Posted in FTV / Sinetron

#SINET: A Sundae For Sunday eps. 3

Episode sebelumnya: #ASFSeps2

image

Rabu, 12 Agustus 2015.

“Aku nggak ngerti deh, Sop…. Katanya serius ngincer kak Kay, kenapa sekarang kamu malah udah punya pacar baru, sih?” tanya Kerang, seorang anak kelas dua, pada temannya yang bernama Sop.

Sop mencibir, “Yaelah, Rang. Gue udah usaha mati-matian, bahkan bikin pacarnya salah paham terus akhirnya mereka putus, tapi dia nggak nanggepin gue sama sekali.”

“Jadi yang bikin kak Kay sama kak Rena putus itu kamu, Sop?” tanya Kerang lagi.

Cewek yang bernama lengkap Rana Audi Marisop itu pun mendengus kesal mendengar pertanyaan temannya lalu berkata, “Kerangku sayang… Inget nggak waktu lo minta tolong sama kak Kay buat ngomong ke kepsek soal ide Magic Hour dari gue sekitar tiga bulan lalu? Sekarang ide gue udah dijadiin tema pensi.”

“Iya, gue inget.”

“Waktu itu kan gue udah chat kak Rena pake HP kak Kay yang ditinggal di kelasnya. Untung aja kelasnya lagi kosong waktu itu.”

Kerang mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. “Kamu chat apa ke kak Rena?”

“Gue kirim sms ngajak kak Ceria ketemuan.”

“Kok ngajak kak Ceria tapi nge-chat kak Rena?”

“Kan ceritanya salah kirim, baby. Biar kak Rena marah sama kak Kay.”

Kerang mengangguk lagi.

“Eh taunya kak Rena beneran marah, ditambah waktu itu kak Kay beneran ada tugas sama kak Ceria buat ngirim proposal ke ketua yayasan. Lucky me.

Kerang menyahut, “Jadi kak Rena salah pahamnya tambah parah dong, Sop?”

“Yup. Akhirnya lo ngerti juga.”

Tapi Kerang justru terlihat semakin bingung. “Kamu kan udah berhasil, tapi kenapa jadiannya malah sama Lion? Ah, Kerang pusing.”

Sop memanas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kerang. “Nah, itu dia masalahnya. Setelah putus, gue udah coba deketin kak Kay dengan berbagai cara tapi dia malah ngehindar. Eh sekarang malah beneran deket sama kak Ceria. Kakak kelas belagu emang. Udah hampir tiga bulan gue berjuang. Capek, Rang.”

“Oh…. Iya, iya. Kerang ngerti. Kamu capek itu berarti kamu butuh energi yang banyak kan, Sop. Ke kantin, yuk?”

Sop hanya mampu menghela nafas panjang menghadapi temannya itu.

*****

Sekolah diliburkan hanya untuk anak kelas tiga yang sebagian besar memang menjadi pengisi acara maupun panitia dari pentas seni yang akan berlangsung sehari lagi, tapi Rena malah merasa lebih lelah daripada hari-hari biasanya.

Break latihan, Rena langsung melangkahkan kakinya menuju kelas untuk ngadem karena ruangan kelasnya memang ber-AC.

Saat membuka pintu, didapatinya ruangan sudah dingin tanda ada yang sudah menghidupkan pendingin ruangan sedari tadi. Diatas meja Rena pun ada sebuah es krim favoritnya yang sangat menggugah selera.

Ketika tangan Rena hampir menyentuh es krim tersebut, Kay keluar dari balik gorden, membuat Rena mengurungkan niatnya untuk mengambil es krim yang sebenarnya sudah sangat ingin disantapnya.

“Ngapain lo disini?” tanya Rena ketus.

“Untuk memastikan es krim yang ada di depan lo belum cair,” jawab Kay sambil tersenyum.

Niat Rena untuk mendinginkan dirinya yang kepanasan hancur total, namun saat ia hendak meninggalkan ruangan, tangan Kay mencengkram tangan Rena kuat lalu menariknya.

Rena yang kehilangan keseimbangan jatuh tepat didalam pelukan mantan tersayangnya itu.

“Biarin kayak gini, sebentar aja. Gue kangen banget sama lo, sama kita, sama semuanya,” kata Kay sambil mengeratkan pelukannya.

Rena terdiam.

“Sampe sekarang, gue masih sayang sama lo, tapi lo nggak pernah mau tau,” tutur Kay.

Hangatnya, rasanya, masih sama.

Rena juga merindukan Kay, Rena juga masih sayang pada Kay, hanya saja Rena memutuskan untuk tidak membalas pelukan Kay, namun juga tidak melepaskannya.

*****

“Liat Rena, nggak?” tanya Eky pada setiap orang yang ditemuinya di sepanjang koridor, namun tak satu pun jawaban iya diterima olehnya, yang ada hanya jawaban tidak, bahu yang terangkat, atau sebuah gelengan kepala.

Eky terus mencari, ia sangat ingin memastikan bahwa Rena yang menjadi rekan kerjanya kali ini adalah Aren yang selama ini sangat ingin ditemuinya.

Tak sengaja Eky melihat sebuah ruang kelas dengan pintu yang terbuka dengan sedikit suara terdengar di telinganya, ia penasaran lalu mendekat.

Kemudian Eky mengintip melalui jendela yang walau ditutupi gorden masih memiliki celah.

Apa yang dilihat Eky disana membuatnya bersyukur karena telah menemukan orang yang dicarinya, namun juga bersedih melihat orang itu sedang bersama orang lain.

Berpelukan.

*****

Kay melepaskan pelukannya dan tersenyum lagi. “Makasih karena lo nggak ngelepasin pelukan gue. Jangan lupa makan es krimnya, itu spesial.”

Setelahnya, Kay meninggalkan Rena terpaku sendirian di kelasnya.

Saat Kay sudah menghilang dari pandangan, Eky masuk kedalam dan langsung membanjiri Rena dengan pertanyaan. “Itu pacar lo? Dia sayang banget ya sama lo? Jadi dia yang bikin lo nangis kemaren? Lo juga sayang ya sama dia?”

Tanpa diduga, Rena justru memeluk sosok didepannya tanpa menjawab satupun pertanyaannya. Refleks.

Eky yang sedikit terkejut memilih untuk membiarkan Rena melakukan itu, tangannya pun memegang bagian belakang kepala Rena dan mengelusnya lembut guna menenangkan siswi yang sedang memeluknya ini.

Rena membenamkan wajahnya di bahu Eky, berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga, namun kalimat Eky yang di dengarnya kemudian justru membuat tangisnya pecah.

“Nangis aja, jangan dipendem. Nanti lo bisa cerita sama gue kalo lo nggak keberatan. Gue bakal denger sepenuh hati,” ucap Eky pelan.

Cukup lama Rena tenggelam dalam pelukan Eky.

“Dua kali. Dua kali lo nangis di depan dia, Ren,” batin Rena.

Melihat Rena tak kunjung berhenti menangis sementara waktu istirahat latihan sudah hampir habis, Eky meluncurkan guyonan kecil agar Rena sedikit terhibur. “Tau nggak, Ren? Dari dulu sampe sekarang, lo masih aja cengeng, dan itu bikin gue nggak pernah bisa jauh dari lo, apalagi ngelupain lo.”

Mendengar itu, Rena langsung melepaskan pelukannya dan menatap Eky bingung.

It’s me. Lo nggak ngenalin gue? Gue aja tau kalo lo itu Aren, cinta pertama gue.” Eky memegang bahu Rena lalu melanjutkan, “Alen, Eky kangen banget sama Alen.”

Rena tersenyum, suasana hatinya langsung tenang seketika.

Eky ikut tersenyum melihat gadis kesayangannya tersenyum. “Remember me?”

“Alen-mu ini juga kangen sama kamu.”

*****

Lagi-lagi pulang malam. Latihan baru dibubarkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit, nyaris setengah sebelas.

Saat melihat Ceria menghampiri, Rena sudah was-was. “Mau ngapain lagi dia?”

“Ren, gue bawa mobil, nih. Mau nebeng?” tanya Ceria dengan wajah berbinar.

“Sok baik,” guman Rena dalam hati.

Ceria melambaikan tangan kanannya didepan wajah Rena yang terlihat seperti sedang melamun karena tatapannya kosong. “Renaaaa?”

Belum sempat Rena menjawab, suara lain sudah terdengar sangat jelas. “Rena pulang sama gue,” katanya.

Rena tersenyum saat mengetahui Eky-lah orangnya.

Sementara itu beberapa meter di belakang mereka, Kay sedang memperhatikan dengan seksama. Harapannya hampir hilang, apa yang bisa ia lakukan?

“Loh kalian…. pacaran?” tanya Ceria langsung.

Rena diam saja, sedangkan Eky mengangguk.

Wajah Ceria semakin berbinar. “Waaaah. Congratulations! Gue ikut seneng.”

“Seneng kan lo, jalan lo buat dapetin Kay makin mulus,” batin Rena.

Ceria kemudian berlari riang ke arah Kay guna mengajak Kay pulang bersamanya.

Ajaib! Kay menerima tawaran itu, ditambah dengan senyum, senyum yang jarang sekali ditunjukkannya pada perempuan lain selain Rena.

Rena menyaksikan semua kejadian didepan matanya dengan jelas. Hari ini, hatinya terluka lagi. Hati Kay pun merasakan hal yang sama, tapi Rena tidak pernah mengetahuinya.

“Ren, balik sekarang?”

Rena mengangguk tanda setuju.

Di perjalanan pulang, hati Rena berbicara, “Rena sayang Kay, tapi Kay malah makin deket sama Ceria. Kay jahat, Eky yang baik. Rena selalu nyaman sama Eky, dari dulu sampe sekarang. Rena harus seratus persen move on dari Kay, harus.”

*****

“Lo nggak marah gue bilang kita pacaran?”

Rena menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Lo sama gue kan emang udah…..” Rena sengaja menggantungkan kalimatnya.

Eky membuka helmnya dan menatap Rena dalam-dalam. “Kita pacaran, gitu?”

“Gue tadi sempet mikir kalo kita harus pura-pura pacaran.” Rena balas menatap mata Eky sama dalamnya. “Tapi setelah gue inget-inget, kita emang pacaran dan nggak pernah putus. Right?”

Eky tertawa. “Gue kira cuma gue yang masih nganggep lo pacar gue, Len.”

Stop it, Ky. Stop manggil gue Alen. Lo udah nggak cadel sekarang,” rengek Rena.

Eky meraih kedua tangan Rena lalu digenggamnya. “Lo tau, pacar gue itu Alen bukan Rena.”

“Lo mau gue buang ke laut?”

Eky kembali menggunakan helmnya lalu men-starter motornya. “Mending gue pulang, Ren. Lo serem kalo lagi galak,” ledeknya.

Rena merengut.

“Jangan ngambek. Eky pulang ya, Len. Besok Eky bawain es krim.”

Mendengar kata es krim, senyum manis Rena hadir lagi. “Hati-hati, yaa,” ujarnya.

Eky mengacungkan jempolnya lalu pergi meninggalkan Rena yang kini sibuk menduga-duga apa yang akan terjadi besok.

*****

“Dia baru putus sama pacarnya, Bam. Yaaa, nggak baru-baru banget sih, sekitar tiga bulan lalu.”

“Jadi yang lo maksud selama ini si Rena?”

“Iya, Rena, Aren, Nadya Arena.”

Bami sedang mengetik tugas saat kakak kesayangannya minta ditemani bercerita.

“Menurut lo, gue harus gimana, Bam?” tanya Eky.

“Lo harus tidur. Lo udah mulai ganggu gue soalnya.”

Eky langsung melempari Bami dengan bantal saat mendengar jawaban asal darinya. “Lo durhaka banget jadi bawahan.”

“Lo sok-sok jadi atasan di kamar gue, pake barang-barang gue, susah emang kalo remaja galau,” canda Bami.

“Gue tadi liat mantan lo jalan sama mantannya Aren, Bam,” kata Eky berniat untuk membuat Bami panas dan penasaran.

“Gue udah tau. Kay, kan? Udah basi. Semua orang tau kalo Kay sama Rena putus gara-gara Ceria.”

Gagal. Malah Eky yang sukses dibuat penasaran oleh Bami. “Jadi Aren sama Kay putus gara-gara mantan lo?”

“Nggak. Itu tuh gosip. Sebenernya sih nggak.”

“Lalu?”

“Salah paham, tapi Ceria malah baper, dia jadi beneran suka sama Kay.”

Eky merasa bersalah telah membuat adiknya menceritakan luka yang dialaminya. “Lo ganteng, Bam. Sama kayak gue. Cari yang lain, yang seumuran atau dede gemes kelas satu tuh pasti banyak yang mau sama lo. Heran gue, lo doyannya sama kakak kelas,” ujar Eky berusaha menghibur Bami.

“Apaan sih? Lo lebay tau, nggak? Sana tidur. Bosen gue sama lo.”

Eky tertawa cukup keras. “Iya, deh. Bye my sweetie bro.

“Geli, bego!”

Jawaban singkat Bami membuat tawa Eky semakin menjadi. Eky dan Bami memang hampir tidak pernah bertengkar. Mereka kompak, sangat kompak. Hal ini membuat Eky sangat bersyukur dengan kehidupannya.

Sesampainya dikamar, Eky mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rena, berdoa, lalu tertidur dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.

*****

Michili Ziudith: gue kira lo masih cinta mati sama kay, tapi kata anak2 lo jadian sama si anak baru

Michili Ziudith: bener?

Michili Ziudith: kok gue ga tau apa2 sih ren

Michili Ziudith: tegaaaa fix

Michili Ziudith: kalo lo udah baca chat gue, lo harus telp gue

Michili Ziudith: kalo ga, abis lo besok

Sudah lewat pukul sebelas, tapi Rena malah baru selesai mandi. Seusai membaca pesan dari sahabatnya itu, Rena langsung menekan tombol free call seperti apa yang diminta oleh Chili.

“RENAAAA!”

Rena refleks menjauhkan ponselnya dari telinga dan menekan tombol loudspeaker. “Tai lo. Mau bikin gue budeg?”

“Ya maapppp,” kata Chili sambil tertawa. “Sekarang ceritain semuanya!”

“Kejadiannya cepet, Chil. Gue bahkan nggak tau gimana ceritanya.”

“Dih, bilang aja lo nggak mau cerita.”

Rena mengubah posisinya dari duduk di tepi tempat tidur menjadi berbaring di tengah. “Nggak gituuuu, tapi semuanya emang aneh banget. Serius deh.”

“Terus lo beneran pacaran sama Eky yang anak baru itu?”

“Kenapa ya gosip selalu cepet banget nyebarnya?”

Yes or no?”

Rena mendengus. “I think yes.

“KOK BISAAAA?!”

Mendengar suara cempreng Chili itu lagi, Rena langsung memutuskan sambungan sepihak, lalu mengirim pesan super singkat.

Nadya Arena: tidur dulu bye.

*****

Masih disini, menunggumu.
Masih disini, dengan rasa itu.
Masih disini, menantimu.
Masih disini, walau dirimu semakin jauh.

Bukan lagi kuasaku, bahkan jika dirimu memilih untuk mencoba hal baru tanpaku.
Aku kini hanyalah debu di masa lalu, yang ingin kau singkirkan, yang ingin kau hempaskan.

Kay menutup buku tugas bahasa Indonesia-nya. Tugas membuat puisi yang biasanya menyusahkan, hari ini sangat mudah diselesaikan olehnya. Padahal masih ada waktu lebih dari seminggu sebelum tugas itu dikumpulkan.

Kay menarik nafas pelan, mencoba menenangkan hati dan perasaannya.

Sunyi.

Kay lalu mengambil kameranya, melihat satu persatu isinya, melihat kenangan yang ada di dalamnya. Setelah puas, ia pun mengembalikan kamera itu pada tempatnya semula.

Kay ingat semuanya. Pertemuan pertamanya, pertemanannya, masa-masa pendekatan yang berujung dengan pacaran, bahkan pertemuan terakhirnya dengan Rena sebagai pasangan yang baik-baik saja, dua hari sebelum Rena mengakhiri segalanya.

“Kay, kayaknya si Sop yang anak kelas dua itu naksir berat deh sama kamu.”

“Nggak cuman dia kali, hampir semua cewek di sekolah ini juga naksir sama aku.”

“Najis.”

“Sok najis padahal sendirinya ngerasain.”

“Kay itu kan udah Rena anggep tukang es krim pribadi Rena.”

“Gitu, ya?”

“Nggak, deng. Nggak usah digituin mukanya, kamu nggak makin ganteng kalo kayak gitu.”

“Gimana rasanya pacaran sama cowok idaman, sayang?”

“Sok imut. Geli.”

“Jawab dulu, lah.”

“Aku nggak pacaran sama cowok idaman, Kay. Jadi aku nggak tau gimana rasanya.”

“Pinter banget ngeles.”

“Kamu tuh pede abis. Narsis.”

“Tapi sayang, kan?”

“Nggak.”

“Aku tetep sayang kamu walaupun kamu nggak sayang aku kok, Na.”

“Gombal.”

“Serius.”

“Rena sayang kok sama Kay.”

“Nggak usah dijelasin gitu, aku udah tau. Nggak ada yang bisa bikin aku bertepuk sebelah tangan selama ini.”

“Kalo diiyain aja, dapet es krim, nggak?”

“Es krim terus, akunya kapan?”

“Kalo mau cemburu sama yang lain, kek. Masa cemburu sama es krim. Nggak waras.”

“Yang katanya nggak waras itu biasanya yang bikin sayang berat.”

“Iya, dan kamu yang nggak waras ini emang udah bikin aku sayang berat.”

Kay tersenyum getir, hingga hari ini memori-memori itu masih selalu mengganggu malamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s