Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Satu Jam

image

Ketika sang surya memunculkan sinarnya di saat itulah hal yang paling aku sukai. Karena aku akan kembali memakai seragam putih abu-abuku. Berangkat dengan sangat ceria dan berharap betemu kembali dengan Bara. Bukan Bara tapi tatapan matanya.

“Demi sunyi malam yang kulalui, kumohon tuhan izinkan aku menatap matanya walau hanya sekejap” gumamku dalam hati.

Hari ini sangat beruntung bagiku dapat melihatnya bermain gitar begitu lihai di depan kelas. Tak bisa ku alihkan pandanganku walau hanya sedetik. Sungguh permainan ritme yang sangat indah.

Tiba-tiba… ada yang sengaja mengacaukan konsentrasiku.

Yups! ternyata dia Ice. “Ngintip terus Cil. Nanti ngga bisa tidur loh” canda Ice.

Aku sama sekali tidak malu jika Ice memergokiku, karena dia tau aku menyukai saudaranya yang begitu manis itu.

Malam ini, ku goreskan tintaku ke lembar demi lembar kertas putih. Aku mulai menulis tentang Bara dan semua permintaan permintaan bodohku.

Mungkin aku lebih suka menuangkan perasaanku kepada sebuah kertas putih yang pudar tetapi penuh makna.

“Dear diary, jika aku boleh memilih satu di antara seribu pohon, aku akan memilih pohon yang paaling kecil dan membiarkannya tumbuh hingga ke langit yang tinggi, sama seperti perasaanku yang semakin lama semakin tumbuh untuk Bara,” gurauku dalam buku kecil itu.

Pagi ini sang surya tampak begitu cerah, mengantarkanku pergi ke sekolah dengan penuh kehangatan. Tiba-tiba Bara melintas dan tak memberiku celah sedikitpun untuk menghentikannya.

Dia jalan begitu cepat, membuatku berkata, “Bodoh Cili! menatapnya saja kau tak mampu.”

Sebuah lonceng bergema sangat nyaring membuat semua siswa lari bak sebuah perlombaan.

Kebetulan hari ini ada kelas musik. Aku begitu melayang saat pak Eky menyuruh kami ke ruang musik. Whups! bukan itu yang membuatku melayang-layang di udara, tetapi saat melihat Bara berada di dalam ruang musik.

Pak Eky sengaja menyuruh Bara karena kelihaiannya dalam bermain gitar. Saat Bara mulai memetik gitar, seakan tanganku mengajak kesepuluh jariku serempak menyoraki permainan Bara. Tapi, teman-teman tak mengizinkanku mengaguminya. Karena tak ku lihat satu tepuk tangan pun dari teman-teman hingga membuatku malu untuk berdiri.

Hari demi hari terus berganti, hingga tak kuasa aku menolaknya. Ya! Menolak takdir bahwa aku harus bertemu dengannya, menyusuri hari yang tak pernah bisa aku taklukkan. Satu jam saja cukup aku berbicara 3 kata, menatap matanya dan memeluknya.

“Ku mohon Tuhan kali ini saja,” Harapku dalam pikir panjang.

Tiba-tiba seseorang memanggilku dari kejauhan dengan begitu keras. Ternyata, dia adalah Ice yang coba membubarkan lamunan indahku.

Ice mengatakan padaku beberapa kata, “Apa setiap hari kamu akan begini Cil? Cobalah dekati Bara, apa kamu perlu bantuanku?”

“Tidak,” standar jawabku kepada Ice.

Bukannya aku tak mau, hanya saja aku ingin Bara mendekat padaku dengan adanya aku begini, bukan karena orang lain. Untuk yang pertama kalinya hadir dalam hatiku.

Malam ini hujan turun begitu deras, aku hanya bisa melakukan hal yang biasa aku lakukan, menulis diary. Karena hujan tak memberiku celah untuk berkunjung ke rumah Ice. Semua cerita sedih dan duka, tawa, dan canda, sebongkah air mata dan ketulusan aku tuangkan dalam buku kecilku ini.

Tiba-tiba.. Ada yang mengetuk pintu rumahku, segera aku buka dan ternyata adalah Ice.

“Kamu Ce, ada apa?” tanyaku kepada Ice.

“Cuma pengen maen ke rumah kamu aja Cil hehehe,” jawab Ice.

“Ya udah ayo masuk ke kamarku aja, aku buatin kamu minum dulu,” ucapku.

“Oke deh, jeruk hangat ya,” kata Ice.

Aku langsung ke dapur dan membuatkan minum untuk Ice dan kembali ke kamar.

“Nih Ce, buat kamu,” sambil aku menyodorkan gelas minuman berisi jeruk hangat, seketika Ice langsung meneguknya dan pulang terburu-buru.

“Aku pulang dulu ya Cil, ada urusan sama mama,”

Aku bingung tapi ya sudahlah, setelah Ice pulang ku lanjutkan menulis diary tetapi, tak ku lihat diary mungil di kasurku. Entah hilang ke mana, mungkin aku lupa meletakkannya. Hingga akhirnya ku cari-cari di seluruh sudut kamarku dan aku tak menemukannya. Tiba-tiba aku teringat dengan tingkah Ice yang pulang terburu-buru tadi. Segera aku meneleponnya dan menanyakan apakah dia mengambil buku diaryku, dengan nada manja dia berkata padaku di telepon.

“Hehe iya Cil, besok aku balikin deh,”

“Kamu Ce, selalu begitu enggak pernah bilang bilang kalau pinjam sesuatu lagian diaryku itu kan penting banget,” ucapku dengan nada kesal.

“Iya maaf deh, aku pengen tahu sejauh mana sih diary Cili bercerita tentang Bara hehe,” Ice langsung menutup teleponnya.

Esok hari aku berniat mengambil buku itu. Tapi, Ice berkata padaku bahwa dia akan mengembalikan buku itu senja hari. Hingga malam tiba Ice tak kunjung datang ke rumahku. Saat itu hujan turun begitu deras, hingga aku terlelap dalam tidurku. Terdengar ketukan pintu dan cahaya putih lurus di sudut kamarku, aku mencoba membukanya dan ternyata adalah Bara, dia berkata lirih padaku.

“Cil, aku menyayangimu,” dia menatap mataku begitu lama dan memberiku sebuah kotak musik.

“Jika aku merindukanmu. Kotak musik ini akan berbunyi setiap malam,” dan Bara pun pergi meninggalkanku bersama debu-debu kabut putih.

“Cuma mimpi Cili! nggak mungkin kalau Bara dateng kesini.” ucapku saat terbangun dari tidurku. Saat ku mengusap keningku, ku lihat tanganku memegang kotak musik itu begitu erat.

Kring!! Telepon rumahku pun berbunyi. Ice mengabariku bahwa Bara telah tiada, dia kecelakaan saat akan menuju rumahku mengembalikan buku itu.

“Bagaimana mungkin? Dia baru saja menemuiku tadi,” hiburku dalam hati. Perasaanku begitu kalut dan tak kuasa aku menahan semua tangis.

Pagi yang penuh duka pun. Aku menuju makam yang penuh dengan derai tangis. Mataku sembab karena menangis semalaman. Ice mencoba menghiburku dan menceritakan yang terjadi sebelumnya.

Sekarang aku mengerti Ice mengambil diaryku diam-diam agar Bara bisa tahu semua isi hatiku, dan saat Bara membawa cinta untukku dia harus menjumpai mautnya.

Di depan makamnya pun aku berkata, “Tadi malam adalah 1 jam yang paling mengharukan, tadi malam adalah satu jam ketika aku bisa menyayangimu begitu dekat, tadi malam adalah 1 jam saat pertama dan terakhir dalam hidupku untuk menatapmu, seorang Bara yang begitu manis.”

Akhirnya aku benar-benar bisa menatap matanya dan merasakan kehadiran cinta pertamaku. Walau hanya satu jam dan walau hanya aku tak bisa memilikinya di dunia.

Masih terasa sulit buatku menerima kenyataan, aku berjalan menjauhi makam dan seseorang dari kejauhan tersenyum melihatku dengan penuh cahaya putih.

Sepulang dari makam aku pun memandangi kotak musik itu, aku ingat dan masih begitu ingat dalam benakku ucapan terakhirnya untukku.

Tiba-tiba kotak itu berbunyi tepat di hadapanku. Mungkinkah dia di sana merindukanku, aku berharap dia datang dengan sosoknya yang berwajah terang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s