Posted in FTV / Sinetron

#SINET: A Sundae For Sunday eps. 2

Episode sebelumnya: #ASFSeps1

image

Selasa, 11 Agustus 2015.

Seharusnya hari ini Rena dan teman-teman sekelasnya datang satu jam lebih awal karena ada mata pelajaran olahraga di jam pertama, namun kenyataannya Rena malah bisa datang satu setengah jam lebih siang karena guru olahraganya tidak bisa hadir karena ada acara keluarga.

Dan disinilah Rena, masih bersantai-santai di tempat tidurnya lengkap dengan piyama dan selimutnya.

Rena membuka aplikasi line messeger di ponselnya, grup panitia pentas seni ternyata sedang ramai.

Rayn Wikaya: Dari awal gue udah tau pasti lo yg bakal kepilih jadi MCnya. Selamat ya, Ren!

Vinossa Inez: Uhuk

Vinossa Inez: Clbk clbk

Lala Lahfah: Congrats renaaaa

Vinossa Inez: Uhuk ibu MC

Kaiu Syalrief: Lo emang paling cocok ren selamat yaa

Lala Lahfah: Selamat latihan btw my rena

Aliando Starief: Cie hari kemis naik panggung

Vinossa Inez: oiya ren gue lupa bilang selamat hahahahahaha

Vinossa Inez: sibuk batuk nih perlu komixxxx

Lala Lahfah: ga jelas lo dongo-_-

Vinossa Inez: ga jelas pun star padaku lak

Baye Micole: Tikungan tajem detected

Baye Micole: Rena congrats yaaa chui

Lala Lahfah: astagfirullah maafkan dosa dosa pino yang genit ini ya allah

Aliando Starief: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram

Baye Micole: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram(2)

Vinossa Inez: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram(3)

Lala Lahfah: nasib lala jelek sekali ya allah

Rayn Wikaya: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram(4)

Kaiu Syalrief: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram(1234)

Lala Lahfah: apa salah lala ya allah

Ina Maruka: renaku congratsss u deserve it!!

Ina Maruka: lo yg dosa bego la, lo pacaran, pacaran haram(9999+)

Lala Lahfah left the group.

Aliando Starief invited Lala Lahfah to the group.

Lala Lahfah joined the group.

Lala Lahfah: hai everybody miss me?

Rayn Wikaya: no

Baye Micole: no

Ina Maruka: no

Aliando Starief: no

Kaiu Syalrief: no

Vinossa Inez: no

Lala Lahfah left the group.

Vinossa Inez: malangnya nasib lalapo

Vinossa Inez invited Lala Lahfah to the group.

Lala Lahfah joined the group.

Vinossa Inez: maafkan kami lalapo kami terlalu baik padamu

Lala Lahfah: kenalin nama saya lalapo, kepanjangannya is lala rapopo

Rena tidak bisa hanya membaca sementara percakapan terus mengalir. Ia mengetik dengan cepat.

Nadya Arena: ada apaan, sih?

Nadya Arena: gue serius jadi mc buat magic hour?

Lala Lahfah: iya sygkuuu

Lala Lahfah: lo jadi mc magic hour

Baye Micole: iya rennn

Lala Lahfah: lo jadi mc pensi kiteee mancay

Nadya Arena: tau darimana?

Nadya Arena: udah diumumin?

Nadya Arena: mc cowonya siapa?

Lala Lahfah: tau dari kay

Lala Lahfah: kay mc cowo siapa?

Lala Lahfah: lo bukan?

Ina Maruka: tadinya kay, tapi ada anak baru kemaren coba coba terus ga jadi kay

Lala Lahfah: serius demi apa kay kalah sama anak baru wkwkwkwk

Rayn Wikaya: Tadinya gue. Tapi jadinya bukan gue.

Lala Lahfah: ouuuuh free puk puk for kay

Baye Micole: terus siapa mc cowonya? anak baru yg mana sik?

Ina Maruka: namanya eky kalo ga salah, liat aja ntar sore pas mulai latihan

Nadya Arena: ntar sore udah mulai latihan? asdfghjkl.

Ina Maruka: iya rennn kan h-2 acaraaa

Ina Maruka: yg lain udah latian dari lama tinggal mc doang gr gr pengumumannya telat

Rena baru saja ingin menyerukan protesnya tentang latihan yang mendadak itu saat matanya menyadari sesuatu.

Sebentar….

Siapa nama MC yang akan menjadi partner-nya?

Eky?

Eky si anak baru?

Jadi yang dilihatnya kemarin bukan halusinasi?

Eky benar-benar kembali?

*****

“Ren, tolong cari si Ragu, Hand, sama Cat, ya. Bilang mereka dicari sama Kay, dari kemaren pada nggak keliatan di grup padahal ini udah dua hari sebelum acara.”

Rena sebenarnya sedikit terkejut ketika bahunya ditepuk oleh temannya yang ternyata adalah Lala beberapa saat lalu, tapi ia tetap bisa menguasai dirinya. “Iya, kebetulan gue jam kosong sampe pulang sekolah,” ujar Rena sambil tersenyum simpul. “By the way, La. Bisa nggak latihannya dimajuin?”

Lala menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa emang?”

“Nggak apa-apa, sih. Gue takut kemaleman aja baliknya.”

“Kayaknya nggak bisa deh, Ren. Nyari dispen buat latihan kayak gini itu nggak mungkin banget dapet ijinnya, lo tau sendiri kan sekolah kita kayak gimana, jadi ya paling cepet ntar pulang sekolah. Nikmatin aja jam kosong lo dengan latihan sendiri dulu,” jelas Lala.

“Oh. Oke.”

“Gue ke kelas dulu, Ren.”

Rena hanya mengangguk.

Sepeninggal Lala, Rena melangkah pelan sembari bersenandung sendirian menuju aula. “Jangan gila, jangan gila, sayang. Nanti kau menyesal. Kira-kira kalau marah, sayang. Nanti kau….”

Lagi-lagi sebuah suara berat menghentikan Rena, “Gue nggak gila, tapi suara lo bagus.”

Dan lagi-lagi Rena hanya bisa diam ketika melihat pemilik suara.

“Gue Eky, dan kalo gue liat dari badge nama di seragam lo, nama lo…. Nadya Arena?”

Rena menatap wajah Eky dalam. Ia yakin Eky-nya dulu dan sosok di depannya adalah orang yang sama, tapi kenapa Eky biasa saja saat mengetahui namanya?

Eky mendengus. “Gue heran, lo nggak pernah jawab satu pun pertanyaan gue. Beneran ada masalah sama pendengaran?”

“Gue buru-buru, ada urusan. See you.

Melihat Rena berlalu, Eky terkekeh. Sikap siswi bernama Rena yang baru dua kali ditemuinya sukses membuatnya penasaran.

*****

Setelah lelah berkeliling menyampaikan pesan bak tukang pos, Rena duduk bersandar di tribun ruang olahraga sekolahnya, ditemani dengan berbagai macam bola dan alat-alat penunjang kebugaran.

Rena sedang mengipas-kipaskan kertas yang berisi bahan-bahannya untuk membawakan acara pentas seni nanti saat tiba-tiba ada sebuah es krim di depan matanya.

Rena menoleh.

Sedetik kemudian, Rena beranjak dan berniat untuk pergi sejauh-jauhnya.

“Ren, kita ini tim, lo nggak bisa ngehindarin gue terus. Gue ketua panitianya!”

Yap. Lagi-lagi Kay.

Rena berhenti dan berbalik, lalu ia tersenyum sinis. “Pertama, gue nggak bakalan ikut acara ini kalo gue tau dari awal lo juga ada disini. Kedua, gue udah hampir ngundurin diri waktu gue sama lo dibilang calon kuat buat jadi MC. Ketiga, gue bersyukur setengah mati begitu tau kalo my partner is not you. Jadi lebih baik, kita bener-bener profesional dengan cara nggak nyangkutin masalah kita sama acara ini, bukan dengan make acara ini sebagai modus lo buat bisa deket lagi sama gue. Lo tau itu nggak mungkin. Okay? Okay.

“Gue cuma mau lo ambil es krim ini sebelum cair, gue tau lo kepanasan. Itu aja.” Kay menarik tangan Rena dan meletakkan es krim yang dibawanya dengan sikapnya yang selalu tenang.

Kemudian Kay tersenyum. “Lo makan, ya. Gue cabut dulu, kerjaan ketua banyak, Ren. Bye!

Tampang galak yang dibuat oleh Rena berubah menjadi mellow seiring dengan perginya Kay.

“Seandainya lo nggak ngelakuin itu, kita pasti masih sama-sama sampe sekarang,” ujar Rena dalam hati.

*****

“Ra, bantu aku cariin pacar buat Rena, dong.”

Dimas Angbara, Bara, adalah pacar Chili yang juga merangkap sebagai sohib Kay.

Bara menggeleng. “Nggak bisa. Apa kata Kay nanti?”

“Emangnya Kay masih sayang Rena, ya? Terus kenapa dia selingkuh waktu itu?” tanya Chili.

“Menurut penjelasan dia ke aku, dia nggak selingkuh.”

“Tapi, Ra. Kay selalu minta maaf ke Rena, it means dia salah,” protes Chili. “Lagian aku liat si Kay makin deket sama Ceria yang anak kelas kamu itu.”

Bara mematikan mesin mobilnya. “Ceria yang pacarnya Arbami si junior jago basket itu?”

“Ceria sama Bami udah putus, sayaaaang. Ini kenapa pula mobilnya dimatiin, panas please.

“Rena jadi nebeng nggak, sih? Lama banget.”

Chili mengambil ponselnya, lalu ia terkikik saat menyadari sesuatu. “Ra, aku lupa tadi di kelas Rena bilang dia ada latihan sampe malem.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi, Chi?” tanya Bara kesal.

“Aku lupa, I’m sorry,” rengek Chili manja.

Bara berdehem sebelum menyalakan mobilnya lagi. “Ya sudah, kita pulang sekarang, ya?”

Pertanyaan itu dijawab Chili cepat dengan sebuah anggukan mantap.

*****

“Kak Eky?”

“Lusa?”

“Kakak kok bisa disini?”

“Baru mulai sekolah kemarin, sih. Lo disini juga?”

“Iya, kak.”

“Tenang aja, gue nggak bakal bully lo kayak dulu, nggak usah tegang gitu.”

“Iya, kak.”

“Gue kira setelah gue lulus SMP, gue nggak akan ketemu lo lagi. Ternyata kita ketemu disini.”

“Kakak apa kabar?”

“Baik. Gue malah ngerasa jauh lebih baik karena gue ketemu lo disini, Lus.”

“Kenapa?”

“Gue keinget betapa kejamnya gue dulu sama lo, hiburan.”

“Kak, maaf. Lusa nggak maksud buat sok-sokan jadi secret admirer kakak dulu.”

“Apaan, sih? Kaku banget lo. Gue yang minta maaf, dulu gue langsung bully lo parah banget begitu gue tau kalo lo yang ngirimin surat-surat itu. Childish banget gue dulu.”

“Nggak apa-apa, kak.”

“Gue ada latihan bentar lagi. Lo pulangnya hati-hati, ya.”

“Iya, kak.”

*****

“Seragam lo nggak ketinggalan kan, Ren?” tanya Ceria, salah satu panitia dan teman satu angkatan Rena yang dikabarkan sedang dekat dengan Kay.

“Aman.”

Latihan hari ini selesai tepat jam sembilan malam. Untungnya, seluruh siswa-siswi yang berpartisipasi hari ini sudah diperingatkan untuk membawa baju ganti guna mengantisipasi kotornya seragam mereka yang masih harus digunakan esok hari. Rena dan Eky juga cukup baik dam membangun chemistry walau pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya bisa dibilang kurang mengenakkan.

“Ren, gue perlu bilang sesuatu.”

Rena yang sedang sibuk mempersiapkan barang-barangnya guna dibawa pulang menoleh ke arah Ceria. “Ngomong aja, gue dengerin,” ujarnya lalu meneruskan kesibukannya.

“Gue suka sama Kay.”

Rena langsung membeku ditempatnya, kotak pensil yang hendak dimasukkannya ke dalam tas jatuh tanpa dapat ia tahan.

“Gue harap lo udah move on dan ngasi gue kesempatan buat tetep deketin dia, kalo perlu mungkin lebih baik lo jauhin dia.”

Rena berusaha keras menahan emosinya, dari awal dia memang sangat tidak ingin berurusan dengan Ceria. “Gue, sama Kay, udah nggak ada apa-apa. Buat apa lo lakuin hal nggak penting kayak gini?”

“Gue tau Kay masih sayang sama lo, dan itu cukup mempersulit gue.” Ceria menarik nafasnya dalam lalu melanjutkan, “Lusa udah pensi, hubungan ketua dan bawahannya bakal selesai dua hari lagi, itu berarti kalian udah nggak akan ada hubungan atau kegiatan apa-apa yang harus dikerjain bareng setelah ini.”

So?”

Ceria memegang kedua bahu Rena dengan mata berkaca-kaca. “Tolong bantu gue, jauhin Kay, jangan kasi dia kesempatan lagi.”

Rena tersenyum walau terpaksa, ia harus tetap terlihat baik. “Yes I will. Pulang gih, udah malem.”

Ceria pun tersenyum, lalu melangkah menjauh dan melambaikan tangannya.

Ruangan itu benar-benar kosong setelah Ceria keluar, dan Rena tidak sekuat yang dipikirkannya, ia memang masih sanggup berdiri tegap di tempatnya, namun air mulai memenuhi kelopak matanya, mendesak untuk dikeluarkan segera. Apa yang sudah dialaminya bersama Kay sejak dua tahun lalu terbayang di angannya, terlalu manis untuk dilupakan.

Tiba-tiba suara berat khas Eky terdengar, “Lo mau gue anter?”

Rena yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya, dan….

DUK!

Shit,” umpat Eky.

Dagunya terkena kepala Rena karena ia berdiri terlalu dekat dengan Rena.

Rena menghapus air matanya sendiri dengan terburu-buru, lalu panik dan berulang kali mengucap maaf, namun Eky malah tertawa. “Gue maafin asal lo mau gue anter pulang,” katanya.

“Hah?”

“Lo mau gue maafin atau nggak?”

Rena mengiyakan dengan cepat, “Oke, oke. Apa aja asal lo maafin gue dan nggak ngelanggar norma-norma yang berlalu di masyarakat.”

image

“Udah sampe, jangan cemberut, apalagi nangis,” ujar Eky tulus ketika sampai di depan rumah Rena.

Tapi Rena malah merengut, bayang-bayang Kay masih mengantuinya.

Sedetik kemudian tangan Eky sudah menyentuh wajahnya, mencubit pipinya. “Kan udah dibilang jangan cemberut.”

“Iya, senyum nih.” Rena melebarkan senyumnya, lalu balas menekan pipi Eky gemas dengan kedua tangannya.

“Ren, gue bisa sulap.”

“Gue nggak percaya.”

Eky mengambil sesuatu di sakunya, setangkai bunga berwarna merah. “Ta-da. Bisa kan?” candanya.

“Itu sih lo udah bawa dari tadi,” cibir Rena lalu tertawa.

“Buat lo. Jangan sedih lagi,” tutur Eky dan Rena pun mengambil bunga merah itu.

“Gue nggak akan bilang lo nggak boleh sedih biar cantik lo nggak luntur karena kalo lo sedih, lo itu tetep cantik, tapi gue nggak suka liat lo sedih. Karena kalo lo sedih itu artinya……”

Ucapan Eky terhenti karena telunjuk Rena mengenai bibirnya.

“Sssstt. Makasih ya, udah malem, lo pasti capek. Besok emang sekolah udah libur, tapi kita harus dateng pagi buat gladi, mending lo pulang sekarang,” ujar Rena.

Bola mata Eky dan Rena sempat bertemu sesaat sebelum Eky akhirnya pamit pulang dan menyuruh Rena untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.

Saat sosok remaja perempuan itu sudah menghilang dari pandangan, Eky tersenyum lebar.

“Ternyata ini lo. Gue masih inget rumah ini, dan gue masih inget sama mata lo. Jadi selama ini nama lo Nadya Arena? Arena, Rena, Aren…. Kenapa cuma Aren yang gue tau?” Eky berpikir sejenak, lalu berkata, “Persetan sama nama lo, gue yakin lo yang gue cari. Akhirnya gue ketemu lo lagi, Ren.”

Kemudian Eky pun meninggalkan bagian depan rumah Rena dan bergegas pulang ke rumahnya.

*****

“Kayen baru pulang?”

Rena tersenyum kecut ke arah suara. Itu suara Lusa, adik sepupu Rena yang dititipkan di rumahnya karena kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar kota. “Iya, Sab. Capek banget, nih. Kamu belum tidur?”

“Belum, Kayen. Tugas aku masih banyak banget,” jawab Lusa sambil mendengus kesal.

Lusa Sabarina nama lengkapnya, walau panggilan aslinya adalah Lusa, Rena lebih suka memanggil saudarinya itu dengan panggilan Sab, spesial katanya. Begitu juga dengan Lusa yang sejak kecil selalu memanggil Rena ‘Kayen’ karena dulunya Lusa tidak bisa mengucapkan Kak Rena dengan fasih.

“Oh iya, aku mau cerita, boleh?” tanya Lusa.

Rena mengangguk lalu merebahkan dirinya di sofa.

“Tadi aku ketemu sama cowok yang dulu selalu bully aku di SMP, Kayen. Dia masih ganteng, tapi sekarang jadi baik. Ternyata dia sekolah di sekolah kita, loh,” jelas Lusa.

“Berarti dia SMP di Palembang juga, dong? Sekarang SMA disini? Kok samaan gitu pindah kotanya? Kalian jodoh kali,” ledek Rena.

Lusa tersenyum malu, “Nggak, lah. Aku sih udah nggak ada feeling sama dia, Kayen. Mending buat kakak aja.”

“Berarti dulu ada feeling?”

Lusa nyengir. “Yaaaa, gitu deh. Dulu aku dijadiin bahan ejekan banget sama dia, tapi sekarang dia baik, Kayen. Cuma ya emang aku udah nggak ada feeling lagi. Aku ikhlas kalo kakak mau sama dia.”

Rena tertawa. “Dengan senang hati, Sab. Ntar aku ambil, mumpung jomblo.”

Lusa ikut tertawa mendengar jawaban kakak sepupunya itu.

“Sab, aku tidur duluan ya. Lelah hayati,” ujar Rena yang dijawab oleh kata oke dari Lusa.

Dan yaaaa, hari yang sangat melelahkan bagi Rena akan segera berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s