Posted in FTV / Sinetron

#FTV: HERS

image

Suara angin menerpa daun yang saling bersahutan membuat irama yang begitu alami, dua orang sejoli yang menghabiskan waktunya duduk di bawah pohon besar dengan gitar yang sedari tadi berada di pangkuan laki-laki dan perempuan yang berada di sampingnya yang terus memautkan mata ke arah layar Notebook-nya.

“Terajana, terajana, inilah lagunya.. untuk narena..” suaranya bersahutan dengan permainan gitarnya yang membuat perempuan berada di sampingnya menggerutu.

“Kamu ngancurin lirik lagu orang, untung suara kamu bagus Kay.” Rena mendorong bahu Kay yang membuat Kay semakin gemas dengan perempuan yang ada disampingnya yang tidak bukan adalah kekasihnya sendiri.

“Kamu selalu pintar muji aku. Gimana tugasnya udah selesai?” Kay menaruh gitarnya disamping dirinya dan menyandarkan kepalanya diatas bahu kiri Rena ikut memperhatikan jendela microsoft words di layar Notebook tersebut.

“Sebentar lagi, kamu gak mau belikan aku makanan Kay? Aku lapar.” Rena mulai mengeluhkan suara perutnya yang sedari tadi minta di isi makanan.

“Aku juga lapar. Bawa aja laptopnya sekalian cari tempat makan.” Ucap Kay dengan jari telunjuknya mengarah kepipi perempuannya yang menggembul membuatnya gemas langsung menekannya kuat.

“Rayn Wikaya!” Rena menggerutu sebal dengan bola matanya yang berwarna hitam pekat semakin membesar ketika dia melototkan matanya.

“Burung hantu. Ah lucunya.” Kay terus saja menggoda Rena dan Rena sudah tau betul sifat Kay yang sangat senang menjahilinya. Dia menutup layar Notebook-nya dan bergerak memasukan kedalam ranselnya.

“Liat muka kamu tuh, udah jadi kayak gorengan.” Ucap Rena ketika mendapati tisu bekas di dalam saku ransel dan melemparkannya kearah wajah Kay.

“Sialan. Mentang-mentang muka kamu gak berminyak.” Mereka berdua berdiri dari duduk. “Tapi aku pernah baca artikel, kalau muka berminyak itu tandanya awet muda.” Lanjutnya.

Rena mendelik kearah Kay. “Yakali, muka kamu old face gitu. Awet muda dari mana.”

“Kamu bercanda mulu, udah jelas biasanya suka cemburu gitu kalau iyem deketin aku. Ditambah lagi cewek-cewek di sekolah masih banyak suka ngecengin aku. Berarti aku ganteng.” Kay meletakan lengannya melingkupi bahu Rena membawanya lebih dekat.

“Jadi kamu senang gitu di deketin cewek di sekolah? Yaudah sana, gak usah deket aku lagi.”

“Ngambekan banget. Sini peluk dulu.” Kay mencoba mendekatkan dirinya pada Rena, tetapi Rena langsung menjauh dari jangkauan Kay.

“Biarin. Buruan ih, aku lapar banget. Udah lemes gini juga malah di ajak bercanda.” Rena berbicara dengan nada ketus, Kay mengikuti langkah Rena yang sekarang memasuki salah satu dari jejeran rumah makan.

“Sayang kok gitu, iyadeh aku minta maaf.” Kay mensejajarkan langkahnya dengan Rena, namun Rena hanya mendiamkan Kay yang membuat dia serba salah.

“Sayang jangan diemin aku dong.” Ucap Kay mencoba membuat Rena berbicara kembali, belum selesai berbicara salah satu pelayan menghampiri mereka yang membuat Kay membalas senyum pelayan yang mengantarkan buku menu.

“Kamu pesan apa?” Baru saja Kay bertanya, menu makanan yang tadi ada ditangannya langsung direbut oleh Rena yang dibalas helaan nafas oleh Kay.

“Mbak, saya pesan nasi campurnya sama es jeruk ya. Sayang kamu pesan apa?” Tanya Rena menatap ke arah Kay dan kontan membuat Kay tersenyum senang.

“Samain aja kayak kamu.” Kay menyebutkan kembali pesanan mereka tadi ke pelayan sebelum dia pergi.

“Kamu udah gak marah sama aku lagikan?” Tanya Kay yang dibalas delikan oleh Rena.

“Yang marah sama kamu siapa?” Rena mengernyitkan dahinya.

“Aku kira kamu marah makanya diemin aku.” Kay meraih tangan Rena yang ada diatas meja.

“Aku lapar bukan marah.” Ucap Rena yang membuat Kay tertawa renyah. “Itu juga apa-apaan senyum sok manis gitu ke mbak-mbak tadi.” Lanjut Rena yang dibalas seringaian oleh Kay.

“Yaampun sayang, udahan dong jangan ngambek. Senyum itu ibadah loh, ohiya kemarin aku ketempat bebek goreng langganan kita loh. Udah lama ya kita gak kesana.” Ucap Kay mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kamu kenapa gak ngajak aku sih? Kamu sama siapa kesana?”

“Malam ini kita bisa kesana bareng, oke?” Rena memanyunkan bibirnya lalu dia teringat akan sesuatu yang kontan membuat dia tertawa yang membuat Kay bingung.

“Aku ingat kejadian pas kamu nembak aku dulu.” Rena sukses membuat wajah Kay memerah namun senyum tak lepas juga dari bibirnya.

“Itu kesalahan banget dan konyol banget sumpah.” Rena tak kunjung berhenti tertawa setelah melihat wajah Kay yang memerah dan memanyunkan bibirnya membuatnya bertambah lucu. Setelah Kay meremas tangan Rena dan mendelik kearah beberapa pengunjung melirik mereka, barulah Rena sadar dan mencoba menghentikan suara tawanya.

“Ohiya, emang kamu sama siapa kesana kok gak ngajak aku?” Tanya Rena dengan menyelidik yang membuat Kay menusuk salah satu pipi Rena yang walaupun Kay sadar Rena tidak memilik lesung pipi.

“Curigaan amat, sama tante aku.” Ucap Kay tapi kali ini dengan pandangan serius yang membuat Rena mengerti dengan pandangan itu dan menunggu Kay melanjutkan omongannya.

“Besok sampai seminggu kedepan aku pergi ke Pontianak.” Rena masih menatap Kay bingung.

“Pontianak? Dimana? Ngapain? Kok mendadak?”

“Nanya satu-satu dong sayang, kita makan dulu oke? Nanti aku ceritain.” Ucap Kay ketika makanan mereka datang siap di santap.

“Jadi? Kenapa mendadak?” Tanya Rena ketika selesai mengunyah makanan.

“Gak sabaran banget.” Ucap Kay setelah meneguk minumannya.

“Ada masalah keluarga, aku gak bisa ngasih tau sekarang. Tapi aku janji bakal cerita ke kamu.” Ucap Kay memberikan senyumannya yang membuat Rena menganggukan kepalanya, karna dia sadar betul jika bersangkut dengan masalah keluarga dia tidak akan bertanya banyak, hanya sekedarnya saja karna itu belum menjadi haknya.

“Jam berapa berangkatnya?”

“Sekitar jam 10 pagi.” Ucap Kay yang dibalas helaan nafas oleh Rena.

“Aku gak bisa nganterin dong, kan sekolah.”

“Gak usah manyun gitu, emang cantik?” Ucap Kay yang ikut memanyunkan bibirnya dengan kernyitan di hidung.

“Kamu juga emang ganteng gitu? Aku aja malas sama kamu.” Ucap Rena lalu menjulurkan lidahnya.

“Yaudah kalau kamu malas sama aku, banyak kok yang mau sama aku.” Ucap Kay yang langsung mendapatkan pelototan mata dari Rena.

“Tau ah kamu nyebelin.” Rena membuang arah pandangannya dan langsung membinarkan matanya ketika melihat cowok berperawakan tinggi dengan hidungnya yang mancung dan memiliki wajah di atas rata-rata memasuki rumah makan yang sama dengan mereka. “Kay, ganteng banget. Pasti blasteran, sendirian lagi.” Ucap Rena masih memperhatikan cowok tanpa melihat kearah Kay yang sekarang menatap sebal kearah Rena.

“Sayang, masih ada aku.” Ucap Kay mencoba mengalihkan pandangan Rena tadi kembali kearahnya tapi tidak berhasil. “Iyaiya kamu cantik, aku gak bakal mau sama yang lain kok. Akukan udah ada kamu.”

“Apa aku samperin aja ya Kay? Ganteng-ganteng kok sendirian.” Ucap Rena baru saja ingin berdiri namun langsung ditahan oleh Kay.

“Rena, aku minta maaf oke?” Rena senang ketika Kay menghentikan pergerakannya, dia ingin sekali bisa melihat Kay cemburu tetapi Kay selalu bisa buat nutupinnya, Rena juga sangat ingin mendapati Kay memarahinya tetapi Kay selalu bisa mengendalikan emosinya. Yang membuat otak Rena selalu berfikir keras untuk bisa membuat Kay cemburu dan juga memarahinya.

“Kita pulang? Sekarang udah jam 3, aku mesti ngantarin kamu, kalau mau ajak kamu jalan lagi nanti malam.” Rena menganggukan kepalanya, dia tau betul jika orang tuanya sudah kenal akrab dengan Kay dan orang tua Rena bisa menerima Kay dengan baik karna sikapnya yang sangat sopan.

***

Ini sudah hari ke empat Kay pergi kesalah satu kota yang berada di Kalimantan dan Rena menatap kearah layar ponselnya berulang kali berharap Kay segera menghubunginya karna terakhir kali Kay menghubunginya ialah ketika dia sudah sampai mendarat di Pontianak.

“Err..” Rena mengangkat kepalanya ketika dia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya, Rena terdiam untuk mencerna otaknya ketika melihat siapa yang berada didepannya dan tidak dengan jantungnya yang berubah menjadi berdebar.

“Ba..mi?” Ucap Rena terbata masih mencerna, karna dia sudah lebih dari 2 tahun tidak bertemu dengan sosok yang ada di hadapannya terhitung dari kelulusan ia masih menggunakan seragam putih-biru.

“Eh, lo tau dari mana nama gue?” Tanya Bami dengan kernyitan yang ada di dahinya.

“Ah nggak. Gue mungkin salah orang.” Ucap Rena berdiri dari kursinya lalu membayar bill. Rena menggelengkan kepalanya terus mengatakan bahwa yang dia lihat tadi bukanlah orang yang dulu, dia berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan otak dan jantungnya yang terus bekerja.

“Cukup. Itu bukan dia, itu cuma halusinasi. Sialan. Gue gak pernah berharap bakal ketemu dia lagi.” Rena menggerutu sepanjang jalan dengan kakinya yang sudah membawanya ke salah satu jalan trotoar dekat dengan taman kota.

“Tapi kalau beneran dia, apa iya dia gak ingat gue? Iyalah. Gue dulu cuma cewek jelek juga agresif, dan suka fangirl dengan suara cempreng gue.” Untuk kesekian kalinya Rena menggerutu dan untuk kesekian kalinya dia di buat penasaran.

“Hei.” Rena menolehkan kepalanya ketika seseorang berhasil menepuk pundaknya, dan membulatkan matanya ketika orang itu benar-benar ada.

“Gue Arbami. Oh sorry gue ngikutin lo, tapi gue penasaran, lo tau dari mana kalau nama gue Bami?” Ucap Bami menaikan salah satu alisnya, sedangkan Rena mencoba menetralkan jantungnya karna ia bingung sekarang harus mengeluarkan kalimat apa yang pantas.

“Hai, gue Re..na?” Ucap Rena terbata ketika ia menyebutkan namanya.

“Rena?” Ulang Bami yang menyadari ke gugupan darinya. “Santai aja kali, lo kek ngeliat apaan. Tapi lo banyak berubah ya?” Lanjut Bami yang membuat Rena tersenyum sinis setelah meyakinkan otaknya bahwa ia harus terlihat kuat bukan seperti dulu ia yang rela menjadi bahan ejekan teman satu sekolahnya.

“Gue kira lo udah lupa, mengingat gimana dulu.” Ucap Rena dengan memberikan pergerakan pada tangannya.

“Gak enak banget kita ngomong berdiri begini, ayo cari tempat.” Bami langsung meraih pergelangan tangan Rena, sedangkan Rena masih berdiam pada tempatnya dengan mata tertuju kearah jari-jari Bami yang melingkar di pergelang tangannya.

“Ayo Rena.” Rena menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah Bami, ia tidak tau apakah sekarang harus senang apa sedih atau dia harus marah? Pada faktanya Rena tidak tau harus berbuat apa. Setelah Bami dan Rena berhasil memasuki sebuah cafe dan duduk saling berhadapan membuat Rena tersenyum canggung.

“Gimana kabar lo?” Tanya Bami membuat Rena menganggukan kepalanya yakin ketika dia sudah mencoba mendominasikan otaknya kalau dia tidak boleh terlihat memalukan dengan gaya gagu.

“Seperti yang lo liat, gue baik dan gue gak mau repot-repot nanya balik karna gue bisa ngeliat.” Ucap Rena dengan sarkastiknya.

Bami tersenyum miring memaklumi sikap Rena. “Gue minta maaf sama kelakuan gue dulu.” Ucap Bami masih dengan memperhatikan Rena lekat. “Dulu gue kekanakan banget dan buat masa-masa lo dulu semacam di neraka? ugh.” Lanjut Bami.

Rena berusaha tersenyum, namun yang ia tunjukan ialah senyum kesinisan. “Lo emang harus minta maaf. Dan lo buat gue ngerasa orang yang paling nggak di inginkan pada saat itu.”

Bami tersenyum menganggukan kepalanya. “Gue cuma terhasut sama omongan temen waktu itu, tapi serius gue minta maaf. Namanya juga masih bocah.”

“Yaudah.” Ucap Rena yang membuat Bami mengangkat salah satu alisnya namun setelah itu dia tersenyum maklum.

“Lo lagi nungguin seseorang atau gimana?” Tanya Bami ketika dia beberapa kali mendapati Rena menatap ke layar ponselnya. Rena tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Oh oke.” Rena terdiam tidak tau apa yang harus dikatakannya lagi. “Setelah ini lo mau kemana?” Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Bami.

“Pulang mungkin, tapi sebelumnya gue mesti ke gramedia.”

“Bareng yuk, kebetulan adek gue titip novel juga.”

“Boleh.” Ucap Rena karna tidak enak untuk menolaknya, setelah mereka berbasa-basi sebentar barulah mereka berdua keluar dari cafe dan menunggu taxi yang sudah di pesan terlebih dahulu oleh Bami. Selama berada di dalam taxi hanya sebuah kecanggungan tanpa ada berniat satupun dari mereka untuk bersuara ataupun melontarkan pertanyaan, hingga mereka memasuki gramedia ke barisan novel.

“Ini novel yang gue tunggu, akhirnya!” Ucap Rena dengan berbinar ketika mendapatkan novel yang sudah dia tunggu, karna di percetakan pertama dia kehabisan. Dia bersyukur karna novel London Love Story, karya Tisa TS bisa terbit lagi dan dia sudah antusias menandai kalendernya.

“Emang cerita tentang apa? Kok lo antusias banget.” Tanya Bami yang sedari tadi mereka beriringan.

“Lo mesti baca Bam, ini keren banget sumpah. Sekilas baca Sinopsisnya aja udah menarik banget. Apalagi setiap karakternya itu dapet banget, gue benar-benar terserang hangover book padahal cuma baca sekilas dari review.”

“Bentar deh.” Bami membuka layar ponselnya melihat isi dari pesan adik perempuannya.

“London Love Story, karya Tisa TS.” Bami membaca pesan dari adiknya membuat Jana mengernyitkan dahinya.

“Ah! Ternyata adek gue titip novel ini juga.”

“Serius? Wah, gue mau cepat-cepat pulang dan baca.” Bami tertawa renyah ketika mendengar suara antusiasnya Rena. Mereka berdua beriringan kearah kasir.

“Gue naik angkot aja deh Bam, rumah gue gak jauh dari sini.” Rena langsung melontarkan ketika dia tau bahwa Bami mengajaknya bersama.

“Minta nomor hape lo dong, Ren.” Suara Bami lebih terdengar memaksa yang mau tidak mau Rena menyebutkan nomor hapenya.

***

Hari ini hari senin, tentunya Rena harus kembali ke sekolah dan akan menjalankan upacara seperti biasa.

“Kalo di fikir fikir Bami yang sekarang baik juga ya, cocok di jadiin sahabat.” Ucap Rena di depan cermin sembari membenarkan rambutnya.

“Besok pas jalan bareng coba ga jutek jutek sama dia ah” lanjut Rena seraya terkekeh.

“Selesai” senyum Rena mengembang ketika ia sudah selesai memakai sedikit bedak di wajahnya dan mempoles lip balm di bibir tipisnya.

Dengan semangat Rena langkah kan kakinya keluar rumah untuk ke sekolah. walaupun hari ini Kay tidak menjemputnya seperti biasa dan sudah Rena yakin kan bahwa Kay hari ini tidak akan sekolah lagi hari ini.

Kini Rena sudah berada di depan kelasnya. Langkah Rena terhenti ketika melihat kelas XI Bahasa II sangat berisik, rasa penasaran itu seketika muncul membuat Rena semakin kepo dengan langkah pelan Rena langkahkan kakinya ke arah kerumunan yang mungkin hanya berjarak sepuluh langkah dari tempat Rena berdiri tadi.

“Oit … Oi.” Rena mencolek colek bahu Vanka karena penasaran, tapi Vanka masih saja mengacuhkan Rena.

“Oi, Van. Ada apaan sih?” Rena sedikit berjinjit karena rasa penasaran tak kunjung reda, dan ia juga berusaha mencari cela untuk melihat siapa dalang di balik semua ini.

“Eerr…”

“Susah banget sih mau liat doang, mana pada ngacangin lagi.” Rena mengerucutkan bibirnya membuat Vanka menarik bibir perempuan itu pelan seraya terkekeh.

“Kenapa sih, Ren?” Vanka menarik paksa Rena untuk keluar dari kerumunan cewek cewek itu.

“Kepo? Terus gak ada yang kasi tau?” panka menaikkan satu alisnya

“Iya, ada apaan sih emangnya?” Rena masih sama seperti tadi, penasaran dan bingung.

“Ada anak baru, namanya Arbami Yasiz. Pindahan dari Kalimantan.” jelas Vanka

‘Kok bisa pindah ke sini sih’ Rena mengoceh pada dirinya sendiri, karena bagaimana pun Bami tetap first lovenya walaupun bukan first boyfriend tapi tetap saja Rena masih merasa canggung.

“Woi, Ren. Gue ngomong kali. Bukannya dengerin malah bengong.” Vanka membuyarkan lamunan Rena yang sedari tadi memikirkan Bami.

“Jadi … dia sekelas sama lu?” tanya Rena ragu ragu.

Vanka mengangguk setuju. “Emangnya kenapa? Lo kenal?”

“Eengg … Engga kenal.” Rena memamerkan deretan giginya, baru saja Vanka ingin menunjukkan cara agar Rena bisa jujur namun sudah keburu bel masuk berbunyi.

“Ren, gue ke kelas dulu yak.” tangan Vanka terangkat sepipi lalu tangannya mekar membuat lambaian lembut di jari jarinya, Rena pun tersenyum dan membalasnya seraya kembali juga ke kelasnya.

Rena tidak fokus mendengarkan Bu Ceri yang sedang menjelaskan materi pelajaran tentang obligasi, neraca saldo dan segala macamnya. Sedari tadi Rena terlihat gelisah dua jam pelajaran sudah berpuluh puluh kali Ia berganti posisi membuat Lala risih dan merasa terganggu akibat perubahan gerak Rena.

“Ren, bisa diem gak sih?” tanya Lala. Namun Rena tak bergeming karena kali ini posisi wajah Rena membelakangi Lala.

“Hm apa lo mau di marahin Bu Ceri?” lanjutnya bertanya. Rena tetap tak bergeming membuat Lala mengumpat kesal.

Kriinnggg…kringg….

Rena terbangun akibat bunyi bel yang menandakan waktu istriahat sudah tiba, dengan sigap Rena membereskan barang barangnya di atas meja dan langsung beranjak dari tempat duduknya.

“Rena, lo mau kemana?” Lala menahan pergelangan tangan Rena membuat langkah perempuan itu terhenti.

“Mau ke toilet, abis itu mau ke kantin. Laper.”

“Jadi lo gelisah dari tadi karena laper?” tanya Lala tak percaya.

“If you know, he come back.”

“Siapa?” Lala semakin bingung karena perubahan sikap Rena sejak tadi.

“Apa lo belum liat siapa anak baru di kelas Bahasa II?” Rena menyerekitkan jidatnya ketika Lala menggelengkan kepala seraya memamerkan cengiran khasnya.

“Nanti lo bakal tau, ayo ke kantin.” Rena menarik pergelangan tangan Lala pelan.

Baru saja Rena dan Lala duduk di bangku kantin, mereka di kagetkan dengan datangnya Bami.

“Loh, Rena sekolah di sini juga?” Bami menatap Rena dengan tatapan tak percaya.

“Bami lagi?” Rena memutar bola matanya malas seraya menyeruput minuman yang ia beli tadi.

“Arr…bami?” Lala terlihat sangat terkejut dengan di sogokkannya lelaki yang bernama Bami ini di hadapannya.

“Lala? Apa kabar?” Bami tertawa kecil ketika melihat Lala, dan secepat itu pula Bami langsung mengabaikan Rena.

“Ya, gue baik sih. Lo kok bisa sekolah di sini?” tanya Lala penasaran.

“Ceritanya panjang, gue males kalo harus cerita. Yang jelas gue kangen lu, kangen Rena juga.” Bami tersenyum tipis menatap Lala bergantian menatap Rena.

“Giliran sama gue, nanya ‘tau dari mana nama gue?’ alah Bami.” cecar Rena

“Sorry Ren, soalnya lo banyak berubah gue aja pangling pas liat lu.” Bami menebarkan deretan giginya dengan menggaruk leher yang sudah dipastikan tidak gatal.

“Iya gue tau gue tambah cantik, lebih modis. Dan lo sekarang pasti demen kan sama gue?” ledek Rena, Bami hanya bisa terdiam seribu bahasa seperti pembeku sedang menghantamnya saat ini.

“Bam, bener kan? Buktinya lu diem.” Rena kembali meledek Bami.

“Udah Ren, kasian kalau di gituin nanti yang ada malah sakit hati doi lu udah punya pacar.” Kekeh Lala.

Suasana diantara mereka bertiga sungguh terasa canggung, hanya karena Lala yang berbicara seperti itu semuanya menjadi sibuk dengan fikirannya masing masing sampai bel masuk berbunyi membuat keheningan diantara mereka buyar seketika.

“Gue ke kelas dulu yo, daah.” Bami pamit terlebih dahulu. Rena dan Lala hanya mengangguk mengerti.

Rasa penasaran masih menyelimuti fikiran Bami saat ini, siapa sebenarnya doi Rena. Apa yang dikatakan Lala tadi itu benar atau tidak.

Bami meraih ponsel yang berada di saku celana hitam sekolahnya hanya sekedar untuk mengirim pesan singkat untuk Rena.

[Pesan]
Ren, siapa pacar lu?
Apa anak sekolah sini juga?

Bami menghela nafasnya panjang setelah mengirimkan pesan itu, tanpa menunggu balasan dari Rena. Lelaki itu langsung melanjutkan langkahnya untuk menuju kelas.

Sementara Rena yang mendapat pesan itu merasa kaget, ini semua karena Lala.

“Lo sih bilang gue punya doi, si Bami jadi nanya kan!” oceh Rena.

“Yaudah sih jawab aja yang jujur, dari pada nanti lo sama Bami deket terus si Baminya ke baperan abis itu nembak lo lalu Kay tau abis lo.” balas Lala tak kalah lebih panjang dari ocehan Rena.

“Ish, iya deh iya.” Rena mengembungkan pipinya

“Gak usah di kembung-kembungin itu pipi, Ren. Lo engga tembem kayak gue.” cengir Lala

“Udah gak usah ngoceh, bales aja tuh sms.” lanjut Lala.

Rena menghela nafas malas setelah menatap tajam Lala dengan kekesal.

[Pesan]
Iya, anak kelas 12 MIA 4.

Bami baru saja duduk di bangkunya dengan ponsel masih di tangannya.

“Lama banget dah di balesnya” gerutu Bami yang sesekali menatap layar ponselnya.

Twing…

Ponsel Bami berbunyi menandakan ada notifikasi.

“Untung Rena, buka OA line.” helaan nafas Bami terasa berat ketika ia membaca pesan dari Rena.

[Pesan]
Hmm, yaudah deh.
Tapi malem ini lo bisa kan jalan sama gue?
Kalo bisa bales ya.
Nanti gue tungguin lu di cafe kemarin kita ketemu.

Rena memutar otaknya ketika mendapat pesan bahwa Bami mengajaknya seperti berkencan secara tak langsung.

“Gue harus jawab apa ya.” Rena terlihat sangat sibuk dengan pemikirannya sendiri.

“Jawab aja iya, percuma kalo lo nolak nanti ujung ujungnya nyesel.” Lala membuyarkan lamunan Rena.

“Eehh, kok lu tau sih?”

“Cenanyang, udah buruan jawab sebelum gue yang ngejawab.”

[Pesan]
Iya, bisa kok.

Rena masih terasa gelisah, Rena takut jika perasaan itu kembali muncul walaupun Rena tau bahwa Bami hanya seperti mempermainkannya.

Bami tersenyum ketika mendapatkan pesan dari Rena yang menyatakan bahwa perempuan itu bisa menemaninya malam ini.

***

Rena sudah berada di cafe tempat kemarin dirinya bertemu Bami. Kurang lebih lima belas menit Rena habiskan waktunya hanya untuk menunggu kedatangan seorang Bami.

“Maaf telat,” Suara itu sudah Rena kenal. Itu suara Bami, sontak membuat Rena memaling ‘kan wajahnya.

“Tadi ada masalah keluarga sebentar” Lanjut Bami seraya menarik kursi di depan Rena untuk dirinya duduk.

Rena tersenyum. “Ngapain lo ngajak gue kesini?” tanya Rena to the point.

“Cuma pengen kenal lo lebih aja kayak dulu.”

“Tapi gue ga bisa tuh, maaf.” Setelah berkata seperti itu Rena langsung bangun dari duduknya untuk pergi dari hadapan Bami.

Tapi gerakan Rena kalah cepat, kini pergelangan tangan Rena sudah di genggam erat dengan Bami. “Tenang, Ren. Gue gak akan nge phoin elo sama pacar lo kali, kita cuma temen dan gue janji gak akan lebih.” Bami terlebih dahulu berbicara sebelum Rena kembali meronta dan memarahinya.

“Ih apaan sih! Emang gue ada bilang kalo lo bakalan ngerusak semuanya?” tanya Rena starkatis membuat Bami terdiam dan genggaman itu merenggang memberi Rena cela untuk pergi.

“Gue cuma gak mau hati gue kembali jadi milik lo. Bukan buat Kay, walau pun gue tau sekarang Kay gak ada kabar tapi tetep aja gue harus jaga hati gue buat dia.” Lirih Rena melangkah keluar cafe dengan wajah sendunya.

Setelah acara penolakan Rena untuk lebih dekat dengannya kemarin, hari ini kembali ingin mencoba mendekati Rena kembali sampai perempuan itu benar benar mau bersahabat dengannya.

“Bener, gue harus samperin dia lagi dan gue yakin dia gak akan nolak lagi kayak kemarin malem.” Bami merasa semangat melangkah ‘kan kakinya ke arah kantin, yang sudah ia pastikan dua wanita itu – Rena dan Lala berada di sana.

“Gue ngerasa belahan jiwa lo on the way kesini Ren. Siap siap ya.” Lala berbicara dengan nada serius dan wajah yang flat membuat Rena berdecak sebal karena perempuan itu, aneh.

“Ren, liat ke belakang deh.” Perintah Lala. Namun Rena terlihat acuh karena ia sibuk menatap layar ponselnya menunggu kabar sang pujaan hatinya – Rayn Wikaya.

“Rena, lo denger ga sih? Liat ke belakang gue bilang juga.” Lala memutar bola matanya malas

“Apaan sih, La.” Rena memaling ‘kan wajahnya ke arah belakang mata Rena dan Bami bertemu kini jarak bami dan Rena hanya terhitung 3 langkah. Jika satu kali saja Bami melakukan langkah besar maka ia akan bersitatap dengan Rena.

“Oh masih ada kah cinta yang abadi menyatukan dua hati saling isi, daun pun menari alam bersaksi se indah musih cerry.” Nyanyian itu membuat Bami dan Rena tersadar dari tatapan intens tersebut.

“Udah sih Ren, lo gak bisa bohongin hati lo sendiri kalo sebenernya lo pengen deketan sama Bami terus terusan.” Lala terkekeh

“Cie yang terus terusan kepikiran.” Lanjut Maruk secara tiba tiba yang entah dari mana datangnya.

“Korban iklan dasar.” Lala menoyor pelan kepala Maruk.

Maruk melotot membuat Lala tertawa bukan malah takut. “Mata lo ga se gede Rena, ya mana mungkin gue takut.” kekeh Lala

“Ih ga sopan lo ya sama neneknya Tapasya.” Decak Maruk kesal.

“Kesian bego Ichcha meninggal, udah nonton belum ruk?” tanya Vanka yang sama seperti Maruk, datang secara tiba tiba.

“Lah serius lo?” tanya Maruk kembali

“Iya sumpah dah, buka youtube deh kalo gak percaya.” dua insan yang mengganggu tadi sibuk dengan ponselnya untuk menonton uttaran.

Lala kesal karena ke dua temannya yang itu sering sekali membahas cerita sinetron uttaran, sinetron dari India yang tayang di Indonesia sampai satu hari 4 jam. Sedangkan Bami dan Rena masih kembali bersitatap sampai bel masuk yang menyadarkan mereka- semua murid.

***

Keberuntungan benar benar tidak berpihak pada Rena hari ini. Pertama ia bangun kesiangan, kedua ban mobilnya bocor, dan ketiga dengan terpaksa ia harus naik angkutan umum dan berdesakan di dalam bus dan ia pastikan ia akan terlambat hari ini.

“Ah kenapa si pagi ini gue ketiban sial zzz” keluh Rena dengan berlari kecil kearah gerbang sekolahnya.

“Nadya Arena Pramudita?” tanya bu Ceri, guru yang sedang bertugas piket hari itu

“I-iya bu, saya.” Rena menaikkan tangan kanannya menandakan jika namanya yang di sebut.

“Kenapa bisa terlambat?” tanya bu Ceri dengan tegas dengan menatapnya intens.

“Inti dari semua permasalahan saya adalah saya terlambat karena sial bu.” Jawab Rena dengan tertunduk takut seraya menggigit kuku kuku jari tangannya.

“Tidak menerima alasan sial, Nadya!” bentak bu Ceri.

Rena menghela nafas. “Hm, saya telat karena kesiangan bu, kenapa bisa kesiangan? Karena orang tua saya lagi keluar kota, terus kebetulan pembantu saya pulang kampung dan … Sepulang sekolah kemarin—–”

Bu Ceri muak mendengarkan cerita Rena. “Ya sudah, ya sudah. Kamu kelas XI IPS 1 kan?”

“Iya bu.” Rena tersenyum di depan bu Ceri tapi hatinya bertolak belakang dengan raut wajahnya.

“Kamu ambil sapu di ruang belakang, tanya sama petugas sekolah dan bersihkan lapangan basket.” perintah bu Ceri.

Rena mengangguk patuh tanpa aba aba ia langsung meninggalkan tempat itu dan bergegas menjalani hukumannya.

Saat sedang asik menyapu Rena dikagetkan dengan bola yang mengenai kepalanya.

“Aduuh, sakit.” ringis Rena seraya mengelus kepalanya.

“Eh, sorry Ren. Lo gapapakan?” tanya Bami yang terlihat khawatir.

“Gapapa pala lu! Sakit nih kepala gue.” cibir Rena kesal masih dengan mengusap kepalanya yang terasa nyeri.

“Gue gak sengaja beneran.” ucap Bami dengan tampang memelasnya pada Rena

“Ah udah lu sana pergi, nge ganggu tau ga ada lo disini.” usir Rena seraya mendorong bokong Bami karena Bami masih setia berdiri di sampingnya.

“Ngapain masih disini sih? Udah diusir juga.” lanjut Rena kesal

“Lo gak mau gue temenin?” tanya Bami dengan menaik turunkan alisnya.

“Buat apa di temenin sama lo? mending bantuin gue nih nyapu.” Rena menyodorkan sapunya pada Bami.

“Dengan senang hati tuan putri.” Bami pun merampas sapu ditangan Rena, Rena terdiam sejenak melihat tingkah Bami lalu pergi berlalu meninggalkan Bami seorang diri di halaman sekolah.

“Bu saya sudah selesai, bisa ke kelas sekarang?” tanya Rena seraya mengambil tasnya.

“Silahkan.” Bu Ceri tersenyum. Rena pun bersalaman dan langsung kembali ke kelas.

“Ngapain sih Bami gangguin gue mulu dah.”

“Dulu aja nyia nyiain. Mampus kan lu dapet karma gue tambah cantik.”

“Ihhh sumpah nyebelin. Takut gagal move on setelah dua tahun lamanya.” Rena terus menggerutu sepanjang perjalanannya ke kelas.

“Capek ya?” ucap Bami yang tiba-tiba menyodor ‘kan minuman kaleng kepada Rena. Entah dari mana datangnya tiba tiba saja dia sudah berada di samping Rena.

“Aduh, lo lagi, males deh.” Keluh Rena tetap berjalan.

“Kenapa sih dimana mana tuh selalu ada lo semenjak hari pertama kita ketemu lagi?” tanya Rena kesal seraya mengelap peluh di jidat dan lehernya.

“Nih.” Bami menyodorkan tissue yang sengaja ia beli di kantin tadi.

“Ih lo tuh bisa ga si ga gangguin gue, hari gue sial lagi kan karna lo.” Cibir Rena asal.

“Sana gih jauh jauh.” Lanjut Rena.

“Nadya … nadya. Niat gue kan baik.” Bami bergeleng kepala

“Arbami. Lo bisa diem ga si? Berenti sok baik depan gue deh.” oceh Rena kembali berjalan.

“Gue ga bakalan berhenti Ren.” Bami tersenyum kepada Rena dengan memberikan minuman kaleng dan sapu tangan kepada Rena secara paksa.

“Hm, yaudah. ma-kasih.” ucap Rena dengan senyum paksa dan lanjut kembali berjalan ke arah kelasnya.

“Bami denger ga ya apa yang gue omelin tadi?” Ucap Rena gelisah setelah meninggal ‘kan Bami tadi.

Rena terlihat seperti berfikir. “Semoga aja ga denger, Aamiin.” Lanjut Rena.

“Rena lo dari mana aja?” tanya Lala ketika Rena baru saja memasukki kelas.

“Emonyet, kaget gue.” Rena mengelus dadanya karena Lala yang mengganggu acara melamunnya.

“Abisan kan di kelas tuh biasanya lo yang selalu dateng pertama.”

“Hehe, gue ketimpa sial pagi ini, La. dan gue dari lapangan abis di hukum sama Bu Ceri.” jelas Rena sambil merampas botol air minum yang di pegang Lala lalu meminumnya.

“Nyosor aja kaya ayam.” Cibir Lala kesal.

Dengan wajah imutnya Rena tersenyum. “Aus bro.” Rena langsung meneguk air itu hingga tetes terakhir.

“Rena, kok lo abisin sih?” Umpat Lala semakin kesal.

“Maaf La, gue aus. Nanti istirahat air lo, gue ganti, tenang aja.” Dengan senyum yang manis Rena kembalikan botol kosong itu kepada Lala. Lala hanya mampu berdecak sebal karena jika ia marah mereka akan bertengkar dan Lala sedang malas untuk bertengkar.

“Padahal ‘kan lu punya air tuh.” Lala menunjuk minuman kaleng yang sedang Rena pegang.

“Oh iya, ini buat lo aja.” Rena tersenyum tulus, tapi Lala tau pasti minuman itu dari Bami.

“Dari Bami kan airnya?” tanya Lala meyakin ‘kan.

Rena mengangguk. “Udah ah gausah bahas dia. Kesel sendiri gue.” perintah Rena, Lala hanya mengangguk paham.

***

Ini sudah hitungan hari ke tujuh Kay tidak menghubungi Rena dan sudah hari ke tiga pula Rena selalu bertemu Bami.

Rena hari ini benar-benar uring uringan karna memikirkan Kay yang sama sekali tidak menghubunginya dan Rena selalu meyakinkan dirinya bahwa di sana susah mendapatkan sinyal tapi Rena tidak yakin karna tempat yang di datangin Kay adalah daerah perkotaan yang sama sekali tidak sulit untuk mendapatkan Sinyal, Rena juga sibuk memikirkan ketika ia baper dengan setiap perlakuan Bami yang dia tidak ingin membawa perasaannya tapi dia tidak bisa karna perlakuan Bami yang begitu manis dan memaksa selalu membuatnya terenyah dan masuk ke dalamnya.

Twing…

Ponsel Rena berbunyi tanda ada Line yang masuk. Sebelum membuka pesan itu Rena berdoa terlebih dahulu berharap jika yang mengeline dia adalah Kay.

“YaAllah semoga Kay yaAllah semoga Kay, saya kangen banget sama dia yaAllah saya mohon. Aamiin.” Rena langsung melihat notif di ponselnya, harapannya hancur begitu saja ketika ia tau siapa yang muncul di notifikasinya saat ini.

Arbami ysz.: Lagi sibuk ga nih? Jogging yok!

Rena mengumpat kesal karena yang mengeline dia adalah Bami.

“Ishh, males banget deh. Nanti malah flashback lagi.ew.” keluh Rena menatap layar ponselnya setelah membaca pesan Bami.

Twingg…

“Siapa lagi sih ah.” gerutu Rena seraya membuka notif siapa yang mengelinenya lagi.

Lala Lahfah: Sebelum lo tolak tuh ajakan Bami, gue harus Line lo dulu biar lo terima.

“Laahhh nih orang apa apaan sihh gak jelas banget deh.” Rena kembali mengeluh seraya menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.

S o r r y aja nih ya mbak bro, gue gak bisa. T I T I K!

Setelah mengetik itu Rena langsung mengirimnya kepada Lala lalu membalas line dari Bami.

Sorry, gue ga ada waktu buat ngurusin lo.

Setelah mengirim pesan itu Rena langsung menyimpan ponselnya di atas nakas dan meraih handuknya untuk segera mandi.

“Nadya.” Panggil Lala dengan nada suara yang agak meninggi.

“Arena.” Lanjut Vanka memanggil Rena, sama seperti Lala seraya mengetuk pintu rumah Rena.

“Prahudita.” Kini Maruk yang angkat bicara seraya memencet tombol bel rumah Rena dengan kasar.

Bami yang melihat itu hanya mampu tertawa renyah karena kelakuan teman temannya ini.

“Gue heran ya, kenapa Rena mau temenan sama kalian.” Bami terkekeh.

“Berisik ah lu.” Maruk masih fokus memencet bel rumah Rena.

“Denger ya Mr.Arbami Yasiz yang terhormat. Rena gak akan se modis ini kalo gak karena Vanka yang cantik ini.” Vanka tersenyum dengan super pedenya.

“Iya, bener tuh. Kalo gak ada Vanka si Rena bakalan jadi kayak si Lala tuh, gak bisa dandan.” Maruk menatap Lala sinis dengan kekehan tertahannya.

“Eh lo liat ya besok gue bakal dandan!” Lala membalas tatapan tajam Maruk.

“Udah, kok jadi malah berantem sih? Kan kita ke sini mau ngajakin Rena joging.” Ucap Bami menengah ‘kan.

“Tau nih lo berdua ribut mulu.” Lanjut Vanka masih dengan mengetuk pintu rumah Rena.

Karena Rena merasa terganggu karena suara suara cempreng yang memanggilnya ia dengan terpaksa harus menunda ritual mandinya. “Apaan si beri—-” Ucap Rena ketika membuka pintu.

“Kok berhenti ngomongnya? Lanjutin dong, jangan liatin gue kayak gitu.” Bami menaik ‘kan satu alisnya.

“Alhamdulillah ya Ren lo belum mandi, ayo joging.” ajak Maruk menarik paksa Rena keluar.

‘Untung aja gue bisa netralin jantung gue.’ ucap batin Rena masih dengan pandangan tak lepas dari Bami.

“Ren, kita tuh kesini mau ngajakin elu joging, buruan siap siap sana. 5 menit dari sekarang.” perintah maruk.

“Lo pada apaan apaan sih? lo lagi La tadi kan gue bilang gue gak-bisa.” Rena menatap tajam Lala yang sudah memamerkan deretan giginya seraya membentuk jarinya menjadi huruf V.

“Kita itu udah jauh jauh kesini dan lo mau ngusir kita?” sekarang Vanka yang angkat bicara.

“Udah woi udah. Ini udah mau jam 5 tapi kita masih aja stay disini, terus perginya jam berapa? Malem?” Bami kesal karena perempuan perempuan di hadapannya ini masih saja berdebat.

“Oke oke, gue siap siap dulu bentar.” Rena yang malas mendengar bacotan teman temannya akhirnya mengalah.

“Udah yuk.” ajak Rena setelah selesai siap siap.

“Gue gak bisa ikut Ren, soalnya si Eky nyuruh gue ke kostan-nya, biasa lah tuh anak pasti kangen sama gue.” ucap Vanka ketika semua ingin beranjak pergi.

“Lo serius Van? Aaaaaa please banget please gue ikut yaa.” Lala memasang puppy eyesnya.

“Oke oke gue ajak lo, tapi lo gak usah pasang muka kayak gitu lagi depan gue, gak cocok enek jadi pengen nendang lu ke zimbawbwe.”

“Yeess!!”

“Alay lo La sumpah dah.” cibir Maruk.

“Bodoamat ya, Ruk. Yang penting gue ketemu sama kak Eky” Lala memelet ke arah Maruk yang saat ini sedang memandangnya tak suka.

“Centil dasar, urusin tuh muka biar kak Eky demen sama lo.”

“Bodoamat, kak Eky pasti nerima gue apa adanya kok.”

“Yee pede banget lo teletubbies jadi jadian!”

“Apaan sih lo uttaran lovers!”

“Apa lo kutu beras.”

“Eh lo ga sopan banget ya sama rani peri!”

“Kayak nenek gerondong ngaku ngaku rani peri lu.”

“Bodoamat, dasar lo neneknya tapasya!”

“Lo beruk!”

“Itu nama lo keles Ina Beruka. Cocok!”

“Ihhhh lal—–”

“Lala, Maruk! Udahan ih. La cepetan ntar gue di marahin Eky lagi.” Vanka menghenti ‘kan aksi debat Lala dan Maruk yang tidak bisa diam.

“Dia duluan tuh!”

“Lo yang centil!”

“Ngaca lo juga centil sama Kay!”

“Eh apa apaan dah lu.”

“Apaan bawa bawa Kay?” tanya Rena.

“Engga Ren gue cuma bercanda aja.” Lala menyingnyir.

“Ren bentar emak gue nelfon.” ucap Maruk menjauh dari teman temannya.

“Yaudah Ren kalo gitu gue sama Lala cabut yah. Daah.” Vanka tersenyum seraya menarik Lala untuk cepat pergi.

“Daah Bam, daah Ren.” Lala melambaikan tangannya.

Rena hanya mampu tersenyum melihat kelakuan teman temannya.

Maruk baru saja selesai menerima telfon langsung kembali menghampiri Bami dan Rena.

“Bam, Ren. Sorry ya gue kagak bisa ikutan soalnya emak gue nelfon nih. Have fun ya lo berdua daahhhh.” Setelah berkata seperti itu Maruk langsung pergi tanpa menunggu komentar Rena.

“Woi Rukk, ih lo kok pergi sih belum juga gue ngomong.” Ucap Rena kesal sesekali menghentakkan kakinya ke tanah.

“Udah udah, maklumin aja sih. Ayo kita pergi sekarang nanti malah keburu magrib kalo lama lama disini.” ajak Bami berlari duluan.

“Ayo Ren kejer gue kalo bisa.”

“Ihh Bami kok lu ninggalin gue juga sih!!!” Rena yang terlihat semakin kesal langsung mengambil langkah seribu untuk mengejar bami.

“Ayo Ren cepet.”

“Bam, capek.” Rena berhenti sejenak seraya menghapus peluh di jidatnya dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan membuat Bami berhenti untuk menunggu Rena kembali mengejarnya.

“Payah lu Ren, baru segitu udah capek aja. Ayo lagi!” Bami duduk dan bersandar di salah satu pohon di dekat ia berhenti.

Melihat Bami yang sibuk mengipas dirinya menggunakan tangan membuat Rena langsung berlari meng hampirinya.

“Ini mah main kejar kejaran bukan joging wooo.” Rena kini sudah sampai tepat di hadapan Bami.

“Duduk sini.” Bami menepuk rerumputan yang ada di sebelahnya.

Rena yang mendengar perintah itu langsung duduk. “Aus nih Bam, gue cari minum dulu ya?”

“Bareng aja nanti, istirahat dulu bentaran.”

“Oke dehh” Rena tersenyum seraya menatap jalan.

“Banyak juga ya yang joging disini.” Ucap Rena masih dengan tatapan mata ke arah jalan.

“Ayo kita joging lagi.” Bami bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya ke arah Rena untuk membantu Rena berdiri.

“Ayo” Rena tersenyum memandang Bami seraya menerima uluran tangannya.

“Pelan pelan ya, awas aja kaya tadi gue capek.” Lanjut Rena setelah ia berdiri.

“Oke. Ladiesr first.” Bami memberi jalan untuk Rena.

Rena pun berlari pelan terlebih dahulu, di susuli Bami. Mereka terlihat bahagia dengan candaan yang mereka buat di sepanjang perjalanan.

***

Bami tadi memberitahu bahwa dia harus ke bandara untuk menjemput kakaknya.

“Kenapa harus kasi tau gue ya? Gue kan gak minta kasi tau. Lagian juga dari tadi gue sama dia gak ada kontak kontakan. Apa dia salah kirim ya?” Fikir Rena.

“Gue lagi mau pulang nih.” Begitulah isi pesan ke dua dari Bami yang baru saja masuk ke ponsel Rena, Rena kontan tersenyum karna dia merasa seakan di inginkan. Rena tau ini salah karna dia sudah memiliki Kay sebagai kekasihnya tetapi dia bukan orang yang naif ketika berhadapan dengan Bami yang akhir-akhir ini bisa masuk ke hidupnya.

“Lo gak mau kerumah gue dulu? Wkwk.” Rena membalas pesan dari Bami dengan senyum menghiasi bibirnya. Baru saja dia ingin duduk mengambil air ponselnya langsung menunjukan free call line.

“Gue boleh main kerumah lo dulu? Gue otw nih.” Rena gelagapan karna jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.

“Boleh, tapi lo izin sama mama gue ya? Line aja.”

“Oke.” Jawab Bami di sebrang sana, setelahnya mereka hanya berkirim pesan karna Mama nya Rena mengizinkan Bami main kerumah. Sepanjang perjalanan Bami kerumah Rena dia terus bertukar pesan, sedangkan kakaknya sudah ia suruh pulang duluan dengan supir. Sekalipun mereka saudara kandung Bami dan kakaknya hanya sekilas saja tidak akrab layaknya saudara pada umumnya.

Rena menunggu Bami diteras rumah, setelah ia melihat sebuah taxi berhenti didepan pagarnya entah bagaimana dia merasa malu sekarang dengan penampilannya hanya menggunakan piyama, ia lantas berdiri di sela pintu utama.

“Buru keluar deh, gue udah di depan.” Begitulah isi pesan yang tertera di layar ponsel Rena.

“Gue lagi di warung.” Begitulah pesan yang di kirimkan Rena membuat Bami menghampiri warung yang tidak jauh dari rumahnya, namun ia sudah memastikan bahwa disana tidak ada Rena.

“Lo ngerjain gue ya?” Rena tertawa lalu ia keluar kembali ke teras rumah menunggu Bami dan membalas pesannya.

“Gue baru nyampe rumah, Lo warung yang mana dah.” Balas Rena yang sedari tadi tersenyum geli.

“Halah.” Balas Bami bertepatan ia memasuki halaman rumah Rena menghampiri perempuan yang sedang duduk diteras dengan senyum geli.

“Gue kewarung tau gak, dari pada gue malu-maluin jadi gue beli ini.” Bami mengangkat sebuah kerupuk.

“Haha. Lo juga percaya aja, yaudah masuk yuk.” Ajak Rena berjalan membawa Bami menuju ruang tamu.

“Jadi lo habis jemput kakak lo dan langsung kerumah gue?” Tanya Rena yang di balas anggukan dari Bami.

“Terus kakak lo mana?”

“Gue suruh duluan sama supir.”

“Adik macam apa lo..sama aja kayak lo cuma nganterin supir doang buat dia.”

“Emang gitu.” Mimik wajah Bami langsung berubah masam, Rena tidak bertanya kenapa.

“Oh, gue mau cerita deh Bam.”

“Cerita aja kali, apa banget bilang dulu.” Ucap Bami membuat Rena memperlihatkan deretan giginya.

“Lo kenapa dah dulu senang banget kayaknya bully gue, emang gue jelek banget ya? Sampe lo gak suka banget sama gue.” Rena berdehem pelan karna secara tidak langsung dia menceritakan tentang dirinya juga.

“Gue awalnya biasa aja, terus lo kan dulu terobsesi banget ya sama gue? Ciyeee…yang terobsesi sama gue.” Bami menggoda Rena yang membuat wajah Rena langsung merah padam.

“Apaansih Bam, sumpah gue bego banget ya? Pas SMA ini gue merutuki diri gue mulu tau gak.” Rena memanyunkan bibirnya yang membuat Bami gemas dan meraih tangan Rena menumpukannya diatas pipi gumpal Rena.

“Haha, ingat Vino gak? Gue kan dulu akrab sama anak-anak dan Vino itu paling gencar ngejelekin lo ya terus karna dia tau lo suka sama gue yaudah Vino maksa gue buat lo malu.” Ucap Bami berkata jujur dengan nada tidak enak.

“Oh Vino, iya gue emang musuhan sama dia konyol banget ya. Namanya juga dulu masih bocah. Haha.” Omongan mereka terhenti ketika suara ponsel Bami membunyikan dering. Sedangkan Bami hanya melihat saja kearah layar tersebut lalu dia membuang pandang dengan wajah yang meneras dan tangan kanan nya masih meremas tangan Rena pelan.

“Itu dari Papa loh Bam, angkat deh.” Bami menghadap kearah Rena dan tersenyum masam, sudah ketiga kalinya nada dering ponsel Bami berbunyi dan berhenti sendiri.

“Bami, kalo ada masalah sama Papa diselesain baik-baik. Pelan-pelan ngomongnya pasti Papa ngerti dan lo juga gak ngerasa ke ganggu.” Bami akhirnya meraih ponselnya mengangkat dengan tangan Rena diremasnya kuat. Rena tersenyum maklum dan ikut mendengar pembicaraan anak dan ayah tersebut, mereka bersuara seakan sama-sama keras entah apa yang dikatakan Papanya membuat raut wajah Bami tegang menahan emosi baru saja Bami ingin melontarkan kata, Rena langsung memeluk Bami dan mengelus punggungnya pelan.

“Iya Pa, ini aku pulang.” Ucap Bami lalu ponselnya mati, dia membalas pelukan Rena menghembuskan nafasnya seakan lelah.

“Gue pulang dulu ya? Nanti gue free call.” Bami mengusap kepala Rena yang dibalas Rena anggukan kepala dan tersenyum menguatkan Bami. Setelah menemani Bami menunggu taxi pesanan Bami dia berbalik masuk kedalam rumah, langkahnya terhenti dan entah sejak kapan jantungnya berdegup dengan kencang.

“Ka…yy?” Orang yang disebut menatap datar kearah Rena dan tertawa hambar menghampiri Rena.

“Jadi ada hubungan apa kamu sama adik aku?” Keringan dingin langsung keluar dari tubuh Rena, dia tidak tau akan seperti ini. Dia seakan sedang bermain dan sudah masuk kedalam kobaran api.

“A..dik?” Rena berbicara terbata karna dia tidak mengerti dan mencoba mengerti tapi langsung ditepisnya.

“Iya. Arbami Yasiz yang baru saja kamu antarain kedepan, yang baru saja kamu peluk. Dia adik aku.” Ucap Kay dengan suara datarnya namun aura kemarahannya benar terasa membuat Rena bungkam karna perkataan Kay benar.

“Kamu kaget? Ha. Kalau kamu emang udah gak ada perasaan lagi sama aku, kenapa kita terus lanjutkan hubungan sialan ini?” Kay bersuara dengan nada sinisnya lalu dia berdeham. “Hmmm, gak bisa jawab Nadya Arena Prahudita?”

Rena tau sekarang Kay sedang marah, dulu Rena selalu ingin bisa membuat Kay cemburu sehingga membuatnya marah tapi bukan begini caranya. Dia hanya bisa terdiam karna dia tau ini sepenuhnya kesalahannya, jika saja ia tidak memberikan nomor ponsel, id linenya, berdekatan dengan Bami di sekolah dan menyuruhnya kerumah tadi Bami pasti tidak ada pertemuam lainnya yang membuatnya bermain di dalam api.

“Maaf.” Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Rena, ia menatap Kay dengan mata yang mulai berkaca. Tapi Kay langsung membuang pandang dan mengulum bibirnya.

“Aku bisa saja marah ketika melihat kamu menggoda pria lain tapi aku percaya kalau kamu udah netapin hati kamu ke aku. Tapi, ini beda Rena.. ini beda, Bami itu adik aku apa lagi setelah melihat kalian berpelukan, kamu mau jelasin sesuatu?” Kay berbicara masih dengan tenang tapi tersirat jelas terasa sekali kemarahannya.

“Aku sama Bami cuma temenan Kay, aku tadi cuma berusaha nenangin dia.” Ucap Rena pelan dia tidak sama sekali mengalihkan pandangan dari wajah Kay.

“Temenan? Kamu lucu tau gak. Bami itu adik aku, aku dan Bami adalah saudara dan semuanya begitu rumit. Terserah setelah ini kamu akan berpacaran dengan Bami, sebaiknya kita putus.” Ucap Kay meninggalkan Rena yang terdiam seribu bahasa, air matanya sudah mengalir dan terisak begitu kuat. Dia menangis merutuki dirinya yang hanya diam saja, dia menangis merutuki kenapa dia bisa memberikan perlakuan teman tapi dengan cara seperti tadi, dia menangis kenapa dia di pertemukan lagi dengan Bami, dia menangis kenapa Kay bisa datang kerumahnya tanpa sepengetahuannya, dia menangis kenapa Kay harus mengatakan kata putus…otaknya seakan ingin pecah ketika kata ‘putus’ keluar dari mulut Kay. Percuma. Percuma. Semuanya sudah berakhir.

***

Hari demi hari Rena lalui dengan senyum kecut karena tanpa sosok Kay di sampingnya tetapi ada Bami selalu ada di sampingnya.

“Hallo Nadya.” sapa Bami

“Please ya Bami lo tuh bisa ga sih jauh dari idup gue? lo ga bisa apa sedetik gak deket deket gue?” oceh Rena kesal. Bami menghembuskan nafasnya kasar karena Rena sama sekali tidak mau menggubrisnya beberapa hari terakhir ini.

“Rena, ke kantin gak?” tanya Lala.

“Ngga La males, lu aja” jawab Rena lemah.

“Lu kenapa sih? Suntuk mulu dari kemarin.” Tanya Lala.

“Iya, gue putus sama Kay gara gara Bami.”

“What?” Lala terlihat sangat terkejut.

“Kok sabi?” tanya Lala penasaran.

“Kemarin Bami kerumah gue ternyata si Kay juga kerumah gue, gue gatau kalo ada Kay dan pas itu gue meluk Bami cuma buat nenangin dia aja gitu karena emang kayaknya dia ada masalah. Eh si Kay cemburu marah marah ke gue pas si Bami udah pulang. Nah parahnya lagi nih ya Bami itu ternyata adik kandungnya Kay.” jelas Rena panjang lebar.

“Sumpah demi apa lo Ren? MasyaAllah. Rumit juga kisah cinta lo.” Lala terkekeh.

“Ih lo tuh ya, temen galau juga masih aja di bercandain!”

“Ya maaf deh bos. Biar lo gak bete gue traktir cilok deh.” Lala menarik tangan Rena untuk ke kantin.

“Eh seriusan emang Kay masuk rumah sakit?” Tanya Vanka ke pada Maruk.

“Sumpah demi Allah dah, kan lo tau sendiri gua ngefans banget sama Kay ya gue pasti tau lah apa pun tentang dia.” jelas Maruk.

“Artinya lo juga tau Kay adiknya Bami?” tanya Rena.

“Ren, Kay butuh lo sekarang.” Ucap Bami mengagetkan.
“Gue tau saat ini lo berdua masih sama sama sayang.”
“Gue harap dengan adanya lo di sisi Kay dia bisa sembuh.”
“Gue emang gak deket sama Kay tapi gue sayang sama Kay, dia kakak gue satu satunya.”
“Kita gak bisa milih dengan siapa kita mau bahagia, gue bahagia kalau orang orang yang gue sayangi bahagia.”
“Asal lo tau aja, semenjak kejadian itu Kay jadi benci sama gue, dia selalu ngehindar setiap gue ada di deket dia.”
“Sejak kejadian itu juga dia jadi gak bisa rawat dirinya sendiri makanya sampai kambuh.”
“Oh iya satu lagi, waktu dia Pontianak dan gak ngabarin lo itu karena bokap gue yang nyuruh dia buat gak pegang handphone selama di sana.”
“Jujur gue baru tau kemarin kalau dia pacar lo.”

“Bukan pacar, orang udah putus.” Potong Rena.

“Serius amat dah ceritanya, lagi dong. Ren gak usah di potong.” keluh Lala.

“Gak ada waktu buat bercanda, Lala.” cibir Rena.

“Gue gak bercanda Rena.” timpal Lala.

“Terserah lo ya La bodat gue gaped.” Ucap Rena

“Ayo Bam anterin gue ke rumah sakit tempat Kay di rawat.” Lanjut Rena.

Bami mengangguk setuju, mereka terpaksa membolos sekolah hari ini karena Rena sangat khawatir terhadap Kay. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hanya keheningan yang menjalar di mobil Bami.

“Kay!!!” teriak Rena berlari sangat kencang kearah rumah sakit. Bami baru saja selesai memarkir mobilnya tetapi Rena sudah pergi terlebih dahulu. Bami hanya mampu menggeleng ‘kan kepalanya.

“Kay, kok kamu bisa kambuh sih?”
“Kamu gak minum obat ya?”
“Kay, kamu denger aku kan?”
“Kay, jawab aku, aku mohon”

“Kay!!” teriak Rena frustasi
“Kay kamu kapan bangun?” tanya Rena menatap wajah pucat Kay.

“Kay aku udah disini loh, 4bulan lagi kamu ujian nasional kamu ngga mau bangun?” tanya Rena kembali.

“Kay, kok kamu ga pernah kasi tau aku soal penyakit kamu ini?” Rena hanya di gubris dengan alat pendeteksi jantung Kay.

“Kay, bangun. Kamu denger aku kan?” Rena menggenggam tangan Kay dengan lembut dan tulus.

“Kay, kamu jangan tinggalin aku ya, aku sayang banget sama kamu, walau pun aku tau kita udah putus.” oceh Rena dengar air mata yang sudah bergenang di kelopak matanya.

“Kay, aku sayang kamu aku gamau kehilangan kamu.” air mata yang Rena tahan kini sudah tak terbendung lagi, air mata itu menetes tepat di atas tangan Kay.

Lelah menangis berjam jam namun tak ada tanggapan juga dari Kay akhirnya Rena memutuskan untuk pulang karena besok ia harus bersekolah.

“Kay, hari sudah malam besok aku kesini lagi ya sepulang sekolah, kamu cepet bangun ya Kay.” Rena mengelus puncak kepala Kay pelan lalu menciumnya.

***

“Bami.” panggil Rena.

Suara handphone Bami berbunyi membuat lamunan mereka yang saling tatap itu terbuyarkan.

“Bentar ya Ren.” ucap Bami untuk mengangkat telpon tersebut.

“Hallo ma, ada apa?” tanya Bami.

“…”

Bami terdiam sejenak menteralkan detak jantungnya. “Iy … iya aku kesana sekarang ya. Assalamualaikum.” ucap Bami lirih.

“Bam, lo kenapa?” tanya Rena panik.

“Gue harus kerumah sakit sekarang Ren, maaf ya gue tinggal.” ucap Bami bergegas pergi.

“Bam,” ucap Rena menahan tangan Bami.

“Pasti ada hubungannya sama Kay kan? Kay kenapa?” tanya Rena.

“Kay … Kay meninggal Ren.” Bami langsung menghambur ke pelukan Rena, begitu pula Rena.

“Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Bam. Jangan buang buang waktu lagi.” ajak Rena.

Dengan kecepatan super ngebut Kini Bami dan Rena sudah berada di rumah sakit.

“Kayyy!!” Rena berlari kearah ruangan Kay dengan isak tangis.

“Kay, kamu kok cepet banget sih ninggalin aku? kamu gak sayang aku ya?” isak Rena dengan memukul mukul dada bidang Kay lalu memeluknya.

“Ren, tante di kasi ini sama Kay katanya suruh kasi ke Rena kalau ketemu.” ucap tante michi

“Makasih ya tan.” ucap Rena mengambil kaset tersebut lalu kembali memeluk Kay.

“Rena, udah ikhlasin aja sayang.” ucap tante michi mengelus pelan bokong Rena.

“Rena sayang Kay tan, kangen Kay.” isak Rena.

“Ren, mending kamu pulang tenangin diri kamu terus kamu liat isi dari kaset itu ya. Jangan nangis lagi.” perintah tante Michi, Rena mengangguk patuh karena mau bagaimana pun sekarang dia bukan lah siapa siapa Kay lagi.

“Tante, om, aku pulang dulu ya. Assalamualaikum.” ucap Rena menyalami kedua orang tua itu.

***

Rena sampai dirumah dengan di antar Bami, tanpa berpamitan Rena langsung turun dari mobil milik Bami.

‘Yang tabah ya, Ren. Gue yakin lo pasti kuat.’ ucap batin Bami menatap punggung Rena yang mulai menjauh dengan tatapan nanar.

Rena bergegas masuk kedalam rumahnya untuk segera memutar kaset tersebut.

Rena sudah memasukkan kaset tersebut ke dalam dvdnya. “Hallo Rena, aku ngerti kok pas kamu liat ini kamu pasti lagi nangis karna aku udah gak ada.” kekeh Kay.

“Kamu jangan nangis ya Ren, aku udah tenang kok disini.” lanjut Kay.

“Aku selalu ada kok dihati kamu, kamu jangan nakal ya.” ucap Kay lagi.

“Kamu janji ya harus bahagia tanpa aku dan gak akan ngecewain seseorang yang gantiin posisi aku.”

“Satu lagi, aku tau kamu masih deket sama Bami ‘kan? Bami itu suka sama kamu tolong kamu jangan sia siain dia, aku sayang kamu Ren.” ucap Kay kembali dan tersenyum untuk terakhir kalinya di video tersebut.

“Aku gak bakal lupain kamu Kay, apalagi kenangan kita. Suatu saat kalau aku udah nikah aku bakal kenalin anak aku sama kamu, aku mau kasi tau kalo kamu pacar pertama aku meski pun bukan cinta terakhir aku.” lirih Rena dengan memeluk figuran ia dan Kay.

“Sesuatu yang pergi di hidup kita belum tentu pergi di hati kita kan Kay? jadi kamu jangan takut aku lupain ya, i love u.” air mata itu Rena teteskan kembali dan tepat tertetes diatas figuran wajah Kay.

Dengan mata yang sembab Rena meraih ponselnya lalu mengirim pesan singkat kepada Bami

[Pesan]
Bam, maaf ya tadi aku gak pamit, makasih tumpangannya

Maz Bakmi.
Iya aku paham kok ren:)

Oke deh Bam, sekali lagi maaf ya.

Maz Bakmi.
Iya udah jangan minta maaf terus udah aku maafin kok.

Makasih ya bam.

Setelah membalas pesan itu Rena langsung tertidur diatas sofa.

***

Dua tahun berlalu, Rena dan Bami semakin dekat dan mereka mendaftar kuliah diuniversitas yang sama dan lolos bersama.

“Rena, kamu mau kan nungguin aku sampai sarjana tanpa ada status?” tanya Bami ragu.

“Aku bakalan nunggu kamu sampai kapan pun kok Bam.” ucap Rena tersenyum lembut

“Adem deh kalo liat kamu senyum.” kekeh Bami mencubit pipi Rena.

“Ih Bami sakit tau!!!!!” Rena menoyor kepala Bami lalu terkekeh pelan.

“Rena, kurang ajar ya kamu, dasar gembul” cibir Bami.

“Ih aku gak gembul tau dasar kamu tuh idung kembang” kekeh Rena berlari kearah kantin kampusnya.

“Woi Nadya Arena Yasiz tungguin dong” teriak Bami, Rena menghentikan langkahnya lalu tertawa pelan.

“Apa? Gak salah dengerkan aku?” kekeh Rena kembali ketika Bami sudah berada di hadapannya.

Bami menggeleng. “suka ya? cie suka” ledek Bami.

“Ih pede banget.” raut wajah dan nada bicara Rena langsung berubah begitu saja.

“Ah malu malu gitu.” ledek Bami lagi.

“Ih udah dong Bam.” Rena memanyunkan bibirnya.

“Ngapain manyun-manyun? mau dicium?” kekeh Bami.

“Ih kamu mesum” Rena menampar pelan wajah Bami, lalu berlari meninggalkan Bami begitu saja seraya tertawa pelan.

***

-Lima Tahun Kemudian-

Di tepi jalan Rena sibuk dengan memasuk ‘kan uangnya kedalam dompet. Lelaki berjaket dan menutupi mukanya dengan topi itu merampas dompet dari Rena lalu berlari pelan

“Copet….copeett….copeeett….” teriak Rena seraya mengejar lelaki itu hingga Rena dapat mengejar orang itu.

“Sini kembaliin dompet gue!” ketus Rena.

“Gamau ah, aku mau nunjukin sama orang orang kalo orang yang punya ktp ini calon istri aku.” kekeh Bami seraya membuka topinya.

“Idih kamu nihh.” Rena mencubit pinggang Bami.

“Aduh Ren sakit, jadi calon istri jangan galak galak napa.” ucap Bami kesakitan.

“Ih lamar aja belom, ngaku ngaku calon suami aku.” ucap Rena memeletkan lidahnya.

“Oh jadi kamu nantang aku?”

“Yaiyalah.” tawa Rena.

“Yaudah ayo kerumah kamu, aku lamar kamu sekarang juga.” ucap Bami menarik paksa Rena dengan kekehannya

“Ih apaan sih aku mau kuliah dulu.” Rena memberontak namun gagal.

“Ngapain kuliah lagi? udah mau nikah juga.” kekeh Bami, mereka tertawa bersama menuju rumah Rena.

***

Rena hari ini memutuskan untuk  pergi ke makam Kay, dengan membawa sebuket bunga. “Hallo Kay, udah lama ya aku ga kesini? maaf ya Kay. Aku ga lupa kok tapi ketika seseorang kehilangan semangatnya orang itu akan lemah, dan ketika semangat itu hilang kebahagiaan datang untuk memperkuat kelemahan. Kamu tau gak Kay, aku bahagia loh besok aku mau nikah sama Bami. Kamu dateng ya, biar pun aku gabisa liat kamu tapi aku mau kamu liat aku pakai gaun pengantin, walau pun gak sama kamu Kay” ucap Rena ditepi mahkam Kay dengan senyum paraunya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s