Posted in FTV / Sinetron

#SINET: Kasih Tak Sampai eps. 1

image

Namanya Bara, pria berumur 17 tahun yang sedang menikmati masa mudanya. Bara sangat dikenal disekolahnya apalagi Bara juga pemilik dari sekolah yang ia tempati.

Dibalik kepopulerannya, dibalik sifat cerianya Bara banyak sekali menyimpan teka teki tentang kehidupannya, entah itu tentang cinta ataupun tentang kehidupan keluarganya.

Masa lalu yang pernah di alami Bara yang membuatnya merubah dirinya, merubah jati dirinya. Yang asalnya memiliki sifat sangat baik dan sekarang entah terlihat lebih slengean.

Disekolah…

“Baraaaaaa.” teriak seorang wanita dari kejauhan.

Bara pun menoleh ke sumber suara. Dan ternyata yang memanggil nya adalah Yuneta, wanita yang tiada hentinya mengejar Bara. Karena itu, Bara pun langsung berlari menjauh dari Yuneta.

Yuneta merasa kesal kepada Bara karena mengapa Bara seperti melihat setan saat tau yang memanggilnya adalah dirinya.

“Ihh kok Bara kaya liat setan gitu sih pas gue panggil. Tega amat sampe lari gitu.” gerutu Yuneta.

Dikantin…

Dengan muka capek dan ngos-ngosan Bara menghampiri Rena. “Parah parah, gila cape gue.”

“Lo kenapa Bar ? Lo ngapain juga lari-lari sih ?” ujar Rena.

“Gue dikejar-kejar Neta. Parah ngeri gue kalau dia gitu terus.” ujar Bara yang langsung duduk didepan kursi Rena.

“Haha jadi karena Neta lu niat banget lari dari kelas ke kantin ?” ledek Rena.

“Diem lu Ren, malah ngeledek beliin minum kek haus nih.” gerutu Bara lagi.

“Iya iya, sebentar gue pesen minum dulu buat lu.” ujar Rena yang beranjak pergi untuk memesan minuman.

“Iya cepetan.” ujar Bara sambil mengipas ngipas mukanya.

15 menit kemudian..

“Eh Ren, udah mau masuk mending kita ke kelas deh, biar ga dihukum kaya kemarin-kemarin lagi.” Ujar Bara mengajak ke kelas.

Mereka pun menghabiskan makanan dan minuman yang ada dimeja mereka dan langsung bergegas pergi ke kelas.

Di kelas…

“Bar, bakal ada 2 anak baru deh, cowo sama cewe. Kira-kira menurut lu mereka ganteng sama cantik gak ? atau mereka asik gak ?” tanya Rena yang penasaran.

“Mana gue tau Ren, mau mereka cantik atau ganteng kek, mau mereka famous kek, gue gak peduli. Gue peduli, kalau sekarang bisa pulang ke rumah. Gak betah gue disekolah lama-lama.”

“Ye lu tuh ya, baru juga beres istirahat, dua pelajaran lagi juga pulang Bar.”

“Iya Ren.”

TengTengTeng…

Bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pun dimulai, Bara dan Rena terlihat sangat seirus tapi terlihat agak berbeda karena keseriusan Bara belajar itu seperti memikirkan hal lain. Rena sadar akan lamunan Bara dan akhirnya menyenggol Bara.

“Heh lu kenapa ?” tanya Rena berbisik.

“Kenapa apanya ?” jawab Bara kebingungan.

“Lu tanya gue ? Gue tanya siapa Bar ?” ujar Rena sinis.

“Yeh, lu kok jadi sewot, gue kan gak ngerti makanya gue tanya sama lu, gimana maksudnya.” jawab Bara menjelaskan.

“Bodo amat Bar.” jawab singkat Rena sambil kembali menulis.

Bara hanya menggelengkan kepalanya karena sikap Rena.

3 jam berlalu. Waktu pun sudah menunjukan pukul 12.30 yang bukan lain adalah waktu dimana semua siswa dan siswi pulng sekolah. Entah mengapa hari itu Bara sangat ingin sekali pulang.

“Seneng amat lu pulang.” gerutu Rena sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas.

“Gak tau gue juga tiba-tiba pengen pulang, apa karena Mama pulang ya.” jawab Bara.

“Nyokap lu balik ?” tanya Rena.

“Katanya sih, semoga aja gak php lagi. Yaudh yuk balik.” ajak Bara sambil memakai tasnya.

Rena pun memakai tasnya dan langsung mendorong Bara untuk berjalan menuju keluar kelas.

“Eh lu dijemput apa sendiri ? Kalau sendiri gue anter lu pulang aja.” tanya Bara sambil menaiki motornya.

“Gak usah Bar, gue dijemput kok sama Papa gue, lu kalau mau duluan dulan aja kasian lu dari tadi kek pen pulang gitu.” jawab Rena.

“Yaudah gue balik duluan deh, lu ati-ati yak, kalau ada apa-apa lu bilang sama gue, pasti gue gak dateng.” canda Bara.

“Kok lu bego sih Bar.” jawab Rena dengan tawa kecilnya.

“Haha yauah gue duluan ya, bye Ren.” ujar Bara sambil menyelah motornya.

Bara pun pulang dan meninggalkan Rena diparkiran sekolah. Diperjalanan pulang Bara terlihat senang sekali dan sangat tidak sabar untuk cepat sampai ke rumah. Saking terburu-burunya Bara tak terkendali dalam mengendarai motor dan hampir saja menabrak sebuah mobl yang tiba-tiba saja ada didepan matanya. Bara terkejut. Bara pun turun dari motor dan langsung menuju pemilik mobil itu.

“Heh turun-turun lu.” sambil mengetuk kaca mobil.

Bara sangat kencang sekali mengetuk kaca mobil tersebut tapi si supir tidak sama sekali membuka kaca apalagi keluar mobil.

“Eh lu, keluar. Apa lu mau gue pecahin kaca depan mobil lu ?” ujar Bara dengan sedikit ancaman.

Akhirnya si pemilik mobil itu keluar, dan yang keluar adalah seorang wanita.

“Eh lu, bisa nyetir gak sih ? coba kalau tadi gue gak rem, gue mungkin udah mati.” ucap Bara sambil mengoceh.

“Lu tuh punya sopan santun gak sih ? Gue tuh cewek, bisa kan lu ngomong baik-baik gak nyolot kaya gini ?” jawab wanit itu.

“Gimana gue gak nyolot sih, lunya aja gue ketok kaca mobil lu, lu gak keluar.” ucap Bara dengan nada yang semakin sinis.

“Lu tuh ya gue ngomong baik-baik malah makin ngotot. Saiko lu.” ucap wanita itu dengan nada yang meninggi juga.

“Lah kok lu jadi ngatain gue sih ? Minta maaf kek, dasar cewe gak tau diri.” sahut Bara.

“Udah ngocehnya ? Gue gak bisa lama-lama gue sibuk.”

“AH ASTAGA,GUE LUPA GUE HARUS PULANG CEPET. Eh lu urusan kita belum selesai ya, inget belum selesai gue bakal cari lu lagi.” ucap Bara sambil berjalan mundur menuju motornya.

Bara pun akhirnya meninggalkan wanita itu dan bergegas pulang karena Bara benar-benar harus cepat pulang. Disisi lain wanita itu tak menyangka bisa bertemu dengan pria semacam Bara.

“Aneh, cowo gak diajarin sopan santun apa ya, nyolot aja. Awas aja ketemu lagi, gue bakal kerjain.”
Di rumah Bara…

“Kamu tuh seharusnya dirumah jaga anak kamu, liat kan anak kamu banyak laporan dia nakal dan gak keurus jadinya. Kamu terlalu sibuk sama pekerjaan kamu.”

“Loh kok Papa jadi salahin Mama ? Harusnya Papa juga bercermin, Papa juga sibuk kesana kesini dan lupa ada istri dan anak di rumah.”

“Udahlah, aku cape sama sikap kamu yang semakin hari semakin gak menghargai aku sebagai suami kamu.”

“Apalagi aku Pah.”

“Aku mau kita cerai.”

Disaat yang bersamaan Bara datang dan Bara mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Bara terkejut dengan apa yang ia lihat depan matanya, terlebih Bara sangat –sangat tak menyangka pertengakaran itu diakhir dengan kata “CERAI”

“Cerai?” ucap Bara terkejut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s