Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Cewek Indigo

image

            Namanya Lala. Nama lengkapnya Lala lahfah. Dialah yang menjadi cewek indigo. Cewek yang tidak mempunyai masa kecil, dan anak indigo itu memang sangat pintar dan mungkin bisa dikatakan genius. Pikirannya benar-benar dewasa.
            Dia sama sekali tidak suka dengan teman-temannya. Dia selalu menyendiri. Sangat tidak suka dengan ocehan teman-temannya yang menurut penulis itu normal-normal saja untuk anak se usia mereka. Lala lebih suka bercengkrama dengan ibu-ibu dikompleknya. Seperti sekarang ini. Dia duduk menyendiri.
            “Hai lala” sapa seseorang. Lala menengok dan langsung mendengus kesal, kemudian pergi meninggalkan orang itu. Orang itu tersenyum.
            Ceri. Anak yang tadi menyapa lala. Dia selalu begitu setiap harinya. Entah untuk apa. Dia hanya ingin mengutak atik pikiran dan hati yang ada di dalam tubuh Lala. Bukan indigo, dia hanya seorang peramal murni. Mengapa begitu? Karena dia sudah terlahir dan di takdirkan untuk menjadi peramal. Tapi agamanya juga menuntunnya untuk tidak terlalu sombong dan bangga apa yang dipunyanya, jadi dia hanya biasa-biasa saja dengan keadaan ini. Hanya ceri dan orang yang menyukai Lala itulah yang tau kalau Lala itu cewek indigo. Ceri melihat seseorang. Seseorang yang membuatnya kagum, kini melewatinya dan tersenyum ramah ke Ceri. Ceri membalasnya dengan tersenyum manis.
            Kay. Cowok yang tadi tersenyum ramah ke Ceri. Cowok ini juga mengagumi Ceri. Anak ini pintar sekali dalam bermain sihir. Dia dan temannya lah yang tau kalau dia penyihir.
            Tarif. Anak dingin yang begitu pendiam inilah temannya Kay. Dia sangat pintar sekali membaca pikiran orang yang ada di dekatnya. Seperti saat ini, dia tahu kalau Kay sangat senang jika Ceri membalas senyumannya, dan Ceri pun juga begitu, dia juga senang disenyumin Kay. Tarif lah yang menyukai Lala. Dia tahu kalau Lala indigo. Karena dia duduk sebangku dengannya. Kay tidak sekelas dengan Tarif. begitu juga Ceri, tidak sekelas dengan Kay dan Tarif.
            Bel istirahat berkumandang. Lala tetap duduk anteng di bangkunya sambil membaca buku. Kalian tahu? Sebenarnya Lala sudah mendapatkan gelar sarjana. Dia dulu kuliah di Amerika sejak umur 7 tahun dan sekarang sudah dapat gelar sarjana. Karena Lala terlalu muda untuk melakukan ini itu, jadi mamanya menyekolahkan Lala di SMA untuk sementara. Keluarganya tak ada yang indigo. Orang tuanya patut bangga apa yang Lala miliki.
            “Lo nggak ke kantin La?” Tanya teman sebangkunya, Tarif. Sebenarnya Tarif ini hanya usil, karena dia tahu, habis ini pasti lala mengomelinya seperti ibu-ibu. Lala nengok sebentar ke Tarif.
            “Menurut lo?” Tanya Lala sinis. Sebenernya Lala juga nggak mau buat ngejawab.  Tarif hanya tersenyum kemudian berlalu.
            “Baca buku terus nanti ubanan loh…”ejek Tarif sebelum berlalu. Lala membalas
            “Anak kecil tau apa lo?” balas Lala sinis. Lala kembali membaca bukunya. Baru selang beberapa menit, Lala kembali diganggu seseorang.
            “Hai La” sapa seseorang dengan riangnya. Yang dipanggil cuma mendengus kesal dan menutrup bukunya keras.
            “Lo lagi lo lagi” kesal Lala kemudian berlalu pergi.
            “Cewek indigo! Buku lo keren banget” Lala langsung berhenti. Kemudian langsung berbalik ke tempat tadi.
            “Lo panggil gua apa?” Tanya Lala ke orang itu.
            “Cewek indigo” jawab orang itu dengan santainya. Lala terperanjat kaget. Pasalnya, Lala tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengetahui kalau dia indigo.
            “Siapa sih lo sebenernya?” Tanya Lala ke orang itu. Orang itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
            “Perkenalkan, nama saya Ceri. Ceria thomas.” jawab orang itu yang ternyata adalah Ceri. Lala agak ragu membalas uluran tangan darinya.
            “Lo kok tau kalo gua indigo” Tanya Lala lagi setelah sesi perkenalan.
            “Karena gua peramal” jawab Ceri sambil tersenyum. Mata Lala  membulat.
            “SMA apa sih ini sebenernya? Kok ada peramal segala?” Tanya Lala yang sebenernya mengejek. Ceri langsung tersenyum.
            “Ini SMA biasa kok” jawab Ceri dengan santainya. Lala nampak berpikir. Dia ingin minta pembuktian kalau Ceri itu benar-benar peramal.
            “Kalu lo peramal, lo tau jodoh gua dong!” tantang Lala. Ceri mengangguk mantap sambil tersenyum.
            “Bintang lo apa?” Tanya Ceri.
            “Cancer” jawab Lala singkat. Ceri langsung tersenyum misterius.
            “Jodoh lo bintang Virgo” Lala mengangkat alis.
            “Yakin?” Tanya Lala meyakinkan. Ceri mengangguk mantap.
            “Cari aja anak kelahiran 26 Oktober dan anaknya berinisial AS” jawab Ceri kemudian berlalu. Lala semakin bingung dibuatnya.
            Lala melirik-lirik Tarif. Tarif yang digituin langsung risih.
            “Kenapa sih lu? Naksir?” Tanya Tarif dengan PD-nya. Lala tak menanggapinya dia langsung memberanikan diri untuk bertanya.
            “Lo tau anak kelahiran 26 Oktober nggak?  Inisialnya sih AS?” seketika itu juga Tarif langsung tertawa.
            “Kenapa sih lo ketawa? Dasar aneh” decak Lala kesal.
            “Ngapain lo nyariin gua?” Tanya Tarif disela tawanya. Lala langsung negok ke Tarif.
            “Ha?” Lala semakin bingung dibuatnya.
            “Anak indigo kok nggak paham” ejek Tarif. Lala langsung tersentak kaget.
            “Lo tau gua indigo?” Tarif mengangguk mantap.
            “Kok ada dua orang sih yang tau kalo gua indigo?” sekarang Tarif yang kaget.
            “Emang yang satunya siapa?” Tanya Tarif.
            “Ceri” Tarif langsung ngangguk-ngangguk. Dia memaklumi kalau Ceri tahu bahwa Lala indigo. Lala memukul bahu Tarif pelan.
            “Rif! Lu tau nggak sih? Kalo nggak tau ya bilang aja! Susah banget sih!”
            “Gua tau kok. Itu inisial gua sama tanggal lahir gua” seketika itu juga Lala langsung melotot.
            Lala sedang membaca buku ketika Lala menghampirinya.
            “Hai La” balas Ceri yang tadi sudah dipanggil Lala.
            “Gua nggak mungkin ya jodohnya Tarif. nggak level banget tau nggak” sembur Lala tiba-tiba. Ceri hanya tertawa.
            “Haha…. gua kan cuma ngasih tau, bukan nyuruh lo percaya. Lagipula kan lo yang nyuruh gua nyariin jodoh lo” balas Ceri kemudian langsung berlalu. Lala nampak semakin kesal. Dia merasa dibodohi.
            “Arghh…” kesal Lala. Ceri yang mendengarnya langsung tersenyum. Kemudian langsung pergi.
            Ketika Ceri ingin ke kelasnya,ia bertemu dengan 2 cowok. Dan langsung Ceri menarik salah satu dari mereka, soalnya ada yang mau diomongin.
            “Tarif! lu ikut gua sebentar!” Ceri langsung menarik orang itu, Tarif. sedangkan cowok yang satu lagi cuma cengo.
            “Hm” jawab Tarif yang hanya di’hm’in doang. Dia tahu apa yang akan diomongin Ceri sebelum Ceri memberitahuinya. Ceri mengajak Tarif ke sudut koridor. Temannya cuma ngikutin dari jauh.
            “Lo….” mulai Ceri, namun
            “Iya gua tau” dipotong Tarif. Ceri cuma bisa cemberut, soalnya belum apa-apa udah dipotong sama Tarif. Tapi dia juga tahu kalau Tarif bisa baca pikiran orang.
            “Yaudah buruan!” suruh Ceri agak lantang sambil melipat tangan di depan dada. Tarif hanya tersenyum.
            “Yeee… marah” gemas Tarif sambil nyubit pipi Ceri. Ceri mengelus-ngelus pipinya yang sakit dan semakin cemberut. Temannya yang ngintip malah merasa panas hatinya.
            “Lu mau ngomong kalo Lala semakin beda kan? Kayaknya gampang marah kan?” lanjut Tarif sambil bertanya ke Ceri. Ceri ngangguk-ngangguk.
            “Dia bukan Lala” seketika itu juga mata Ceri langsung melotot.
            “Masa?” Ceri meyakinkan. Tarif mengangguk mantap.
            “Raga nya doank Lala, tapi jiwanya bukan Lala” Ceri semakin melotot.
            “Terus gimana dong? Padahal Lala itu kemungkinan besar jodoh lo loh Rif” mata Tarif langsung berbinar.
            “Beneran?” Tanya Tarif meyakinkan.
            “Lah! Kok lo nggak tau sih? Katanya bisa baca pikiran orang?” Tanya Ceri yang sebenarnya mengejek.
            “Ah lu. Iya ya, gimana ya?” pikir Tarif sambil megang dagu dan menghadap ke atas. Ceri hanya melihat ekspresi Tarif tak mau berpikir. Tarif langsung menjentikkan jarinya.
            “Gua tau!” sepertinya Tarif mempunyai ide, dan langsung aja ide itu dibisikkan ke Ceri. Ceri langsung ngangguk-ngangguk. Dan setelah itu bertos-tos ria. Temennya yang ngintip tadi semakin penasaran. Setelah itu mereka berdua berpisah. Tarif langsung menghampiri temannya yang ngintip tadi, dia sudah tau kalau daritadi temannya ngintip.
            “Ayo sob! Udah nggak ada yang diintipin lagi” ajak Tarif. temannya hanya nurut dan berjalan beriringan dengan Tarif.
            “Lo ngomongin apa Rif? Kok pake bisik-bisik segala? Terus tadi juga lu nyubit-nyubit Ceri segala? Apa sih yang diomongin?” Tanya temannya bertubi-tubi. Tarif hanya tersenyum yang sebenarnya nahan tawa.
            “Yeee… jealous” jawab Tarif singkat sambil menyenggol bahu temannya itu.
            “Ah apa sih nggak!” erang Kay agak marah.
            “Setdah! Marah ya marah aja, tapi jangan dibakar juga kali tangan gua”sekarang Tarif yang mengaduh kesakitan. Kay langsung pasang tampang menyesal.
            “Sorry bro, itu tadi kebawa emosi. Sorry ya” Kay langsung memegang tangan Tarif dan membacakan mantra untuk menyembuhkan tangan Tarif.
            Sekarang Ceri sedang mencari keberadaan Tarif untuk menjalankan ide yang dibisikkan Tarif tadi yang katanya sehabis pulang sekolah. Dan Ceri menemukan Tarif di tempat parkir yang sepertinya menunggu seseorang.
            “Hai Rif” sapa Ceri setelah menghampiri Tarif. Tarif membalasnya dengan tersenyum.
            “Ayo!” ajak Ceri. tetapi Tarif tidak segera beranjak.
            “Nugguin siapa sih?” Tanya Ceri yang melihat Tarif daritadi tidak bergerak. Tarif menunjuk seseorang dengan dagunya. Ceri langsung nengok ke belakang. Langsung aja hati Ceri dagdigdugjedeerrrr.
            “Nggak usah grogi kali Cer” goda Tarif yang emang tau isi pikiran Ceri. Ceri melirik Tarif dengan sinis.
            ‘Sotoy. Nih anak pasti tau isi hati gua dong. Terus nanti dikasih tau lagi Kay nya. Errrr..’marah Ceri dalam hati. Dan seperti biasa Tarif tersenyum.
            “Gua nggak ember kok Cer. Tenang aja” seketika Ceri langsung bernafas lega.
            ‘Alhamdulillah…..’ Ceri mengelus-ngelus dadanya.
            “Hai bro” sapa seseorang yang daritadi ditunggu Tarif.
            “lama amat lu!” Tarif langsung menyambutnya dengan amarah. Yang dimarahin cuma nyengir gaje.
            “Fans gua banyak”
            “Halah! Buruan! Lu sama Ceri! Gua sendiri aja!” atur Tarif. Ceri langsung gelagapan bingung.
            “Eh… Kay ikut?” Tanya Ceri. Kay ngangguk. Pasrah dan sebenarnya senang, Ceri langsung nurut dan naik ke motornya Kay.
            “Gua nggak tau rumahnya Lala” baru aja naik, si Tarif udah ngadu dan nyengir gaje. Ceri langsung mendengus kesal.
            “Halah… lu mah….” kesal Ceri di balik badan Kay sambil nyembulin kepalanya menghadap Tarif.
            “Tuh Lala nya. Ikutin aja anaknya” Kay menunjuk seseorang yang ada di dekat gerbang. Tarif langsung menghampiri Lala dengan sepeda motornya. Seperti ada perbincangan di sana. Sepertinya Tarif mengajak Lala atau lebih tepatnya membujuk Lala untuk bisa mengantar Lala pulang. Dan sepertinya Lala tidak mau. Soalnya yang jemput udah datang. Tarif langsung ngikutin dari belakang. Ceri dan Kay pun langsung menyusul.
            Ting…tong.. Tarif memencet tombol rumah Lala yang sedari dulu eh tadi sudah mengadakan perbincangan untuk siapa yang mencet tombol. Karena sedari tadi tuh anak tiga pada nggak mau mencet tombol hanya karena takut. Pintu terbuka…..
            “Eh! Cari siapa ya?” sapa seorang wanita paruh baya di balik pintu.
            “Saya Tarif temannya Lala. Dan saya nggak nyari Lala, tapi nyari orang tuanya Lala” jawab Tarif. orang itu langsung terperanjat kaget. Soalnya, belum apa-apa udah jawab duluan. Si Tarif kan emang bisa baca pikiran orang.
            “Oh…ya silahkan masuk” Tarif, Ceri dan Kay langsung masuk. Mereka dipersilahkan duduk. Mereka bertiga tingak-tinguk untuk menamat-namatkan melihat isi rumahnya. Seperti rumah biasanya. Nggak ada unsur mistis.
            “Ada apa ya mencari saya?” Tanya seorang wanita tadi. Mungkin ini adalah orang tuanya.
            “Anda ibunya Lala?” Tanya Tarif dan langsung aja disikut Ceri. Pasalnya pertanyaan Tarif agak menyinggung. Orang itu langsung tertunduk.
            “Tuh kan…” Ceri memarahi Tarif dengan berbisik.
            “Dia bukan anak saya dik. Saya nggak bisa punya anak, makanya saya mengambil anak panti untuk dijadikan anak saya. Saya mengambil Lala ketika umurnya satu tahun. Tapi saya bingung, ketika umurnya menginjak 7 tahun, Lala itu bisa mengerjakan soal anak SMA ketika ayahnya mampir ke rumah temannya. Saya sangat takut waktu itu, dan saat diperiksa psikologis, katanya Lala adalah anak indigo. Saya senang, saya bangga, tapi saya juga sedih, Lala itu nggak punya masa kecil, umur 7 tahun saja dia sudah kuliah, umur 15 tahun dia udah dapet gelar sarjana, tapi dia benar-benar nggak mau kumpul sama teman sebayanya. Dia selalu kumpul sama ibu-ibu dekat kompleks. Pikirannya tuh udah keibuan banget. Dan sekarang akhir-akhir ini dia suka marah. Ada sedikit yang salah, dia marah. Selalu… begitu. Saya udah nggak sanggup ngadepin Lala. Kadang kaya anak kecil, kadang dewasa banget. Kadang juga Lala itu suka ngritik saya. Yang ini nggak panteslah, salah lah, itu lah. Kadang saya tuh kalo ngomong sama Lala tuh kaya ngomong sama ibu saya. Dewasa banget. Juga suka ngatur ini itu. Hut…. saya udah nggak tau dek mau gimana lagi” jelas wanita itu panjang lebar. Ceri yang nggak tega melihat kesedihan wanita itu langsung duduk disampingnya dan menenangkannya.  Tarif nampak berpikir.
            “Saya mungkin bisa bantu” wanita itu dan Ceri langsung mendongak menghadap Tarif.
            “Iya, bantu buat balikin Lala yang aslinya” jawab Tarif lagi sebelum mereka bertanya. Wanita itu tersenyum pertanda bahwa ia sangat berterima kasih ke Tarif. Tarif membalasnya dengan tersenyum.
            Sekarang mereka bertiga berkumpul di halaman belakang rumahnya Tarif.
            “Rif, kan lo katanya bisa bantu, emang bisa bantu apa?” Tanya Ceri, Tarif nampak berpikir.
            “Ada roh lain di dalam tubuh lala,kita harus ngeluarin roh itu” Ceri mengangguk mengerti.
            “Oh…. tapi gimana caranya?” Tanya Ceri lagi.
            “Pake sihir Kay” Ceri langsung tercengang kaget.
            “Eh! Kay penyihir?” Tanya Ceri ke Kay. Yang ditanya cuma ngangguk sambil tersenyum.
            “Makanya gua ikut dalam misi ini buat bantu kalian. Gua aja kaget kok kalo Lala itu indigo” Ceri mengangguk mengerti.
            “Dimulai kapan nih?” Tarif memulai strateginya.
            “Besok” jawab Ceri dan Kay bebarengan. Tarif langsung tersenyum jahil.
            “Ciee… jodoh nih cie….” Ceri dan Kay cuma bisa diam. Salting mereka berdua.
           Inilah misi pertama. Ceri menghampiri Lala.
            “Hai la..” seperti biasa, Ceri menyapa Lala dengan riangnya. Yang disapa langsung melengos dan pergi.
            “Lo keluar bakal ketemu Tarif” Lala langsung berhenti dan langsung nengok ke Ceri.
            “Tau dari mana lo?” tanyanya.
            “Gua kan peramal” jawab Ceri dengan bangga sambil memukul pelan dadanya. Namun Lala tetap keluar.
            “Peramal abal-abal kok dipercaya” balas Lala sinis sambil berlalu. Saat keluar…
            “Aaaaaa…..”
            “BRUUKK”
            “Ah…lo kay! Wajah lo horror banget. Jadi takut kan dia” Tarif membopong Lala ke UKS. Tadi si Kay menyihir wajahnya agar menyerupai hantu. Tapi karena terlalu horror, jadi wajahnya menjadi semakin menakutkan. Kay mengembalikan wajahnya seperti semula sebelum anak satu sekolahan melihatnya. Kemudian dia menyusul Tarif ke UKS dan disusul Ceri dari belakang.
            Mereka berdua sampai di UKS. Kay membacakan mantra agar ruang UKS ini tidak ada yang memasuki.
            “Udah aman bro?” Tanya Tarif. Kay mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
            “Ready?” Tanya Ceri. Kedua cowok itu mengangguk.
            “Langkah pertama, lu sama Ceri megang tangan Lala kenceng!” komando Kay. Karena sekarang Kaylah yang akan beraksi.
            “Udah” jawab mereka berdua. Kay mulai beraksi. Dia duduk di sofa UKS sambil memejamkan mata. Dan saat itu juga Kay tak sadarkan diri. Rohnya meluncur ke dalam tubuh Lala. Lala sudah mulai menjerit-jerit dan bergerak tak karuan. Hampir saja Ceri dan Tarif melepaskan pegangannya, tapi mereka berusaha untuk tidak lengah. Entah apa yang dilakukan Kay di dalam tubuh Lala.
            “BRAKK” Ceri sudah tidak kuat lagi menahan tubuh Lala. Dia jatuh terpental ke belakang. Sekarang Lala sudah diam, namun Ceri sekarang yang berguling-guling sambil teriak. Roh itu berpindah ke tubuh Ceri. Ceri terus berguling-guling di lantai. Roh itu dan rohnya Kay masuk ke dalam tubuh Ceri.
            “PLANG….” akhirnya roh itu keluar juga. Kay juga sudah kembali ke tubuhnya. Dan Ceri juga sudah tenang, walaupun nafasnya masih tersengal-sengal. Roh itu ada di sudut UKS.
            “Siapa lo?” Tanya Tarif sambil menunjuk ke roh itu.
            “Aduh…ha? Aku? aku Po, Abatah Pocilla” balas roh itu yang bernama Po sambil ngulurin tangannya ke Tarif. Tarif menerimanya, namun tangan itu tembus.
            “Eh! Nggak kena”tau-tau Ceri ikut nimbrung.
            “Ngapain lo masuk ke tubuh Lala?” Tanya Tarif mengacuhkan kekagetan Ceri.
            “Gua mau nyari kak Bami pacar gua, eh pas udah dicari bertaon-taon lamanya kak Bami malah nyusul gua” jawab Po.
            “Mati maksud lo?” Tanya Ceri. Po mangangguk.
            “Terus ngapain lo masih ada di tubuhnya Lala?” sekarang Kay yang bertanya. Po menunduk malu sambil senyam-senyum gaje.
            “Gua… suka sama anak ganteng itu” jawab Po malu-malu sambil nunjuk Tarif. Ceri dan Kay langsung ngakak setan.
            Pletak..pletak… Ceri dan Kay langsung berhenti tertawa dan langsung demo karena dijitak Tarif, namun Tarif mangacuhkan mereka. Sekarang perhatian Tarif berpindah ke Po.
            “Sekarang lo pulang ya ke asal lo” bujuk Tarif halus. Po menunduk sedih.
            “Yah… gua pisah sama lo dong” Tarif tersenyum sambil mencoba memegang puncak kepala Po. Dan… bisa.
            “Ya udah lah… lo kan udah ketemu sama gua. Sekarang pulang ya! Gua kasih kenang-kenangan deh..” Tarif  mendekatkan wajahnya ke pipi Po. Dan untuk kedua kalinya bisa. Tidak tembus. Langsung saja pipi Po memerah. Hantu bisa salting ya?
            “Ya udah deh Po pulang” saat itu juga roh itu menghilang.
            “Huh… akhirnya kelar juga” Ceri mengelap keringat di dahinya. Kay? Nggak tau tuh. Tuh anak mengeluarkan tampang cengo.
            “Kenapa lu bro?” Tanya Tarif yang melihat wajah tomplo Kay.
            “Lo bisa nyium roh itu Rif?” Tanya Kay balik.
            “Iye. Kenape? Pengen? Sini gua cium!” Kay langsung tersadar dan langsung menampilkan tampang jijk. Tarif dan Ceri langsung terkikik.
            “Aum… aduh… aku di mana?” mereka semua langsung nengok ke sumber suara. Ternyata Lala sudah sadar, mereka semua langsung menghampiri Lala.
           Tarif kembali mendengus nafasnya berat. Dia kesepian tanpa Lala. Lala tidak masuk sejak kejadian lusa lalu. Setelah dia sadar kemarin, Lala seperti orang linglung, tatapannya kosong. Dan sekarang Tarif benar-benar merasa bersalah. Bukan balikin Lala ke aslinya, malah dijadikan tambah buruk.
            “Arghh…” Tarif mengacak-ngacak rambutnya kesal. Tiba-tiba Kay dan Ceri masuk.
            “Rif! Gua tau caranya buat balikin Lala yang asli” tanpa basa-basi, Kay langsung memberikan kabar gembira untuk Tarif. Tarif langsung tersenyum sumringah.
            “POOOO………….” Tarif berteriak sekencang-kencangnya di tengah lapangan. Inilah rencana Kay dan Ceri untuk Tarif.
            “Aduh…. kalo kangen jangan teriak kenapa? Telfon kan bisa” Tarif, Kay dan Ceri langsung nengok ke belakang. Ada roh Po di sana yang sedang melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum.
            “Hai…. padahal baru ditinggal 3 hari aja, udah pada kangen” terang Po dengan PDnya. Yang lain langsung melengos.
            “Eh Po! Gua manggil lo buat minta bantuan. Kan lo masuk ke tubuh Lala dan sekarang udah keluar. Tapi sekarang keadaan Lala tambah buruk, jadi lo harus tanggung jawab” Tarif langsung menjelaskan dengan panjang lebar maksud dia dari memanggil Po. Biar nggak GR. Po mengangguk mengerti.
            “Yo wes lah! Let’s go!”ajak Po. Tapi yang lain tetep diem.
            “Loh! Gimana sih! Katanya mau nyadarin Lala, ayo ke rumah Lala!” jelas Po. Yang lain langsung paham dan langsung mengikuti Po dari belakang.
            Mereka sampai di rumahnya Lala setelah tadi mereka izin untuk menemui Lala. Saat masuk kamarnya…
            “Lala…..” tiba-tiba Po menyapa Lala dengan ramah. Seperti sudah berteman akrab. Yang disapa langsung nengok ke sumber suara dan langsung tersenyum bahagia.
            “Pooo! Aku kangen sama kamu” Lala menghambur ke dalam pelukan Po, Po
membalasnya. Tarif, Kay dan Ceri langsung cengo.
            “Aku di mana Po? Aku nggak kenal dengan tempat ini” keluh Lala yang sepertinya ketakutan. Po mengelus rambut Lala.
            “Coba diingat ya! Ini kamar kamu, rumah kamu. Nah… anak cowok ganteng itu namanya Tarif, teman sebangku kamu. Itu Ceri, anak yang suka nyapa kamu. Itu yang di dekatnya Ceri Kay pacarnya Ceri dan sohibnya Tarif” jelas Po. Tarif tersenyum, namun Kay dan Ceri bingung dan salting. Belum pacaran kok. Belum loh ya, belum. Lala mencoba mengingat-ngingat.
            “Ya, sekarang aku ingat. Tapi aku nggak pernah melihat dia” Lala menunjuk Kay. Kay tersenyum sambil ngulurin tangan ke Lala.
            “Gua Kay. Kita emang belum pernah ketemu kok” Lala mengangguk mengerti. Akhirnya Lala ingat juga.
            Sekarang mereka berlima berkumpul di sebuah taman. Merayakan kembalinya nyawa Lala yang asli.
            “Makasih ya semuanya, udah ngingetin aku ke memori masa lau” Lala berterima kasih ke semua temannya yang sekarang duduk sejajar melihat indahnya danau. Semuanya membalas dengan tersenyum ke Lala.
            “La, kamu kok kenal sama Po?” Tanya Ceri.
            “setiap malam dia nemenin aku tidur” jawab Lala.
            “Terus pas aku bilang kamu jodohnya Tarif, kamu kok marah” Tanya Ceri lagi.
            “Oh…itu. Po suka sama Tarif. aku ingin menjodohkan mereka. Pas kamu bilang aku jodohnya Tarif aku ya marah lah! Berarti aku ngingkarin janji buat jodohin Po sama Tarif” Ceri mangguk-mangguk mendengar jawaban dari Lala.
            “Po! Ceritain dong awal kamu masuk ke dalam tubuh Lala!” sekarang Ceri berpindah ke Po. Po pun mulai menceritakan awal kisahnya.
            Aku bener-bener bingung nyari keberadaan Bami. Semenjak kecelakaan mobil dulu, kami terpisah di dua dunia. Alhamdulillah kBami masih hidup walaupun dalam keadaan koma, tapi aku sudah Innalillahi. Aku senang Bami masih hidup. Tapi aku bingung, semenjak kami berpisah di dua dunia itu, aku tak bisa bertemu dengan Bami lagi. Seperti hilang ditelan bumi. Kucari dan terus kucari. Sampai pada akhirnya aku mendengar obrolan ibu-ibu yang sedang membeli sayur menceritakan tentang Bami. Senang sekali rasanya. Tiap hari aku selalu mengunjungi ibu-ibu itu agar aku dapat kabar baru Bami. Ingin menanyakan hal lain tentang Bami, tapi aku sadar, aku tak mungkin bisa bertanya sedangkan aku sendiri sekarang sedang tidak mampunyai raga. Aku mencari raga yang pas untukku. Dan aku menemukan anak kecil sekitar umur 7 tahunan sedang bermain dengan Bami. Aku kaget, tapi aku juga senang bisa bertemu dengan Bami lagi. Dan ternyata anak kecil itu adalah tetangganya Bami. Tekadku sudah bulat untuk masuk ke dalam anak kecil itu. Hanya butuh satu jam untuk bisa beradaptasi di dalam tubuh anak kecil itu. Jiwa anak kecilnya sudah hilang, dan sekarang diganti dengan jiwaku. Dan baru mengetahui kalau anak kecil itu benama Lala. Aku lupa kalau ragaku anak kecil umur 7 tahunan, jadi aku ya bersikap seperti Lala yang sudah besar, berdandan, belajar buku anak SMA, dan aku mengobrol dengan ibu-ibu karena ingin mendapatkan kabar baru tentang seorang Bami. Dan aku juga pernah mengajari Bayem, adiknya Bami untuk menyelesaikan PR MTKnya. Aku benar-benar lupa kalau ragaku anak kecil. Semua orang di sana menatapku takjub. Dan aku baru ingat kalu aku adalah anak kecil, bukan Abatah Pocilla yang sudah besar. Keesokan harinya, ayahnya Lala mengantarku untuk diperiksa di psikologis. Dan katanya aku adalah anak indigo. Kaget sih, tapi ya biarlah. Memang salahku yang terlalu lupa kalau aku ada di peran anak kecil.
            “Jah! Jatoh-jatoh dah bibir gua gara-gara cerita panjang lebar. Liat ni…monyong bibir gua” semuanya tak menganggap keluh kesah Po, karena semuanya pada cengo mendengarkan cerita Po tadi.
            “Lo tua dong?” celetuk Kay tiba-tiba. Yang lain mengangguk setuju.
            “Jiah! Gua kagak tua kali… Maksudnya ya tuaan gua daripada kalian. Tapi karena gua matinya kelas 3 SMA, jadi ya sekarang tetep kayak anak kelas 3 SMA” jelas Po.
            “Lala bukan indigo dong. Tapi kenapa dia bisa liat elu?” sekarang Ceri yang bertanya.
            “Itu mah biar urusan yang di atas, gua mah kagak ngarti” jawab Po apa adanya. Lala semakin bingung, namun karena cerita Po tadi, Lala ingat semuanya.
            Sekarang Po cemberut, marah, kesal sama 2 pasang yang akan menjadi kekasih. Yang satu pasang di tepi danau lagi PDKT, yang satunya lagi di tengah taman yang lagi proses penembakan cinta. Po jadi dicuekin. Sekarang dia lagi bergelantungan di pohon kaya kuntilperawan nggak laku-laku. Ide iblis pun merasukinya.
            “Rif! Lo bener cinta sama gua?” Tanya Lala. Sekarang mereka duduk di bangku taman.
            “Iya La. dan Ceri bilang kalau kita itu jodoh” Tarif memegang kedua tangan Lala.
           “Jadi lo mau kan jadi pendamping gua?” lanjutnya.
            “Tapi si Po….” Tarif meletakkan jari telunjuknya di bibir Lala, sehingga Lala berhenti bicara.
            “Po udah tenang sekarang sama Bami, dan sekarang dia sudah di dunia lain” Lala mengangguk mengerti.
            “Jadi lo mau kan?” Tanya Tarif. Lala tersenyum malu sambil mengangguk. Tarif ikut tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Lala, sehingga mereka bisa merasakan hembusan nafas orang yang ada di hadapannya, jantungpun juga ikut dalam situasi ini, sehingga bekerja lebih besar dan cepat. Lala memejamkan matanya untuk bisa menikmati moment ini. Hampir saja kedua bibir mereka menyatu. Dan….
            “Lalaaa……..” Lala dan Tarif langsung merenggangkan jarak mereka agak lebar. seseorang, eh bukan ding, roh itu langsung duduk di antara mereka.
            “Ada apa Po?” Tanya Lala ramah. Sedangkan Tarif udah menampakkan wajah iblis yang ingin banget nelen si Po.
            “Cewek kunyil ini ganggu moment indah aja deh!” kesal Tarif dalam hati.
            “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini urusan cewek, jadi Tarif nggak boleh tau” Tarif langsung mendelik kesal.
            “Lah! Gua diusir?” Tanya Tarif kesal.
            “Iya rif. Jadi lo pergi aja deh! Hus…huss…” usir Po. Tarif langsung melengos pergi.
            “Hahahaha… misi gua berhasil. Belum nikah juga, udah berani kissing-an. Bukan muhrim tau!” Po berhore-hore bangga dalam hati.
            “Sial! Gua kemana nih?” Tarif berjalan-jalan tak menentu arah. Dan saat berjalan, dia menemukan sohibnya, Kay.
            “Eh! Itu Kay! Tapi sama Ceri. Ah…. gua ganggu ah…”
            “Cer, lo kan tau jodohnya Tarif, dan jodohnya Tarif itu Lala kan?” Tanya Kay. Sekarang mereka duduk sejajar melihat indahnya danau. Ceri mengangguk.
            “Terus, lo tau nggak jodoh gua?” Ceri nengok ke Kay.
            “Tanggal lahir lo berapa?” Tanya Ceri balik.
            “24 Oktober” jawab Kay. Ceri mulai meraba-raba. Dan saat itu juga Ceri langsung mendelik.
            “Kenapa Cer?” Tanya Kay saat melihat kekagetan Ceri. Ceri nengok ke Kay.
            “Masa sih ya gua ngomong kalo jodohnya Kay itu gua” rutuk Ceri dalam hati.
            “Lo tau nggak?” Tanya Kay lagi. Ceri langsung gelagapan bingung.
            “Eh! Emmm…. kalo bulan Oktober sih biasanya sama bulan Desember. gua pernah praktekin ke adek kelas dengan nyomblangin mereka. Kaya Bara sama Chili, yang cowoknya 6 Desember, yang ceweknya 18 Oktober, trus juga Eky sama Ice, cowoknya 22 Oktober, ceweknya 21 Desember. Jadi ya… kemungkinan besar jodoh bulan Oktober tuh Desember” jelas Ceri panjang lebar. Kay mengangguk mengerti.
            “tapi lo nggak tau jodoh gua?” Tanya Kay. Ceri menggeleng.
            “Lo lahir tanggal berapa Cer?” Tanya Kay lagi.
            “6 Desember” jawab Ceri polos. Tiba-tiba Kay menatap Ceri jahil. Ceri yang digituin menatapnya bingung.
            “Kenapa?”
            “Lo jodoh gua kan?” Tanya Kay sambil menoel dagu Ceri. Ceri langsung menunduk malu sambil mengangguk kecil.
            “Haha.. kenapa nggak jujur aja?”
            “Gua malu” jawab Ceri masih menunduk. Tiba-tiba seseorang dari belakang mengagetkan mereka.
            “Hayolo! Pacaran aja” mereka berdua langsung nengok ke belakang.
            “Eh Tarif. Lala mana?” Tanya Ceri.
            “Lala sama kuntilperawan si Po. Kesel gua, dia ganggu moment gua sama Lala!” Tarif mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Po ke Ceri dan Kay. Ceri dan Kay langsung terkikik.
            “Kuntil gitu juga bantuin lo kan rif” Kay menyadarkan Tarif agar dia merasa berterima kasih ke Po.
            “Oh iya ya, gua harus terima kasih”
            “Kamu pulang sekarang?” Tanya Lala sedih. Sekarang Lala, Ceri, Tarif dan Kay sedang berkumpul di kamar Lala. Melantunkan kata perpisahan untuk Po.
            “Iya La. Gua nggak mau ganggu hidup kalian lagi. Udah cukup sampai di sini aja” jawab Po. Lala dan Ceri langsung memeluk Po.
            “Po nggak ganggu kok. Kapan-kapan kesini lagi ya!” Lala sekarang sudah menangis sesenggukan.
            “Iya. Po kapan-kapan kesini kok. Udahlah jangan nangis!” Po menghapus air mata Lala.
            “Gua juga bakal kangen lo kok Po” Ceri memeluk Po erat.
            “Iya Cer, gua bakal kangen kalian semua. Udah ah! Kok mellow gini sih! Gua pulang ya” Po melambaikan tangan tanda perpisahan. Perlahan kemudian, wujud Po menghilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s