “Aku nggak akan nyia-nyiain waktuku yang tinggal sebentar ini buat nyakitin kamu.” Ucapnya lalu memelukku.

Aku pasrah. Ya, aku selalu tidak bisa melakukan apa-apa kalau Eky sudah merajuk seperti itu.
Mungkin aku adalah mahluk yang paling bodoh sedunia. Karena rasa sayangku ke Eky, aku terus menerus percaya dan percaya padanya.

Sekalipun Rena berkali-kali memperingatkanku bahwa eky mempunyai hubungan khusus dengan Ceria mantannya. Sekalipun gak Cuma rena yang bicara seperti itu ke aku tapi anicerahmaadi alias ice temen duduk sebangku aku pun ikutan bilang seperti itu juga. Tapi Aku tetap keukeuh untuk percaya pada Eky. Mungkin rasa cinta itu terlanjur tertancap kokoh dalam hati dan jiwaku. Sehingga aku seolah dibutakan oleh perasaanku sendiri.

Bahkan, aku sempat mengalami percekcokan yang serius dengan temna-temanku diantaranya rena dan ice, gara-gara masalah ini.
Dan semua ketegangan itu berakhir ketika Rena & ice menunjukkan rekaman video itu kepadaku.

Eky sedang berduaan bersama seseorang divideo tersebut, aku mengamati lekat-lekat orang yang sedang tertawa di pelukan Eky itu, dia…

“Eh, ya ampun, kalian bener-bener parah ya!?” tegur raynwikaya yang merupakan teman sekelas eky.

“Eky, bukannya lo udah punya pacar, ya? Siapa tu namanya?” Ucap kay yang terlihat bersusah payah mengingat nama Michili.

“Michili maksud lo?”

“Nah, iya! Mau lo kemanain tuh, cewek?”

“Kay mending lo diem deh, michili gak ada apa-apanya di bandingin sama gue!” Ceria turun dari pangkuan Eky.

“Ceria tuh, dewasa. Dia tahu apa yang gue mau. Kalau Michili sih, cuma katak yang mau keluar dari dalam tempurung, gak tahu apa-apa soal kehidupan. Dia sih, Cuma iklan buat gue!”

“Parah lo, Eky! Eh, tapi bukannya kalian berdua udah putus, ya!?” tanya kay.

“Gak ada kata putus di kamus kita. Selama kita suka ya, jalanin aja!” Eky menggandeng pinggang cewek itu.

“yuk, ah! Duluan ya..!” Eky berlalu, meninggalkan raynwikaya yang Cuma bisa bergeleng kepala.

Video berdurasi kurang lebih enam menit itu, sukses memporak porandakan perasaanku. Menjebol bendungan air mataku. Menghempaskanku ke dalam palung samudra dengan tekanan super dahsyat. Dadaku sesak, mataku panas, pikiranku kacau, rasanya mungkin seperti tersambar petir 10.000 volt, mengantarku sejenak dalam kegelapan.

Begitu aku tersadar, aku menemukan Rena dengan ice ada di sebelahku, mereka sedang mengacung-acungkan minyak kayu putih ke hidung ku.

“Michili…” Aku mengerjap-erjap

“Gue ada dimana?”

“Lo ada di rumah ice. Tadi lo pingsan…” Rena tidak melanjutkan kalimatnya.

Meski begitupun, aku tahu apa kelanjutan dari kalimat itu. Aku melemparkan pandanganku ke langit-langit.

“Ren, gue mau ketemu Eky.” Ucapku tanpa menatap rena.

“Eh, tapi lo kan, masih gak enak badan..” Ucap ice

Aku menatap Mereka tajam. “I… iya udah deh, biar gue telpon dia, suruh dateng ke sini..” kata rena

Rena keluar.

Gak sampai setengah jam kemudian, giliran Eky yang masuk. “Michi kamu kenapa?” Eky ingin menyentuhku, tapi aku menepisnya

“Michili, kamu gak apa-apa, kan?” ada gurat kecemasan di wajah itu, tapi aku gak tahu itu benar atau bohong.

Aku menghela napas “Eky, aku mau kita putus.” Ucapku mencoba setenang mungkin.

“Ha? Tunggu deh, maksud kamu apa, sih? Kamu lagi bercanda, kan?”

“Eky, aku-mau-kita-putus!” pelan-pelan aku mengucapkan satu persatu kata itu.

“Tunggu-tunggu, kamu pasti Cuma lagi bingung aja, kan? Oke-oke, aku minta maaf kalau kedatangan aku ganggu kamu, tapi..”

Aku menggeleng. Eky terlihat bengong sejenak, gak percaya.

“Gak bisa gitu dong, Michi! Aku sayang sama kamu! Aku gak mungkin..”

“Cukup! Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi! Sekarang aku minta kamu keluar dari sini.”

“Michili..”

“Keluar!”

Eky diam. Dia menatapku, aku juga menatapnya. Dia marah. Aku tahu, dan seharusnya aku lebih marah dari dia. Tapi, cukup sampai di situ aku tahu tentang Eky. Eky pergi. Ya, dan aku akan belajar untuk mensyukuri kepergiannya.

Rena masuk dan menghampiri aku dengan ice. Dia mendekatiku dan memelukku. Aku menumpahkan sisa air mataku disana.

Aku tersadar. Ya tuhan, ternyata lama sekali aku melamun. Matahari sudah benar-benar menghilang. Seberkas cahaya terang menyembul dari arah yang berlawanan. Disambut oleh lampu-lampu yang bertaburan di bawahnya.

“Satu tahun kurang sepuluh hari. Eky, makasih buat kenang-kenangan yang udah kamu kasih ke aku.”

“Michili” itu suara mama, sepertinya aku memang sudah terlalu lama berdiri di balkon ini.

“Iya, Ma?” aku kembali masuk ke kamar

“Kenapa, Ma?” dan mendapati mama berdiri di dapan pintu kamarku.

“Ada Dimas angbara di depan. Ayo temui dia.”

“Ah, iya, Ma.”

Bara, seseorang yang datang setelah aku menyelesaikan lembaran buram bersama eky. Dia adalah teman les rena dan ice.
Bara anaknya baik, sopan, dan dalam situasi seperti apapun, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman. Hanya saja, untuk beberapa alasan, aku harus membuang jauh-jauh perasaan itu.

Aku menghampiri Bara. “hai bar, ada angin apa, nih? tumben main kesini gak bareng rena dan ice?”

Bara berdiri menyambut kedatanganku “Ng.. gak, pengen main aja.”

“Duduk, Bar!”

“um.. Michili, boleh gak kita ngobrolnya di luar aja?”

“iya boleh kok bar”

“Iya gue mau ajak lo ngobrol di pantai aja, gak papa kan? lo gak sibuk kan?.”

“Iya gak papa, santai aja bar.”

Sesampai di pantai hening membelenggu kami. Bara mengamatiku, aku gak tahu apa yang dia pikirkan. Kemudian dia menghela napas, seperti ada beban yang angat berat yang ingin dia lepaskan.

“Michili sebenernya, gue kesini karena gue cuma pengen lo tahu, kalau gue suka sama lo. Lo mau gak, jadi pacar gue?”

Shock! Aku gak menyangka kalau Bara bakalan berbicara seperti itu ke aku. Jujur, aku memang nyaman berada di dekat Bara, tapi dibandingkan dengan keadaanku, aku lebih takut kalau kisah cintaku bakal berakhir seperti dulu. 

“Percaya sama gue michilli, gue gak bakal nyakitin lo kayak mantan lo yang dulu.”

“Tapi….”

“Ssst.. sekarang tinggal jawab, lo mau atau engga? Percaya sama gue. gue mau serius sama lo.”

“I.. Iya gue mau”

Bara langsung memeluk ku dan kini kita memandangi pemandangan mata hari tenggelam di depan mata kita. 

Indah, senang dan beruntung rasanya bisa merasakan cinta yang sesungguhnya walaupun pernah merasakan pahit di awal tetapi rasa pahit itu seketika bisa hilang dengan sendirinya. yakin lah ketika tuhan memberi cobaan kepada kita, sesungguhnya tuhan juga punya rencana yang lebih indah buat kita semua. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s