Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Janji Terakhir

image

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Wikaya, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.

“Maafin aku Ceria, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Ceria. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Wikaya, aku sangat mencintainya.

Malam ini Wikaya menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Wikaya dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Wikaya di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Ceria, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”

“Ya tentu, tapi Ceria, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik taksi?”

“Engga kok, ya udah kita panggil taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Wikaya. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Wikaya menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Wikaya menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Wikaya perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Wikaya benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Wikaya, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

“Kenapa Kay? Mienya gak enak?”

“Enggak kok, mienya enak, cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Ceria?”

“Enggak. Aku sering kok makan ditempat kayak gini. Mie ayamnya enak loh. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Wikaya gak pernah makan ditempat kayak gini. Tapi sepertinya Wikaya mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Tiga tahun bersama Wikaya bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Wikaya sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Wikaya berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Wikaya. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Wikaya Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di taksi?”

“Yakin di saku gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“Ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“Ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

Saat di kampus, aku bertemu dengan Pohand dan Kaiu. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir dua bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Pohand menarik tanganku.

“Ceria, kamu sakit? Kok pucet sih?”

Pohand bicara padaku, ini seperti mimpi, Pohand masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja kok Hand. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sih dimainin sama cowok playboy kayak Wikaya! Jangan-jangan Wikaya gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“Stop Kai! Kasian Ceria! Kamu kenapa sih Kai bahas itu mulu? Ceria kan gak salah.”

“Udah deh Hand, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Ceria! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”

Kaiu bener, jangan-jangan Wikaya gak sayang sama aku, Wikaya gak cinta sama aku, itu yang buat Wikaya selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Wikaya dan takut kehilangan Wikaya. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Wikaya padaku. Jika benar Wikaya tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Wikaya bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Wikaya menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanita itu, sangat jelas, dia sahabatku, Kaiu.
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Wikaya. Akan ku pastikan, apa Wikaya akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Wikaya.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang Kay?”

“Maaf Ceria, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana Kay?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”

“Kay! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Kaiu jadi kakak kamu? Hah?!”

“Ceria, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

“Aku liat sendiri kamu pergi sama Kaiu Kay! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu Kay! Kenapa kamu harus selingkuh sama Kaiu Kay? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus Kay!”

“Ceria ini gak…….”

Aku buang ponselku, ku laju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Wikaya tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Wikaya, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Wikaya datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Wikaya sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Wikaya, dan janjiku takkan kuingkari, tidak seperti janji-janji Wikaya yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Wikaya. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Wikaya ada dihadapanku.

“Maafin aku Ceria! Aku sama Kaiu gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ceria!

“Kita udah putus Kay! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar lima juga bukan urusan aku!”

“Tapi Ceria…..”

Aku berlari meninggalkan Wikaya, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Wikaya terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………

“Wikayaaaa…”

Wikaya tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Wikaya.

“Wikaya, maafin aku!”

“Ceria. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Wikayaaaaa……”

Wikaya meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Wikaya semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Wikaya menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Wikaya didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Wikaya meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Wikaya yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Wikaya, tatapan Wikaya, takkan pernah bisa kulupakan.

“Ceria sayang, ini ada titipan dari Ibunya Wikaya. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Wikaya tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Wikaya, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

    Dear Ceria,

    Ceria sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo cuma kamu yang terbaik buat aku, cuma kamu yang aku cinta.
    Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
    Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Ceria.

    Love You
      -Wikaya-

Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Wikaya, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama Wikaya!”

“Ceria, kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Wikaya dijari manisku.

“Ceria, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama Wikaya Bu!” kulepas cincin pemberian Wikaya dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Wikaya Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”

Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s