Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Sekali Ini Saja

image

”Lihat ada bintang jatuh!” Michi menunjuk sesuatu yang bergerak cepat ke bawah membentuk sebuah cahaya yang terang di atas langit sana.

“Cepat buat permohonan, bar!” michi menyenggol lengan bara yang duduk di sebelahnya, kemudian ia langsung memejamkan mata.

Bara mengikuti gerak-gerik gadis di sebelahnya, membuat sebuah permohonan.
Malam itu seperti biasa, bara dan michi duduk di atas bukit sambil memandang langit malam yang penuh bintang. Mereka sama-sama menceritakan harapan, dan impian yang akan mereka raih. Disana, mereka berbagi cerita bersama sambil menikmati indahnya malam.

Bara dan michi, dua sahabat yang telah bertahun-tahun lamanya bersama. Membawa sejuta kisah suka dan duka tentang persahabatan mereka. Kedua insan yang memang ditakdirkan bersama, untuk merangkai hari demi hari yang penuh makna, serta menjalani setiap detik hanya berdua.
“Bintang yang indah…” ucap michi yang masih mengarahkan kedua matanya ke langit.

“Yaa. Seindah…” ucapan bara menggantung. Ia berpikir sejenak, apakah ia harus mengatakan hal itu apa tidak.

Michi menoleh ke bara, karena terlalu lama menunggu lanjutan kalimat bara. Melihat bara yang nampak bingung, michi langsung tersenyum dan menggeser posisi duduknya mendekati bara. Bara ikut menoleh ke michi yang pula tengah menatap ke arahnya.

“Seindah persahabatan kita, bar.” Kata michi sambil menatap lekat kedua bolamata bara.

Bata pun demikian. Menatap lekat kedua bolamata michi, yang entah sejak kapan ia mencintai bolamata tersebut. Mencintai kedua bolamata michi, ya, sangat mencintainya.

Hening kemudian. Mereka sama-sama diam dalam tatapan. Tak lama, hanya dua detik. Setelah itu, michi kembali menggeser posisi duduknya agak menjauh dari bara, dan kembali memandang bintang di langit. Sementara bara…

Ya, bara masih terus menatap gadis di sebelahnya. Sahabatnya. Ah, bukan… Entah kenapa bara menginginkan lebih dari itu. Bara ingin lebih dari sekedar sahabat dengan michi. Karena, bara mencintainya. Ya, mencintai sahabat gadisnya.

Izinkan aku mencintainya, Tuhan… batin bara dalam hati.
Bara membuka bungkusan kecil yang ia terima dari sahabatnya. Sementara michi hanya tersenyum melihat gerak-gerik bara yang mulai merobek bungkusan tersebut.

“Indah bukan?” Tanya michi ketika bara berhasil menemukan barang di balik bungkusan tersebut.

Bara memandang sebuah kotak bergambrakan seorang laki laki yang sedang bermain piano dan perempuan yang memegang michrophone.

Michi langsung merebut kotak yang bara pegang, kemudian michi menekan sebuah tombol yang berada disamping kotak itu. Bara hanya menatap michi
Terdengar sebuah alunan musik dari kotak itu suara indah seorang perempuan yang sedang bernyanyi

▪◽◾Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun Bila waktu ku telah habis dengannya
Biar cinta hidup skali ini saja◾◽▪

Seperti itulah penggalan lagu yang terdengar dari kotak musik tersebut
“Untukku?” Tanya bara sambil memegang kotak yang diberikan michi tadi.

“Iya dong. Dan kau tahu? Itu suaraku yang sengaja aku rekam, aku juga akan mengirimkannya cd demonya untuk diajakukan kompetisi” michi kemudian menunjukan cd dan formulir kompetisi tersebut.

Michi kemudian merangkul pundak baar. Tangannya yang lain memegang cd demo dan formulir kompetisi itu

“ini kan menjadi awal bagi mimpiku kalau aku berhasil aku akan pergi ke australia. Itu impianku dari dulu. Dan kalau aku disana nanti aku pasti akan selalu mengingatmu. Kamu kan sahabatku kalau kamu rindu aku kamu dengar lagu ini ya, sampai kapanpun kita akan selalu bersahabat. Iya kan?” ucap michi pada bara

DEG, entah bara merasa jantungnya berhenti berdetak usai mendengar kata-kata michi barusan. Seakan bara tak bisa menerima ucapan tersebut. Bagaimana tidak? michi… Gadis itu memang sahabatnya. Namun tak bisakah michi mengerti bila bara ingin lebih dari itu? Dan kenyataannya memang tidak. Dengan cara apapun bara berusaha, michi tetap tidak akan mengerti. Karena michi hanya menganggap bara adalah sahabat. Ya, sahabat yang ditakdirkan untuk bersama.
Seminggu kemudia setelah michi mengirimkan rekaman suaranya untuk kompetisi michi menerima sebuah surat bahwa ia dinyatakan lolos dan siap untuk berkompetisi dan belajar musik di australia. Michi segera meuju rumah bara.
“Baraa baraa” panggil michi. Lalu kaka nya bara membukakan pintu.
“Ka rena bara nya ada” tanya michi pada ka rena kakanya bara
“Ada dibelakang. Masuk aja” ka rena mempersilahkan michi masuk.
Lalu michi segera berlari menuju belakang rumah bara ia lalu menghampiri bara dan menceritakan semuanya.

“Australia?” bara kaget.

“Ya. Kalau kau tak percaya, baca saja ini.” michi lalu menyerahkan secarik kertas kepada bara.

Bara yang cepat antusias langsung mengambil kertas yang diberikan michi dan membacanya dengan cepat. Membacanya dengan cepat? Ah, rasanya tidak. Di tengah kalimat saja, bara sudah mulai malas membaca. Bagaimana tidak? Sahabat gadisnya itu, Michili Ziudith memenangkan kompetisi dan menerima beasiswa musik di luar negeri. Tepatnya di Australia. Dan bara tahu benar bahwa dari dulu michi memang telah bercita-cita ingin mendapatkan pendidikan tersebut. Untuk mengembangkan bakat musiknya di Australia, dan menjadi pemusik yang terkenal. Tak mungkin bila michi akan menolak tawaran tersebut.

“Kau… kau akan mengambilnya?” Tanya bara mencoba untuk tegar. Karena separuh hatinya telah kecewa membaca surat tersebut. Bukannya kecewa karena michi mendapat beasiswa, justru bara senang karena sahabatnya telah berhasil mencapai impian yang ia ingin raih. Namun itukah artinya michi akan meninggalkan bara? Sendirian…

“Hmm, aku pikir-pikir dulu bar. Lagipula aku juga harus membicarakan hal ini pada orangtua. Tapi mungkin harapanku untuk mengambilnya lebih besar daripada menolak.” Ucap michi tersenyum lebar.

Bara perhatikan gadis yang duduk di hadapannya itu. Gadis itu tersenyum puas, sambil berkali-kali membaca kembali surat yang ia pegang. Pula ia peluk surat tersebut sambil memandang langit. Bara tahu, michi pasti senang. Impiannya akan segera tercapai. Namun, apakah michi bisa mengerti perasaannya? Perasaan bara yang tak ingin michi pergi dari sisinya. Perasaan bara yang ingin memiliki michi lebih dari seorang sahabat. Dan perasaan bara yang sangat perih mendengar kabar beasiswa itu. Ya, jawabannya hanya satu. Michi takkan pernah mengerti. Namun, apakah tak ada sedikitpun celah di hati michi untuk menerimanya lebih dari seorang sahabat?.
Ke esokan hari nya setelah sekolah usai mereka pulang bersama di perjalanan bara masih tengiang akan keinginan michi yang akan pergi ke australia. Lalu bara pun menanyakan hal itu kembali
“Kau akan mengambilnya?” tanya bara.
Michi mengangguk mantap.

“Orangtuaku setuju. Lagipula memang dari awal aku menginginkan ini. Hey, kau ingat kan bara. Aku pernah bilang, aku sangat ingin mendapatkan pendidikan itu pergi kesana, dan menjadi pemusik yang terkenal. Dan kau tahu? Bila aku menerima beasiswa itu, tinggal selangkah lagi, bar… Tinggal selangkah lagi aku bisa menjadi pemusik terkenal, seperti apa yang aku inginkan,” ucap michi, kemudian pikirannya melayang jauh menerawang kehidupannya nanti yang akan ia jalani di negeri yang jauh disana. Pula memakai seragam sekolah tersebut yang sudah sangat dikenali oleh kebanyakan orang. Aih, michi tak sabar.

Sementara bara… hanya kekecewaan yang ia telan.

“Hem, oh iyaa… lusa aku berangkat.” Lanjut michi kemudian.

JDER !!

Ada suara petir hebat di atas langit sana yang menghantam tepat di dada bara.

Bara menghentikan langkahnya . Dan hanya terdiam. tahu bara terdiam michi menghentikan langkahnya. 
“Jadi kau serius ingin pergi kesana?” Tanya bara, sedikit membentak.
Michi kemudian segera menghampiri bara kembali.
“Yap. Datang ya ke bandara lusa nanti. Kutunggu loh!” ucap michi, yang masih saja sempat tersenyum. Padahal ia tak tahu bahwa sahabatnya itu sangat perih mendengar kalimat-kalimat yang ia ucapkan dari bibir manisnya itu. Michi melanjutkan perjalanannya namun tiba tiba
“Oh jadi begitu…” teriak bara
Refleks, michi segera menoleh ke arah bara mendengar nada sinis dari bibir bara.

“Kau akan pergi ke negeri itu, dan meninggalkan sahabatmu menelan kesepian.” Ucap bara dengan nada yang sinis, tanpa melihat wajah michi.

“Maksudku bukan begitu, bar. Aku hanya ingin mengejar impianku. Sebentar lagi impianku akan menjadi nyata. Seharusnya kau senang dong aku ke Australia,” ucap michi yang masih tetap tersenyum.

Bara menghampiri michi mengenggam erat tangan michi dan memicingkan matanya, menatap michi dengan sinisnya. Michi melihat jelas perubahan tingkah bara.

“Senang? Apa yang kau bilang senang itu karena kau pergi untuk menjauh dariku?” bentak bara dengan nada tinggi kemudian.

Michi kaget, ya, sangat kaget. Senyum tak lagi terhias di bibirnya. Tiba-tiba rasa kekecewaan itu hadir dalam benaknya.

“Aku gak menjauh darimu, bar. Aku hanya ingin mengejar impianku. Bukan untuk menjauh darimu,” balas michi.

Bara membuang mukanya ke sisi lain.

“Oke, kau memang tidak menjauh dariku. Tapi kau akan meninggalkanku,” ucap bara dengan nada datar.

Michi menghela nafas panjang, kemudian ia langkahkan kakinya lebih dekati bara. Ia pegang kedua pipinya dan mengarahkan wajah bara pada wajahnya. Michi memberikan senyuman pada bara

“Kau tak pernah mengerti perasaanku, chi… Tapi sampai kapan kau takkan mengerti?? Aku mencintaimu, chi. Aku tak ingin kehilanganmu…” rintih bara dalam hati.

Bara kemudian tersadar. Ia tak bisa begitu saja melepas michi pergi. Ia mencintainya, sangat mencintainya… michi tak boleh pergi darinya…

“Dulu kau menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu…” ucap bara datar, membuat michi menurunkan tangannya dari kedua pipi bara. Ia mundur selangkah ke belakang sambil menatap bara yang tak menatapnya lagi.

Kini michi baru mengerti, bahwa sahabatnya itu tak ingin ia pergi jauh dari sisinya. Namun, tak mungkin bila michi tetap bersama dengan Bara menghabiskan waktunya bersama seperti dahulu kala, dan ia harus kehilangan beasiswa tersebut. Namun sebenarnya, michi pun tak ingin bila harus meninggalkan bara.

Bara kemudian menoleh ke arah michi, menatap kedua bolamata michi yang ia cintai itu yang juga kini tengah menatapnya.

“Tapi sekarang kamu chi, kamu… Kamu yang akan tinggalin aku. Mana sumpah persahabatan kita chi, manaaa……” bentak bara sambil menahan perih di hatinya.

Michi benar-benar mengerti. Benar, bara tak ingin ia jauh dari sisinya.

“Aku tau, bar. Tapi apa kau sama sekali tak mendukung sahabatmu. Sahabatmu menerima beasiswa, bar. Ke Australia, menjadi pemusik terkenal. Apa kau tak mendukungku?” michi mencoba menjelaskan

“Jadi kau lebih memilih beasiswa itu daripada persahabatan kita?” tanya bara dengan sedikit mengiba

“Jelas saja bar… Aku mengambil beasiswa untuk pendidikanku di masa mendatang. Sedangkan sahabat? Sahabat ada dimana-mana bar. Aku pasti punya sahabat disana, seperti kamu. Kamu juga akan mendapat sahabat seperti aku disini,” ucap michi

“GAK ADA YANG BISA SAMAIN AKU, CHI…” bentak bara dengan kerasnya.

“Kalau kau hanya mempedulikan beasiswamu itu, ambil saja… Tinggalkan aku, chi. Tinggalkan aku disini sendirian, TANPA SEORANG SAHABAT,” bentak bara menekankan kata ‘tanpa seorang sahabat’.

Michi menahan kekecewaan. Kini ia mengerti, beginilah bara. Seorang manusia yang tak punya pengertian.

“EGOIS KAU, BAR… AKU BARU TAU TERNYATA BEGINILAH SIFAT ASLIMU…” Michi kemudian melangkah pergi meninggalkan bara. Sebutir airmata yang jatuh dari pelupuk matanya mengiringi langkah michi meninggalkan tempat tersebut.

Bara memandang punggung michi  yang semakin jauh darinya. Kemudian, rasa penyesalan itu datang.

Dua hari kemudian hari dimana michi akan pergi menuju australia itu datang. Bara yang diminta michi untuk datang ke bandara nampaknya berat jika harus melihat kepergian sahabatnya. Bara memilih pergi ke bukit. Bukit dimana ia dan michi selalu bersama bukit dimana ia dan michi saling bercerita menghabiskan waktu berdua.
Bara melirik jam tangannya, lalu kembali memandang langit di sore hari tersebut. Sendirian… tanpa ada michi di sebelahnya.

“huftt michi udah berangkat…” ucapnya kemudian menghembuskan nafas.

Bara mengeluarkan kotak dari kantong jaketnya. Kotak musik yang diberikan michi untuknya, ia terus memandangi kotak tersebut. Sesaat, rasa penyesalan itu kembali hadir di benaknya.

Kenapa kau tak pernah mengerti perasaanku, chi… batin bar sambil menunduk.

Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas bukit, dan kembali memandang langit.

Tiba-tiba langit di sore hari berubah menjadi sebuah rekaman film saat bara dan michi bertengkar untuk pertama kalinya dua hari yang lalu. Bara hanya menyaksikannya sambil menggigit bibir, menahan perih.

“Egois kau, bar… Aku baru tau ternyata beginilah sifat aslimu…”

Suara michi. Yaa, michi yang mengatakannya. Suara itu terngiang lagi di telinga bara. Baru saat ini bara mendengar ucapan itu dari mulut michi. Ahh, kenapa hal itu harus terjadi?

Bara membuka matanya, yang entah sejak kapan terpejam. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat sama yang ia lihat sebelum matanya terpejam. Hanya warna langitlah yang berubah. Bara masih ingat tadi ia menatap langit sore sambil berbaring, mungkin saja ia ketiduran dan bangun ketika malam sudah tiba.

“Bintang…???” ucap bara
Bara memandang langit malam itu. Kenapa?? Kenapa tak ada bintang disana??

Bara melirik sebelahnya. Kosong. Tak ada… tak ada lagi sahabat yang menemani di sebelahnya. Michi telah pergi. Begitu juga bintang-bintang di langit. Pergi… seakan tak ingin lagi menjadi sahabat bara.
Lalu bara terdiam seketika dan mutuskan untuk pulang ia terus memikiran michi hingga ia tak sadar ia telah sampai didepan rumahnya. Lalu bara melangkah gontai menuju kamarnya. Namun, sebuah percakapan dari ruang keluarga yang tak sengaja ia dengar menghentikan langkahnya.

“Naas banget!” Itu suara Rena, kakaknya bara.

“Iya ya kak, ngeri gue. Untung aja keluarga kita gak ada yang ke Australia. Kalo ada, bisa nangis darah gue,” ucap bami pada kak rena. Bami adalah adiknya bara.

“Haduh, lebay banget lo,” ucap rena sambil memukul wajah bami dengan bantal sofa

“Loh, bener kak. Kecelakaannya aja parah gitu, manamungkin ada yang selamat. Kalaupun ada, pasti keadaannya kritis. Dan paling bertahan cuma beberapa jam.”

“Hus, lo kalo ngomong bam. Hati hati” ka rena menasihati bami

“sorry deh kak sorry . Eh, ganti chanel lain dong! Jangan berita terus bosen gue…” pinta bami dan merebut remot dari rena.

Bara kemudian masuk kedalam kamarnya, namun pikirannya masih melayang pada percakapan antara kak rena dengan bami yang tadi ia dengar di ruang keluarga. Sebenarnya,bara  tak mementingkan hal itu. Apalagi itu adalah acara berita. Paling malas bara mendengarnya. Namun entah, mendengar kata ‘Australia’ bara langsung cepat antusias, dan pikirannya melayang ke michi. Apakah michi telah tiba di negeri impiannya?? 
Bara terus memikirkan michi hingga tak sadar ia tertidur pulas dengan mimpinya yang menghadirkan michi yang masih bersamanya.

Hari pun telah berganti pagi kini datang kembali 
bara menggigit roti selainya. Kemudian, bami datang dan duduk di sebelahnya. Ia mengambil selembar roti dan selai kacang.

“Pagi, kak Bar…” sapa bami

Bara tak menjawab, hanya memberi senyuman paksa di bibirnya. Sementara mulutnya masih asik mengunyah roti selai.

“Mau bareng gak bar?”
Sebuah tangan menepuk punggung bara, sontak saja bara yang sedang mengunyah roti selai langsung tersedak. Ia langsung menyeruput air yang udah tersedia di hadapannya.

Sementara bami dan orang yang menepuk punggung bara tadi tertawa lepas.

“Gila lu kak! Mau bikin gua mati?” bentak bara seusai menghabiskan air putihnya. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air.

“Hahaaa… Santai, bro.” rena memukul lengan bara setelah kembali dari dapur.

Bara Cuma merengut. Ia lalu kembali duduk manis di sebelah bami atau lebih tepatnya di hadapan rena

“Kak, tau gak? Kecelakaan pesawat tadi malem yang kita tonton, sampe kebawa mimpi” ucap Bami sambil mengunyah roti selainya.

“Ah, serius? Serem dong?” kata rena langsung antusias sambil mengoles rotinya dengan selai. Sementara bara cuek sambil terus mengunyah roti terakhirnya.

“Iyalah. Serem banget malah. Lagian sih lu ka pake nonton acara begituan.”

“Itu berita, bam. Gue malah paling demen kayak gitu,”

“Halah sok tua lu kak!” ejek bara kemudian menyeruput airnya lagi karena rotinya telah habis.

Rena tak pedulikan celoteh bara, lalu ia melanjutkan…

“Sebenarnya kakak tuh masih penasaran sama kecelakaan pesawat menuju Australia itu, kan belum dikasih tahu beeerrrr….”

BRRUUUSSS…!!!!

Ucapan Rena tak sampai selesai, karena ia keburu disembur air oleh lelaki di hadapannya.

“Baraa… lu apa-apaan sih? Kalo mau nyembur air jangan ke gua dong, ke Bami ajah mau jadi dukun lo?” ucap rena membentak kemudian mengelap wajahnya yang kena semburan air dari bara dengan saputangannya.

“Lah ko gue” bami bingung.

“Heh, sorii kak. Tapi, tadi lu bilang apa? Kecelakaan pesawat? Australia? Maksudnya?” Tanya bara gak sabaran.

“Iya bar. Pesawat menuju Australia yang take off jam 5 sore kemaren kecelakaan. Hampir semua korban tewas. Naas banget deh pokoknya,” Samber bami sambil mengelap meja makan yang juga kena semburan air dari bara.

Take off jam 5 sore?? Itu kan???…….. Jam keberangkatannya michi???

“Kecelakaan???” teriak bara yang langsung bangkit dari duduknya.

Bami ngangguk-ngangguk. Rena pun demikian.

“Kenapa?” Tanya bami dan rena

Bara tak menjawab. Kini, pikirannya kacau entah kemana.

“Michi… kecelakaan…?? Gak mungkiiin… !!!” pikirnya dalam hati

Bara segera mengubungi nomor michi namun nomornya tidak aktif. Akhirnya bara memutuskan untuk pergi kerumah michi namun hanya sepupunya michi, Ceri yang di temuinya dan memberi tahu bahwa michi masuk rumah sakit akibat kecelakaan pesawat itu. Bara segera menancap gas dan bergegas menuju rumah sakit.
ia menelusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat dan tergesa-gesa. Ia ingin cepat sampai ke ruang dimana sahabatnya berada.

“Michili ziudith ruang UGD, sedang buka jahitan. Tunggu saja 10 menit lagi!” Begitulah jawaban resepsionis ketika bara menanyakan korban kecelakaan pesawat yang bernama michi di Rumah Sakit SCREEN MEDICAL CENTER. Setelah mendengarnya, bara langsung melangkahkan kaki-kaki kecilnya menuju ruang UGD. Di depan ruangan itu bara hanya mondar mandir menunggu kabar dari dokter di dalam. Tak beberapa lama kemudia doktwr pun keluar.
“Gimana dok keadaannya?” tanya bara pada dokter yang menangani michi
“Pasien sudah membaik dan sudah bisa di jenguk sekarang” ucap dokter pada bara
“Makasih ya dok” ucap bara langsug masuk ke ruangan tersebut. Bara segera menghampiri michi dan genggam erat tangan mungilnya michi yang berbaring di hadapannya. Sebutir airmata kemudian jatuh membasahi tangan michi. Secepat mungkin bara mengelap airmatanya yang jatuh di tangan michi.

“Maafin aku chi…” ucap bara yang tiba-tiba airmatanya mengalir kembali dari pelupuk matanya.

“Bukan kamu yang salah bar” bara menoleh ke sumber suara.

“Ini udah jadi takdir. Aku yang memilih jalan ini, berarti aku pula yang harus menanggung semua yang terjadi padaku,”

Bara menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa dirinya tak becus menjaga sahabat yang dicintainya itu. Michi sahabat kecilnya harus berbaring disana. Di rumah sakit  yang menerima korban kecelakaan pesawat menuju Australia. Memang michi selamat, namun ia harus menerima kenyataan bahwa wajahnya akan cacat. Ya, wajah michi cacat. Dan kondisinya pun masih kritis. Banyak luka di tubuhnya yang harus dijahit. Dan yang harus michi telan pahitnya adalah kehilangan kedua orangtuanya yang tewas di tempat.

Bara membelai pelan rambut michi sementara michi… ia hanya diam, sambil menatap lekat wajah sahabat yang duduk di sebelahnya.

“Tapi mungkin takdir akan berkata lain bila kau dan aku tak bertengkar kemarin hari,” ucap bara.

“Sudahlah bar. Tak usah kau ungkit masalah itu lagi. Kenyataannya sekarang udah terjadi, gak ada yang perlu disesalkan,” kata michi mencoba tersenyum. Namun bara bisa melihat jelas sedikit gurat kesedihan di wajah Michi.

“chi…” bara berhenti mengelus rambut michi, ia kini kembali menggenggam tangan michi.

“Aku hadir di dunia untukmu. Jadi, jangan pernah kau tinggalkan aku. Tetaplah disini bersamaku chi. Aku mencintaimu…” ucap bara sambil menatap wajah michi yang penuh perban.

Michi menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

“Aku juga mencintaimu, bar. Karena kau sahabatku,”

“Tapi aku ingin lebih dari itu,” balas bara dengan cepat.

Michi tercekat. Ia diam, tak bereaksi apa-apa. Namun masih menatap lekat wajah bara.

“Sejak dulu chi, sejak dulu kunantikan sosok dirimu yang lain. Sesosok michi yang juga mencintaiku, lebih dari seorang sahabat. Aku menanti itu chi, aku menantinya.” Lanjut bara.

Michi masih diam.

“Kau cinta pertamaku, chi. Dan aku janji akan menjadikanmu cinta terakhirku juga,”

Hening kemudian. Bara tak lagi berkata, michi pun demikian. Ia tak tahu apa yang harus dijawabnya. Ia mencintai bara, namun rasa cintanya tak lebih dari seorang sahabat. Michi hanya menganggap bahwa bara sahabatnya, tak lebih.

“Kau sahabatku, bar” ucap michi kemudian.

“Tapi kau cintaku, chi.” Balas bara tak mau kalah. Ia ingin dirinya menang. Memang, egois. Namun baginya, egois untuk cinta, apa salahnya?? Bara jujur, mencintai michi. Dan tak ingin kehilangannya. Maka bara pun harus egois agar bisa mendapatkan michi untuk menjadi miliknya.

Michi membuang mukanya. Dari sudut matanya, sebutir airmata mengalir membentuk sebuah garis di pipinya. Michi tak ingin menyakiti sahabatnya.

“Aku kini cacat, bar…” ucap michi kemudian, tanpa menatap wajah bara. Dan suaranya, suaranya terdengar lirih.

“Kau tak mungkin akan betah hidup bersama seorang gadis yang cacat.” Lanjutnya, dan kini terdengar suara isak tangis dalam kata-katanya. Michi menangis

“Enggak chi…” bara bangkit dari duduknya, agar bisa melihat wajah michi.
“Aku tak akan mungkin meninggalkanmu. Walau keadaanmu seperti ini, itu tak akan merubah semuanya. Aku tetap mencintaimu,”

Michi menoleh pelan, melihat kembali wajah bara. Segurat keseriusan tampak jelas di wajahnya.

“Izinkan aku chi, untuk mencintaimu lebih dari seorang sahabat. Sekali ini saja chi…” kata bara dengan nada datar. Kembali ia genggam tangan michi yang tadi sempat terlepas olehnya.

Michi tersenyum datar. Entah datang darimana kemauan itu, akhirnya michi mengangguk pelan.

Bara kembali duduk, tanpa mengalihkan pandangannya dari michi.

“Kau serius? Ingin bersamaku?” Tanya bara girang.

“Aku akan mencobanya…” ucap michi lirih disertai anggukan kecil.

Bara langsung menyambar pundak michi untuk memeluknya. Michi merasakan hangat pelukan itu. Namun apa bisa ia menjadi apa yang bara inginkan? Michi hanya menganggap bara sahabat, tak lebih. Ya, michi harus mencobanya. Walau mungkin sulit. Setiap hari bara selalu menjenguk michi dan menemaninya. Michi mulai bisa menerima bara sebagi kekasihnya cinta pada diri michi untuk bara mulai tumbuh.
Sore itu seperti biasa bara menemui michi di rumah sakit ketika bara masuk ke ruangan ia melihat michi yang sedang kesakitan. 
“Aduh bar tolong aku sakit banget” ucap michi lirih. Bara panik dan segera memanggil dokter
“Dok dok tolong dok” teriak bara memanggil dokter, dokter segera memasuki ruangan michi di dampingi kedua susternya dan  segera memeriksa keadaan michi
“Kondisinya memburuk segera bawa ke UDG sus” pinta dokter pada susternya
“Baik dok” suster mengiyakan dan lantas membawa michi ke UGD
“Sakit bar…” michi menggenggam erat tangan bara sambil menahan perih.

“Sabar chi, sabar. Kamu pasti kuat,” bara memberi support sambil terus mengejar michi

Michi kini dibawa lagi ke ruang UGD. Keadaan michi kembali kritis. Dokter kembali akan memeriksanya. Berkali-kali michi merasa perih pada bagian organ tubuhnya. Ia merasa dadanya sesak. Sulit untuk bernafas.

“Maaf, selain dokter dan perawat tidak boleh ikut masuk. Tunggu disini, berdoa agar teman mas diberi keselamatan,” ucap seorang suster menghentikan langkah bara ketika bara ikut masuk ke ruang UGD.

Kemudian suster itu menutup pintu ruang UGD. Bara menunggunya di luar dengan gelisah. Berkali-kali ia membatin,

Tuhan, selamatkan michi. Jangan dulu Kau ambil nyawanya. Aku masih ingin bersamanya, Tuhan….
Pemeriksaan telah selesai bara segera melihat kondisi michi.
Bara tatap wajah gadis itu. Wajahnya pucat, sangat pucat… Akankah ini untuk yang terakhir kalinya ia menatap wajah itu? Tidak, jangan. Itu tak boleh terjadi. Bara masih ingin bersamanya. Sangat ingin… michi tak boleh pergi darinya.

Bara membelai pelan rambut michi. Michi sudah tidur. Sehabis pemeriksaan, dokter memang menyuruh michi untuk tidur, agar kondisinya membaik di kemudian hari. Dan bara, akan menemaninya malam ini. Hingga esok hari tiba…
Sinar mentari yang masuk melewati celah jendela menembus kelopak mata bara membuatnya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengulet. Dilihatnya michi masih berbaring di hadapannya. Matanya masih terpejam. Mungkin pengaruh obat yang diberikan dokter tadi malam hingga membuat michi masih tertidur.

Bara melangkahkan kakinya keluar kamar, ia ingin menghirup udara pagi sejenak sambil melihat para pasien rumah sakit yang dibawa pengunjung ke halaman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Dokter dan suster pun kembali beraktivitas untuk memeriksa keadaan pasiennya satu persatu.

Hampir setengah jam lebih bara menikmati udara pagi di luar rumah sakit. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju kamar michi. Ia masih menemukan sesosok michi terbaring di ranjang. Wajahnya masih pucat. Bara mendekatinya.

“Selamat pagi, chi…” ucap bara

bara kemudian meraih tangan michi. Namun, bara tersentak. Tangan michi dingin, sangat dingin. Bara mulai gelisah. Ia langsung memeriksa denyut nadi michi, namun bara sama sekali tidak merasakan nadi michi berdenyut. Pula tak bara rasakan detak jantung michi ketika memeriksa keadaan jantungnya. Bara terduduk lemas di sebelah michi. Perlahan airmatanya mengalir dari pelupuk matanya.
Michi telah pergi, meninggalkan dirinya. Untuk selamanya…
Lalu jenazah michi dikebumikan di Taman Pemakaman Umum setelah pemakaman usai para teman dan kerabat yang melayat pun pergi satu persatu namun bara masih disana dipusara michi memandangi makam michi dan mengelus nisan yang bertuliskan nama Michili Ziudith bara masih teringat saat saat dirinya bersama michi saat saat dirinya menemani michi dirumah sakit.
Hari pun silih berganti dan sampai saat ini bara selalu mengunjungi makam michi untuk memberikan doa untuk michi, sepulangnya dari makam seperti biasa bara selalu pergi menuju bukit yang biasa ia kunjungi dengan michi kala dulu mereka bersama.
“Kau akan selalu di hatiku untuk selamanya…” batin bara sambil menatap langit.

Bara kembali sendiri di atas bukit sana. Memandang langit sendirian, tanpa ada michi di sebelahnya.

2 tahun sudah michi pergi meninggalkan bara. Meninggalkan semua kenangan tentang persahabatan mereka. Kini, bara berdiri sendiri di atas bukit. Bersama bayangan michi di benaknya, ia lalui hari demi hari hingga ia kini menjadi apa yang ia inginkan dahulu.

Bara akan selalu ingat, ketika michi berada di sebelahnya, menceritakan semua tentang cita-cita dan harapannya, memberikan support untuknya, dan masih banyak lagi yang ada di ingatannya. Walau michi telah pergi dari sisinya, tapi michi akan selalu ada di hati bara untuk selamanya. Begitupun sebaliknya. Walau michi kini berada di dunia lain, pasti bara tak akan terhapus di hatinya.

Sebuah kotak musik pemberian michi yang berisi rekaman suaranya ia selalu pandangi terus dan di dengarkan suara merdu michi oleh bara

▪◽◾Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
izinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktu ku telah habia dengannya 
biar cinta hidup sekali ini saja◾◽▪

Terdengar suara alunan lagu yang dinyanyikan michi itu.
“Tuhan kau telah memberikan aku kesempatan untuk mencintanya, walaupun waktu ku  telah habis untuk bersamanya namun engkau telah biarkan cinta ini hidup walau hanya sekali saja Tuhan..” Batin bara dalam hati dan memeluk kotak musik pemberian michi tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s