Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Penyesalan

image

Bel pulang sekolah terdengar nyaring, Kaya bergegas untuk keluar kelas. Dia sengaja gak bawa mobil ataupun motornya, karena Kaya ingin pulang bareng sama Ceri, gadis yang menjadi sahabatnya sejak kelas 1 SMA, dengan naik bus. Jarak antara sekolahnya, SMA 16 Jakarta, dengan halte bus taklah jauh.

“Cer, tunggu!” panggil Kaya.

“Eh, elo Kay. Kenapa?” tanya Ceri sambil merapikan rambut sebahunya.

“Pulang bareng gue yuk!” ajak Rayn.

“Yuk, tapi bukannya lo gak bawa motor ataupun mobil lo ya?” tanya Ceri keheranan, pasalnya gak seperti biasanya Kaya tidak membawa motor kesayangannya.

“Gue ingin naik bus bareng lo, yuk ah! Gak ada penolakan buat gue!” paksa Kaya sambil menggenggam erat tangan Ceri.

“Tapi…..”

“Please, Cer!” mohon Kaya dengan memasang wajah memelasnya. Ceri akhirnya mengangguk pasrah dan mengiyakan permintaan Kaya.

“Eh. Bentar deh” ucap Ceri tiba-tiba. Dia membuka tasnya kembali, dan dia menepuk jidatnya.

“Kenapa, Cer?” tanya Kaya heran.

“Buku latihan gue kemana ya, Kay? Aduh bisa sampe lupa gini astaga” keluh Ceri sambil mengusap wajahnya kasar.

“Buku latihan lo, Cer? Nih ada di gue, tadi jatuh pas lo jalan ke perpus. Gue ambilin aja sekalian, biar gak hilang” ucap Kaya sambil menyerahkan buku latihan Ceri.

Ceri mengambilnya dengan wajah sumringah.

“Ya ampun, iya ini Kay. Thanks ya!” kata Ceri tulus.

“Sama-sama, sekarang kita cus ke halte! Biar kita kebagian tempat duduk” Ceri mengiyakan dengan semangat, lalu bersama-sama berlari menuju halte bus..

Sesampainya di halte bus, ternyata tempatnya gak begitu rame. Kaya dan Ceri berdiri sambil menunggu busnya datang. Dan tibalah bus itu datang, mereka langsung masuk ke bus, yang ternyata busnya agak sepi. Mereka bersyukur karena gak harus desak-desakkan pas masuk ke busnya, juga gak harus berdiri karena gak kebagian tempat duduk.

Ceri lebih memilih tidur sesaat setelah duduk di kursi penumpang, sedangkan Kaya lebih memilih mendengarkan lagu di iPod kesayangannya dengan menggunakan headset. Sesekali Kaya melirik ke arah Ceri. Gadis itu sangat cantik. Wajahnya yang kebulean, padahal gak ada turunan bule sama sekali.
Matanya yang indah, hidung yang mancung, dan bibir tipisnya yang selalu cerewet ketika Kaya telat ke sekolah, atau apapun yang menurutnya kurang suka. Dan dia sadar, jika dirinya sudah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Kaya memutuskan untuk mendekap Ceri agar tidurnya lebih nyenyak.

“Ceri, please wait me to said i love you” ucap Kaya dalam hati.

***

3 bulan kemudian…
Akhirnya, Kaya resmi menjadi pacar Ceri. Senang rasanya, dia bisa taklukin gadis ini. Awalnya Ceri ragu, karena sebelumnya Kaya termasuk cowok playboy, namun akhirnya dia percaya pada Kaya.

Kaya menjadi playboy karena sakit hati terhadap mantannya dulu, Vino. Kaya gak pernah serius menjalani hubungan dengan orang lain, namun sejak bertemu dengan Ceri, semuanya berubah. Dan Kaya suka dengan perubahan sikapnya ini. Dan cara Kaya menembak Ceri, sangat anti mainstream. Kaya terkekeh jika mengingat kejadian itu.

Flashback on

Kaya mengajak Ceri main ke rumahnya karena ortu Kaya sedang pergi ke suatu acara, dan kakaknya, Kaiu lagi hangout bareng temannya. Ceri hanya mengiyakan permintaan Kaya, karena Ceri sendiri bilang kalau dia juga bosan di rumah.

Sesampainya di rumah Kaya, Ceri langsung mengeluarkan novel kesukaannya, dan mulai tenggelam dalam bacaannya itu. Kaya sedari tadi dicuekkin dengan sahabatnya ini, merasa bosan, padahal niatnya Kaya ingin bicara serius sama Ceri.

Akhirnya Kaya punya ide. Dia pun memancing Ceri biar gak terus menerus nyuekin Kaya.

“Cer” panggil Kaya.

“Hm?” Ceri hanya menggumam aja

“Liat ke gue dong” pinta Kaya.

“Entaran kek, masih baca nih” sungut Ceri sambil terus membaca novelnya.

“Ih Ceri, gue bosan” keluh Kaya.

“Kenapa sih, Kay? Berisik mulu lo” kata Ceri kesal.

“Lo nyuekin gue mulu, Cer” ucap Kaya memelas

“Iya deh iya, oke. Sekarang mau lo apa, Kay?” ujar Ceri sambil menutup novelnya.

“Gimana kalau kita main ToD aja?” usul Kaya.

“Boleh boleh, tapi lo yang nentuin aturannya, gue ngikut aja” kata Ceri pasrah.

“Oke, gue mau main ToD. Gue ingin pake gunting, batu, kertas karena yang main cuma kita aja. Jika milih Truth atau Jujur, pemain harus jujur sejujurnya menjawab pertanyaan dari pemain lain. Jika milih Dare atau Tantangan, pemain harus mau melakukan tantangan dari pemain lain. Dan ingat, ini gak ada canda-candaan. Semuanya serba serius. Dan gak boleh bohong” kata Kaya panjang lebar.

“Ih kok gitu, Kay. Ahelah” keluh Ceri lagi.

“Katanya terserah gue, gimana sih lo” protes Kaya.

“Iya deh iya aja deh” kata Ceri sambil menghembuskan nafas kasar. Kaya hanya tersenyum melihat kelakuan Ceri.

“Maaf ya cantik, kali ini lo harus nurut sama gue oke?” kata Kaya sambil mengusap rambut Ceri dengan lembut.

“Iya, Kay” jawab Ceri sambil tersenyum manis.

Permainan pun dimulai. Kaya antusias dengan permainan ini, karena dengan begitu Kaya bisa jujur dan terbuka sama Ceri, begitupun dengannya. Sampai akhirnya…

“Gunting batu kertas!” (Kaya dan Ceri mengucapkannya secara bersamaan)

“Yes, gue menang!” pekik Ceri senang

“Yah, gue kalah deh” keluh Kaya.

“Sabar ya Kay hehehe” ucap Ceri, dan Kaya hanya menggumam karena kesal.

“Yaudah, ToD?” tanya Ceri.

“Dare!” jawab Kaya dengan cepat.

“Oke, coba lo ungkapin perasaan lo ke seseorang yang lo suka, yang lo cintai. Dan lo harus mau ngelakuin ini!” kata Ceri, kali ini dengan wajah yang serius.

“Oke, gue akan ngungkapin perasaan gue ini sama lo…..Ceri”

“Kok gue?” tanya Ceri terkejut.

“Iya, elo Cer, seseorang yang gue sukai dan gue cintai. Gue suka sama lo semenjak pertama kali kita jumpa, dan gue cinta sama kepribadian lo yang serba natural. Gue sangat mencintai lo apa adanya” ucap Kaya tulus sambil menggenggam kedua tangan Ceri dengan erat.

“Kay, lo bercanda kan?” tanya Ceri lagi.

“Enggak Cer, gue serius bicara ini sama lo. Gue mau lo jadi wanita spesial yang ada dihati gue, wanita yang selalu mewarnai hari-hari gue, wanita yang menjadi penyemangat gue, dan jadi wanita yang selalu ada di samping gue. Ceri, be mine, please?” tanya Kaya sambil menatap tepat dimanik mata Ceri.

Kaya melihat Ceri meneteskan air matanya. Ceri ingin menghapus air matanya, namun ditahan sama Ceri. Ceri menggeleng pelan.

“Jangan dihapus Kay. Ini air mata kebahagiaan. Gue gak nyangka jika lo memiliki perasaan yang sama seperti gue” kata Ceri dengan bahagia.

“Ma….maksud lo?”

“Iya, gue juga suka sama lo, bahkan gue cinta sama lo jauh sebelum lo bilang cinta ke gue. Karena gue takut cinta gue ke lo bertepuk sebelah tangan” ujar Ceri jujur.

“Kali ini engga kok Cer, kan gue cinta sama lo. Jadi, gimana?” tanya Kaya sekali lagi.

“Yes, Kay” jawab Ceri sembari tersenyum ke arah Kaya.

Kaya memeluk Ceri dengan erat. Dia bahagia. Hanya karena permainan ini, cintanya dengan Ceri bisa bersatu seperti ini. Semoga Ceri bisa membuatnya melupakan Vino.

“I love you, Ceri Kumalasari”

“I love you too, Aditkaya Burham”

Flashback off

Kaya melalui hari-harinya dengan Ceri. Bahagia, itu yang Kaya rasakan. Dia harap, kebahagiaan ini bisa selamanya.

***

Sudah seminggu ini, Kaya dan Ceri bertengkar dan saling tidak menyapa satu sama lain.

Pasalnya, Ceri memergoki Kaya dan Vino bermesraan di rumah Kaya. Ceri yang awalnya ingin memberikan kejutan dihari jadi mereka yang sudah setahun, harus hancur karena Kaya Ceri yang susah payah membuat kue tart untuk Kaya, dibuang begitu aja. Ceri langsung berlari meninggalkan rumah Kaya. Meninggalkan luka dihati gadis itu.

Tapi, Kaya sendiri gak munafik, karena ternyata Kaya masih ada cinta dengan Vino. Bahkan, Kaya udah jadian sama Vino dua minggu sebelum anniversary 1 year hubungannya dengan Ceri. Kaya memutuskan untuk memacari Ceri juga Vino, karena dia gak bisa memilih satu diantara dua cewek itu.

*pagi hari*
Tiba-tiba, Ceri datang ke kelas Kaya, dengan ekspresi wajah yang gak bisa ditebak.

“Hai sayang” sapa Kaya dengan senyum manis.

“Gak usah basa basi, gue mau ngomong sesuatu sama lo” ucap Ceri dingin.

“Kenapa kasar banget sama aku sih sayang?” kata Kaya lesu.

“Gue cuma mau bilang selamat setahunnya kita. Dan setahunnya kita harus terbayar sama kelakuan lo yang kayak bajingan itu! Karena, lo balikan sama si Vino itu!” bentak Ceri. Kaya terkejut dengan perubahan sikap Ceri kepadanya.

“Ceri….” panggil Kaya sedih.

“Gak usah sok sedih, gue cuma mau bilang kalo kita putus. Makasih selama setahunnya ini. Makasih atas perhatian lo ke gue dulu. Dan makasih banget atas hadiahnya. Hadiah kekecewaan yang gue dapat. Jangan temuin gue lagi. Selamat tinggal” pamit Ceri dan langsung meninggalkan Kaya.

Bagai disambar petir di siang bolong, Kaya kaget dengan perkataan Ceri. Dia tak menyangka kembalinya Vino di kehidupannya ternyata berdampak buruk baginya. Kaya juga menyesal karena masih ada cinta pada Vino, sampai harus mengorbankan Ceri demi Vino. Dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun ke Ceri. Hatinya terlalu sakit. Lebih sakit dibanding saat Kaya melihat Vino berciuman dengan pria lain.

Kaya memutuskan untuk menelpon Vino.

“Halo”

“Hai baby, tumben telpon aku?”

“Gue cuma bilang kalo kita putus!”

“Kok putus sih? Kaya mah, kenapa kamu milih dia daripada aku?”

“CUKUP! GUE UDAH MUAK SAMA LO. GUE NYESAL PERNAH PACARAN SAMA LO, DAN GUE NYESAL KITA BACKSTREET, DISAAT GUE SAMA CERI MASIH BERHUBUNGAN. LO JANGAN HUBUNGIN GUE LAGI!”

TUT!

Kaya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menyesal telah memainkan hati wanita yang mencintai Kaya dengan tulus.

Kaya memutuskan untuk mengejar Ceri hingga sampai taman sekolah, dia memegang tangan Ceri dengan kuat, sedetik kemudian gadis itu menepisnya.

“Cer, kamu pasti tau tentang hubungan aku dengan Vino. Aku tau aku salah, maafin aku” ucap Kaya sambil berlutut ke arah Ceri.

“Gak usah akting lagi lo. Gue udah gak percaya sama lo lagi. Lo brengsek, bangsat tau gak!” maki Ceri sambil memukul punggung Kaya dengan keras.

Kaya membiarkannya, karena dia tau ini salahnya.

“Iya Cer, aku tau. Aku harus apa biar kamu memaafkan aku?” tanya Kaya dengan mata yang sudah sembab karena menangis

“Mau tahu? Lo tinggal jauhin gue, beres” ucap Ceri enteng.

“Cer, kenapa harus itu?” Kaya benar-benar sedih dengan perkataan Ceri barusan. Kaya gak sanggup untuk melakukan itu.

“Hanya itu yang gue mau, Kay. Selamat tinggal” pamit Ceri.

Ceri meninggalkan taman sekolah yang sepi itu. Kaya kembali menangis, Ceri tak mau lagi balik dengannya. Kaya sangat menyesal telah melakukan itu pada Ceri.

“ARGH! TIDAKKKKK!!!!!!!”

***

Malamnya, Kaya memutuskan untuk pergi ke rumah . Dia tak peduli tentang perkataannya Ceri, Kaya ingin balikan lagi. Dia juga udah putus dengan Vino. Tapi, keadaan rumah Ceri berbeda seperti biasanya. Banyak orang yang memakai pakaian berwarna hitam, orang tua Ceri menangis. Dan di depan rumahnya, terdapat bendera kuning tanda duka cita.

Karena Kaya penasaran, akhirnya dia masuk ke dalam rumah Ceri.

“Malam, tante, om” sapa Kaya sopan

“Malam Kaya…..hiks…..hiks……” tante Rena tak bisa melanjutkan perkataannya karena menangis.

“Tante kenapa nangis?” tanya Kaya khawatir.

“Hiks….hiks…..” tante Rena masih tak mau menjawab pertanyaan Kaya.

“Sekarang Kaya tanya, siapa yang meninggal, tante?” tanya Kaya sekali lagi.

“Hiks…hiks…yang meninggal itu…..Ceri”

DEG!

Kaya kaget, apa dirinya salah dengar?

“Tante? Tante gak bercanda kan? TANTE GAK MAIN MAIN KAN SAMA UCAPAN TANTE?!” Kaya menggoncangkan bahu tante Rena, sementara tante Rena terus menangis.

“Kaya….sudah nak, yang dikatakan mamanya Ceri benar. Ceri yang meninggal. Kami semua juga sangat shock atas meninggalnya anak kami” ucap om Bami sambil mengusap bahu tante Rena.

“Om….jadi…i..ini…beneran?” tanya Kaya sedih.

“Iya nak Kaya” tiba-tiba Kaya langsung memeluk om Bami.

Dia menangis dibahu papanya Ceri.

Ceri, gadis yang Kaya cintai dengan sepenuh hati, harus pergi meninggalkannya disini.

“Om, apa yang terjadi dengan Ceri?” tanya Kaya dengan suara parau karena tangis.

“Ceri mengalami kecelakaan pas pulang dari sekolah. Dia ditabrak oleh truk yang melaju dengan kencang. Badan Ceri terlempar hingga 5 m, kepalanya membentur batang pohon. Dan langsung meninggal di tempat kejadian” kata om Bami.

Lutut Kaya sangat lemas mendengar penjelasan dari om Bami.

“Ceri ditolong oleh warga sekitar, dan dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Dan hasilnya, semua tulang di tubuh Ceri retak, dan juga kehilangan banyak darah karena kecelakaan itu. Setelah itu, om dan tante langsung ke rumah sakit karena ditelpon pihak rumah sakit” lanjutnya lagi.

Kaya sangat sedih, sebenenarnya dia tak ingin mendengarkan cerita dari om Bami, rasanya sangat sakit. Namun Kaya paksakan untuk mendengarkannya karena ini menyangkut Ceri.

“Ceri dimakamkan di samping nenek dan kakeknya. Dan warga yang menolong Ceri menemukan ini di lokasi tempat kecelakaannya dia. Om memberikannya untukmu karena om rasa surat ini untukmu” om Bami memberikan secarik kertas itu kepada Kaya

Tertera di tulisan itu To: Aditkaya Burham.

“Dibuka nak suratnya. Ingat, kamu harus ikhlas melepas kepergian Ceri” ucap om Bami sambil menepuk bahu Kaya.

Dia mengangguk pun membuka surat yang ditulis oleh Ceri. Meskipun sedikit ada bercak darah di kertas itu, tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk membaca surat itu.

Dear Kaya
Saat lo menerima surat ini, gue sudah pergi dari hadapan lo. Pergi ke pangkuan Tuhan, mungkin.
Kaya pacar gue
Makasih atas kenangan kita selama setahun ini, gue sangat bahagia. Meski pada akhirnya harus terbayarkan oleh kekecewaan yang gue dapatkan.
Kaya mantan gue
Gue harap lo bisa mencari wanita yang lebih baik dari gue, lo harus bisa move on dari gue. Jangan sampe lo masih galau gara-gara gue. Lo harus menjadi Kaya yang dulu, Kaya yang rese sama gue, Kaya yang pencicilan dihadapan gue. Dan juga Kaya yang selalu menyayangi gue walau akhirnya gue sakit hati karena lo sudah mempermainkan gue.
Kaya
Gue rasa cukup. Gue minta maaf kalo gue harus pergi meninggalkan lo. Gue akan selalu tetap sayang dan cinta sama lo, sampe kapanpun
Salam
Ceri

Kaya meremas surat dari Ceri. Dia jatuh terduduk di teras rumah Ceri. Air mata kembali keluar dari matanya.

Ya, Kaya menangis lagi. Menangisi kebodohannya yang telah menyia-nyiakan ketulusan hati Ceri. Menyia-menyiakan cintanya Ceri.

“Om, tante, maafin Kaya. Kaya gak bisa jagain anak om dan tante” gue mengucapkannya dengan penuh penyesalan.

“Bukan salahmu nak, mungkin ini sudah takdirnya Ceri. Biarkan dia tenang di sisi Tuhan” tiba-tiba, orang tua Ceri memeluk Kaya secara bersamaan.

Kaya membalas pelukan mereka. Dia menangis di dekapan mereka, begitu pun dengan mereka. Kaya dan kedua orang tua Ceri menangis bersama karena Ceri. Kaya melepas pelukan mereka secara perlahan.

“Kaya, pulanglah ke rumahmu nak. Ini udah malem” pinta tante Rena lembut.

“Kalau kamu kangen sama Ceri, kamu boleh datang ke rumah kami. Kamu boleh datang ke kamarnya Ceri. Dan kamu juga boleh mendatangi makam Ceri kapanpun yang kamu mau” ucap om Bami tersenyum.

“Terima kasih om, tante. Yaudah, kalo begitu Kaya pulang dulu” pamit Kaya.

“Iya nak, hati-hati di jalan ya nak” kata tante Rena sambil melambaikan tangan kepada Kaya.

Kaya segera meninggalkan rumah Ceri dengan sejuta penyesalan. Ralat, bukan sejuta, bahkan lebih dari itu. Andai aja ada kata-kata selain menyesal, mungkin itu yang akan Kaya katakan.

Sesampainya di rumah, Kaya kembali membuka surat yang udah diremas olehnya. Memutar lagu kesukaannya dengan Ceri saat masih pacaran. Kaya membuka kotak yang berisi foto-fotonya dengan Ceri. Terlihat raut kebahagiaan disitu. Kaya tersenyum miris melihatnya.

“Mungkin, ini karma untuk gue. Karma karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Ceri, wanita yang bisa menerimanya apa adanya, wanita yang memiliki sifat natural dan tidak dibuat-buat, dan yang pasti wanita yang sudah mengajari gue tentang ketulusan cinta yang sebenarnya” ucap Kaya sedih sambil mengusap air matanya yang lagi-lagi mengalir dipipinya.

“Gue janji, gue gak akan menjalin hubungan dengan cewek manapun, sampai ajal menjemput gue, agar gue bisa bersama dengan Ceri di surga nanti” ujarnya lagi dengan penuh keyakinan.

Kaya membereskan barang-barangnya, dan segera memejamkan matanya.

***

10 tahun kemudian…

Kaya mendatangi makam Ceri dengan senyumnya yang mengembang. Dia membawa bunga mawar untuk Ceri. Dia tersenyum saat melihat makam Ceri dan mengelus nisannya.

Innalillahi wainnailaihi rajiun
           Ceri Kumalasari
                     binti
              Arbami Yasiz
       Lahir: 11 Oktober 1997
    Wafat: 04 November 2015

“Hai, sayang. Bagaimana kabar kamu? Kamu gak takut sendirian di dalam situ? Apa perlu aku temani kamu disini?” tanyaku sambil terkekeh.

“Sayang, asalkan kamu tau. Aku gak mau menjalin hubungan dengan wanita manapun, aku hanya ingin dirimu. Maafkan kebodohanku dulu padamu, Cer”

Kaya kembali sedih saat mengingat kejadian itu, dimana karena dirinya Ceri marah padanya. Mungkin juga penyebab Ceri kecelakaan.

“Aku berjanji, aku tetap menjaga hati ini untukmu hingga ajal menjemputku, Cer. Tunggu aku di surga ya, sayang” janji Kaya.

Sekali lagi, pemuda itu mengelus nisan makamnya Ceri, lalu dia berdoa sejenak. Dan beranjak meninggalkan makam Ceri.

***

“Cukup mencintai satu wanita, dan pertahankanlah. Jika kamu melepasnya, maka akan ada karma dibelakangnya. Diikuti dengan penyesalan yang mendalam. Kamu harus menerima resiko jika kamu melepas wanita yang tulus mencintaimu” – Kaiu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s