Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Perfect Love

image

Lala menutup pintu mobilnya lalu menggandeng tas tangan yang ia bawa, memakai jas dokter kemudian berjalan menjauhi mobil dan masuk kedalam rumah sakit

Lala tersenyum ketika beberapa suster dan dokter menyapanya hangat, Lala ikut tersenyum hangat.

Lala mendorong pintu ruangannya dan menyapa suster disana 

“Pagi Ruk.”Sapa Lala ketika ia duduk di kursi kerjanya, Inaaa maruka atau labih sering di sapa Maruk ini menoleh kemudian berjalan mendekati Lala.

“Eh, La. Tumben lo cepet dateng?”Ucap Maruk, Lala menyentil kening Maruk membuat Maruk tambah membesarkan tawanya.

“Lo ada operasi lagi hari ini?”Tanya Maruk, Lala mengangguk kemudian melihat beberapa ronsenan, mata Lala berhenti pada satu ronsenan.

“Loh, ini dia kenapa?”Tanya Lala, Maruk menghentikan aktivitasnya dari membersihkan ruangan, dia berjalan menuju tempat Lala.

“Oh itu, namanya Lusa, dia kaya patah tulang gitu karena ikut kayanya abangnya di asrama gitu”Ucap Maruk, Lala hanya mengangguk anggukkan kepalanya dia kemudian menyuruh Maruk agar Lusa -pasien kecilnya- masuk keruangannnya.

Seorang gadis kecil, berkepang dua dan berpenampilan feminim masuk kedalam ruangan dan di gendong oleh abangnya tersenyum pada Lala

Lala balik tersenyum pada gadis itu, dia kemudian menyuruh abang sigadis kecil untuk berbaring di ranjang.

Ketika sudah berbaring Lala kemudian mengecek beberapa tulang dan sendinya, selesai mengecek keadaan Lusa, Lala tersenyum lalu menatap Lusa.

“Kamu kenapa? kok tulangnya geser gini?”Ucap Lala, Lusa hanya tersenyum kemudian menggeleng.

“Aku nggak papa ko bu dokter.”Ucap Lusa, Lala mencubit hidung Lusa.

“Nggak boleh bohong.”Ucap Lala, Lusa hanya tertawa kecil, Seorang pria muda yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

“Makasih.”Ucap pria yang menggendong anak laki laki tersebut, Lala tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya pada Lusa yang terlihat menggemaskan.

“Kak Tarif ih.”Samar samar Lala dapat mendengar suara Lusa yang berteriak kesal kearah Tarif. 

“Jadi namanya Tarif.”Gumam Lala, dia tersenyum kecil lalu memeriksa pasien yang lain.

***

“Lusaa, besok kamu check up ya?”Ujar Tarif, Lusa mengangguk bersemangat.

“Iyaa kak. Bu dokternya baik banget tau.”Ucap Lusa, Tarif mengacak acak rambut Lusa lalu tersenyum.

“seminggu lagi kaka mau kerja ya, kamu sama mbak Rena ya.”Ucap Tarif, Lusa mengerucutkan bibir nya lalu menyilang tangan di depan dadanya.

“Sama mbak Rena terus kak.  pengen sama kakak.”Ucap Lusa, Tarif berhenti dari aktivitasnya merakit pistol, dia berjongkok menghadap Lusa.

“Lusa, Rena itu mama kamu.”Ucap Tarif, Lusa menggeleng.

“Ih bukan kak.”Ucap Lusa, Tarif menggeleng kemudian mengacak acak rambut Lusa.

“Yaudah kakak mau tidur dulu, goodnight Lus.”Ucap Tarif lalu bangkit menuju kamarnya.

***

“Ruk lo percaya nggak sama cinta pada pandangan pertama?”Ujar Lala, Maruk yang sedang membereskan barang barang yang berada di rumah sakit menoleh.

“Percaya nggak percaya. Kenapa emangnya?”Tanya Maruk. Lala hanya menggeleng sambil tersenyum simpul.

Maruk melihat tingkah sahabatnya itu kemudian mengangkat satu alisnya lalu tersenyum menggoda.

“Lo suka sama abangnya Lusa ya? ngaku lo ngaku lo ngakuu.”Ucap Maruk, Lala hanya tersenyum malu.

“Ciee.”Ucap Maruk, Lala mengambil bantal yang ada diranjang rumah sakit lalu melemparkan bantal itu kepada Maruk.

“Apaan sih Ruk.”Ucap Lala malu.

“Cie Lala pipinya merah cieee Lalaa.”Ucap Maruk, Lala kemudian menjitak Maruk dan terjadilah adegan kejar kejaran di salah satu ruangan dokter.

***

Lala kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, bekerja di rumah sakit ternama di indonesia, Lala bahkan tidak jarang membayar biaya pengobatan orang orang yang tidak mampu.

Lala Lahfah seorang gadis cantik berumur 21 tahun tetapi karirnya di dunia kedokteran semakin hari semakin menaik.

Dengan badan yang bagus, muka bak bdadari, kulit yang mulus, dan kepintaran yang berada di atas rata rata. Siapa yang tidak suka kepadanya? bahkan beberapa dokter lelaki tak sungkan menyatakan perasaan mereka kepada Lala, tetapi di tolak dengan lembut oleh Lala.

Lala masuk dan menyapa Maruk yang selalu datang duluan daripada dirinya, Lala meletakkan tasnya lalu berkata pada Maruk.

“Ruk, Lusa hari ini check up lagi kan?”Tanya Lala, Maruk hanya mengangguk sambil menaik turunkan alisnya.

Beberapa menit kemudian pasien pasien Lala sudah beberapa di obati dan Lusa belum datang juga, padahal ini sudah jam makan siang. Lala hanya mendengus kemudian izin kepada Maruk untuk kekantin.

Lala berjalan santai sambil sesekali tersenyum ramah kepada pengunjung rumah sakit yang ia kenal.

Ketika sampai di kantin, Lala mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Lala mengerutkan keningnya lalu menyipitkan matanya.

“Loh itukan Lusa?”Gumam Lala.

“Tapi Lusa, abangnya sama siapa perempuan itu? keliatan akrab banget sama Tarif.”Gumamnya.

Lala memutuskan untuk duduk di dekat meja mereka bertiga, Lala dapat mendengar kata “Mama” “Kakak” “Benci” dan beberapa bentakkan yang Lala ketahui untuk Lusa.

Lala menoleh kebelakang, dan ketika itu juga mata Tarif menuju tepat kedalam matanya, buru buru Lala menolehkan kepalanya kearah lain menyembunyikan warna merah di pipinya

Lala dapat mendengar suara langkah kaki dan sepertinya mendekat ke arah nya. Ia dapat mencium bau mint ketika sepasang sepatu berhenti di sebelahnya.

Tarif dengan sejuta pesona, mengenakan baju tentara lengkap dengan pistol di pinggangnya, sambil menggendong Lusa yang menangis.

Lala buru buru bangkit lalu mengambil alih untuk menggendong Lusa, Lala dengan telaten berusaha membujuk Lusa agar tidak menangis lagi.

Dan beberapa menit kemudian berhasil, Lala dapat menenangkan Lusa, Tarif tersenyum kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Lala.

“Lusa tadi ketemu sama mamanya.”Ucap Tarif memulai pembicaraan.

Lala menoleh kemudian mengangkat alis, tidak mengerti.

“Iya, Lusa itu nggak mau mamanya itu Rena, nggak tau kenapa, padahal Rena sayang banget Lusa.”Ucap Tarif, Lala menoleh ke Lusa yang sesegukan.

“Loh kenapa dia nggak mau? kan itu mamanya.”Tanya Lala, Tarif mengangkat bahu kemudian bersender ke kursi.

“Dari dulu, Lusa sama gue, Rena sibuk, dia nggak bisa ngejagain Lusa siang malem, jadi Lusa dititipin sama gue, dan Rena setiap sebulan sekali dateng kerumah.”Cerita Tarif, Lala hanya mengangguk, kemudian sesekali melirik Lusa yang sepertinya mengantuk di gendongannya.

“Tapi pas umur Lusa 5Tahun Rena nggak pernah datang kerumah lagi, Lusa kadang nangis karena rindu Rena, gue udah coba telfon Rena beberapa kali tapi nggak diangkat.”Ucap Tarif, dia memainkan bon makanannya yang ia beli tadi.

“2 tahun kemudian Rena dateng, kerumah sambil bawain Lusa oleh oleh, tapi Lusa nggak ngehirauin Rena lagi. Dia malah menghindar setiap Rena dateng kerumah.”Ucap Tarif. Lala mengangguk kemudian membelai rambut Lusa yang sudah tertidur.

“Kasian yah, gue tau perasaan Rena kaya gimana.”Ucap Lala, dia berdiri kemudian menyerahkan Lusa kepada Tarif.

“Gue mau kerja dulu, masih ada 2 pasien lagi sebelum jam sore.”Ucap Lala, Tarif mengangguk dan mengambil Lusa dari gendongan Lala.

Lala tersenyum kemudian mengambil tasnya, lalu melangkah dengan senyuman yang sepertinya abadi di wajahnya.

Beberapa langkah Lala melangkah, Tarif memanggilnya “Gue tungguin ya.”Ucap Tarif, Lala menoleh kemudian mengangguk malu malu.

*** 

Senyum Lala mengembang mengingat teriakan kecil dari Tarif ketika ia ingin kembali menuju ruangannya, dengan menggendong Lusa yang tertidur dan pakaian tentara yang membuat dirinya terlihat berwibawa sekaligus terlihat penyanyang.

Semua berkas tentang ronsen dan beberapa hasil pemeriksaan telah beres dan di taruh di lemari.

Lala berjalan keluar setelah berpamitan kepada Maruk, ia keluar dan tepat di pintu masuk ruangannya Tarif sedang bercanda dengan Lusa.

“Hai, Rif.”Sapa Lala, Tarif menoleh kemudian berdiri dengan posisi tangan sebelah kiri menggandeng Lusa

“Hai juga, La.”Sapa Tarif balik, dia tersenyum sambil mengulurkan tangan membuat Lala gegalapan.

“Eh.” Tapi tak urung uluran tangan Tarif Lala sambut dengan suka cita. Mukanya memerah menambah sisi imutnya bagi Tarif.

Lala tersenyum malu ketika jermari tangannya bertautan dengan jemari kokoh Tarif.

Di sebelah kiri Tarif, Lusa tersenyum bahagia, walaupun umurnya baru menginjak 8tahun, ia sudah mengerti apa arti dari tatapan mereka berdua.

Dan disana Lala menganggap bahwa ia dan Tarif resmi mempunyai ikatan satu sama lain.

***

8bulan kemudian

Lika liku perjalan cinta mereka sangat susah, salah satu contohnya Tarif selalu pergi saat mereka berkencan. 

flashback

“Nonton yuk.”Ajak Lala ketika mereka sedang menikmati makanan di salah satu cafe mall.

“Ayok.”Jawab Tarif, Lala mengganguk bersemangat, ia langsung menggandeng tasnya dan menarik Tarif keluar.

Ketika sampai didepan pintu bioskop, Lala berjingkrat senang, bukan apa apa, setelah jadian selama 5bulan Tarif belum pernah mengajaknya untuk berkencan. Apalagi menonton Film, karena Tarif sangat sibuk untuk melaksanakan tugasnya, yaitu membela negara.

Tarif yang mengenakan pakaian tentara menjadi tontonan, ditambah Lala yang mengenakan jas dokter.

Setelah membayar tiket untuk Film Aku sayang SPP yang di sponsori oleh ScreenplayPard, Mereka berdua menunggu cukup lama, sampai akhirnya studio 3 dibuka dan mereka dipersilahkan masuk.

Tarif dan Lala duduk di tengah tengah membuat mereka langsung menjadi sorotan lagi.

“Sumpa rif, aku malu diliatin.”Adu Lala, Tarif mengacak acak rambut Lala kemudian mencubit pipinya.

“Jangan malu, sayang. Ada aku. Pede ok?”Ucap Tarif, Lala mengangguk pelan, mencoba untuk menahan pipinya agar tidak terlihat merah.

Film sudah di mulai, Diawali dengan adegan lucu yaitu perdebatan kekasih yang sangat fenomenal, Bara dan Cili sedang bertengkar adu mulut yang diakhirnya Bara mencium kening Cili dan membuat Cili menghentkan ocehan panjangnya. membuat beberapa penonton tersenyum geli.

Adegan kedua yaitu Ceri dan Kay yang sedang memakan Ice Cream, Kay sengaja menoel pipi Ceri dengan Ice Cream  yang membuat Ceri berteriak kesal, ia membalas Kay dengan cara memberikan Ice Cream di pipi Kay, dan langsung lari, Kay yang tidak terima mengejar Ceri sampai dapat, ia menangkap Ceri dengan memeluk Ceri dari belakang.

Ketika sampai di adegan ketiga, Tarif mendapat telfon, dia meminta izin kepada Lala yang dibalas dengan anggukan.

Lala yang sedang fokus dengan film tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Tarif di telepon.

Ketika asik melihat adegan Bayem dengan Upil, Lala di kejutkan oleh Tarif yang menepuk pundaknya.

“La.”Ucap Tarif, Lala menoleh kemudian mengangkat alisnya

“Apa Rif?”Tanya Lala, Tarif mengembuskan nafas kemudian menatap Lala.

Lala yang peka langsung mengerti arti dari tatapan itu, dia mengelus pundak Tarif lembut kemudian mengangguk.

“Yaudah pergi sana, pasti mau bela negara lagi kan? aku tungguin ko pahlawannya aku dan Negara pulang.”Ucap Lala disertai senyum tipisnya, Tarif menghembuskan nafas beratnya.

“Kamu nggak papa pulang sendiri?”Tanya Tarif, Lala mengangguk kecil, Tarif kemudian mengacak rambut Lala lalu bangkit berdiri, dan berbisik “Tungguin aku.”

Lala mengangguk disertai senyman tipisnya, setelah Tarif pergi Lala menghembuskan nafasnya lalu mencoba fokus untuk menonton.

***

Hari ini tepat 8 bulan mereka jadian, hari ini Tarif mengajak Lala untuk berkeliling di basecamp pasukannya.

Tarif yang menjabat sebagai kapten pasukan khusus tentu saja diperbolehkan membawa teman untuk masuk kedalam kamp tentara pasukan khusus.

Tarif selalu setia mengaitkan jemari nya di jemari lentik Lala.

Ketika sudah sampai diruangan penyimpanan senjata, Tarif menoleh kemudian menatap Lala dalam.

“La aku mau ngomong serius.”Ucap Tarif, Lala ikut menatap Tarif dalam.

“Ngomong aja Rif.”Ucap Lala, jantungnya berdegub kencang harap cemas menanti apa yang akan di beritahu oleh Tarif.

Terlihat Tarif menghembuskan nafasnya lalu menggaruk tengkuknya.

“Kenapa Rif?”Tanya Lala, Tarif menatap Lala tidak tega.

“Aku mau ‘liburan’ selama 9 bulan di luar negri, La. Buat pelatihan dan itu cuma buat pasukan khusus doang.”Ucap Tarif, Lala melebarkan matanya, lalu menutupnya dengan senyum manis yang Tarif tau itu palsu.

“Oohh.”Ucapan singkat dari Lala mampu membuat Tarif mati kutu. 

“Nggak papa kan?”Ucap Tarif, Lala tersenyum tipis dan menggeleng.

“Nggak papa aku selalu nungguin jagoan aku pulang.”Ucap Lala, Tarif tersenyum lalu mencium kening Lala.

***

Hari ini adalah hari keberangkatan Tarif ke luar negri, dibandara ia sudah di tunggu oleh Rena, Lusa, dan Lala dan ayah Tarif yang dulu juga seorang tentara.

Lusa di gendongan Runa tersenyum dan menepuk nepuk tangannya saat melihat mobil angkutan pasukan khusus berhenti di depan mereka.

“Bang Tarif, yeay.”Ucap Lusa, Rena menurunkan Lusa dan dengan cepat Lusa memeluk Tarif.

“Heyy!”Sapa Tarif pada Lusa.

“Apakabar cantik.”Ucap Tarif, Lusa semakin memeluk Tarif erat.

“Jangan lama lama dong bang pulangnya, Ntar aku, mama sama Kakak cantik kangen.”Ucap Lusa, Tarif terkekeh kemudian mengangguk.

“Iya kakak nggak lama kok.”Ucap Tarif.

Lala tersenyum hangat kemudian menghampiri mereka, diikuti oleh Rena.

“Hey jagoannya Lala.”Ucap Lala, Tarif menoleh kemudian tersenyum.

Lusa melepaskan pelukannya dan lari kedalam pelukan Rena, Rena hanya menggeleng melihat kelakuan putri satu satunya.

“Kenapa bu dokter?”Ucap Tarif, ia mendekat kearah Lala dan merentangkan tangannya.

Lala dengan cepat masuk kedalam dekapan hangat Tarif, menjaga agar air mata nya tidak turun.

“Jangan lama lama ya, nanti aku kangen.”Ucap Lala, Tarif terkekeh kemudian mengeratkan pelukannya.

“Siap bu dokter!”Ucap Tarif, ia melepaskan pelukan nya dan hormat kepada Lala.

Sedangkan Lala hanya terkekeh pelan.

Tarif mengacak acak rambut Lala lagi, Lala meringis saat rambutnya yang sudah ia tata berjam jam lamanya rusak karena tangan Aliando Starif.

Ayahnya Tarif, Azi hormat kepada Tarif yang dibalas oleh Tarif.

“Papa bangga sama kamu.”Ucap Azi, Tarif mengelus bahu Azi kemudian salam pada Azi

“Seandainya Ragu masih hidup ya.”Kata Azi, Tarif hanya menunduk.

“Pasti dia lebih bangga sama kamu.”Lanjut Azi, Tarif menunduk kemudian mengelus bahu Azi.

“Aku pergi dulu Pa.”Ucap Tarif, Azi mengangguk.

Dia beralih ke arah Rena yang sedang bercanda dengan Lusa.

“Mbak.”Ucap Tarif, Rena menoleh kemudian mengulas sedikit senyum.

“Kenapa Rif?”Tanya Rena, Tarif datang lalu mengacak acak rambut Rena.

“Gue pergi dulu, jagain Lusa jangan sampe dia nggak mau sama lo kaya dulu.”Ucap Tarif, Rena terkekeh kemudian mengangguk.

Tarif pergi diiringi oleh 4 orang yang sangat amat dia sayangi, dan sangat amat menyayanginya.

***

Bulan 1

Lala PoV

Hari ini aku sedang mengerjakan operasi besar, ketika sudah selesai, aku mendapatkan notifikasi dari Tarif. Astaga aku kangen dia.

Aliando Starif : Bu dokter, aku udah sampai, aku kangen kamu.

Aku merindukannya.

***

Bulan 2

Hari ini lagu kebangsaan sedang di putar, dan aku tiba tiba saja mengingat Tarif

Lala Lahfah : Pak tentara, udah makan? Aku kangen.

Dan itu membuatku gila.

***

Bulan ke 3

Hari ini aku sedang makan siang di salah satu restoran favorite kami berdua. Dan kini aku sendirian.

Lala Lahfah : Kamu dimana sekarang? Aku lagi makan di restoran fav kita loh. Aku kangen kamu.

Membuat tidurku gelisah.

***

Bulan 6

Sampai sekarang dia masih belum memberiku kabar padahal kalau saja dia on kami akan memperingati anniversary yang Kesatu tahun.

Lala Lahfah : km dmn? aku kgn. seharusnya 2 bulan yg lalu kita ngerayain anniv kita. 

Membuat hati tak kunjung henti memanggil namanya.

***

Bulan 9

Mana katanya mau pulang, ini udah bulan ke 9 dan dia masih nggak pulang. Hari ini aku ada operasi besar.

Lala Lahfah : BigBoss dimana? aku kangen, hari ini ada operasi besar. Aku kangen tau. 

Membuat pikiran tidak menentu.

***

Author PoV

Hari ini adalah hari dimana Tarif pulang, Handphone Tarif rusak ketika ia mencoba mencari sinyal di pedalaman negara sakura itu.

Hari ini hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh Tarif maupun Lala.

Tarif berjalan menggunakan mobil yang sudah ia hias sedimikian rupa, mobil antik yang berharga miliaran itu dijadikannya ajang untuk melamar Lala.

Ketika sampai di depan rumah Lala, Tarif masuk dengan gaya cool seperti biasa, dan mengetuk pintu rumah Lala.

Dan beruntungnya hari ini yang membuka pintu adalah seorang yang ia rindukan selama sembilan bulan ini.

Ketika membuka pintu Lala kaget dan langsung memeluk erat Tarif.

“Aku kangen.”Ucap Lala, Tarif mengelus rambut Lala pelan lalu tersenyum.

“Tengok kebelakang aku deh”Ucap Tarif, Lala melepaskan pelukannya lalu menoleh kebelakang Tarif kemudian terdiam. Tepat di belakang Tarif terdapat mobil sedan antik dengan poster di atas mobil itu bertuliskan

‘bu dokter, will you marry me?’

Tarif langsung merogoh sakunya dan berjongkok sambil mengeluarkan cincin.

“So, will you marry me?”

Lala langsung menutup mata sambil mengangguk, Tarif berdiri kemudian memaikaikan cincin cantik yang pas dengan jemari lentik Lala.

Tarif berdiri kemudian memeluk Lala erat.

“Thankyou.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s