Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Sekali Ini Saja

image

”Lihat ada bintang jatuh!” Michi menunjuk sesuatu yang bergerak cepat ke bawah membentuk sebuah cahaya yang terang di atas langit sana.

“Cepat buat permohonan, bar!” michi menyenggol lengan bara yang duduk di sebelahnya, kemudian ia langsung memejamkan mata.

Bara mengikuti gerak-gerik gadis di sebelahnya, membuat sebuah permohonan.
Malam itu seperti biasa, bara dan michi duduk di atas bukit sambil memandang langit malam yang penuh bintang. Mereka sama-sama menceritakan harapan, dan impian yang akan mereka raih. Disana, mereka berbagi cerita bersama sambil menikmati indahnya malam.

Bara dan michi, dua sahabat yang telah bertahun-tahun lamanya bersama. Membawa sejuta kisah suka dan duka tentang persahabatan mereka. Kedua insan yang memang ditakdirkan bersama, untuk merangkai hari demi hari yang penuh makna, serta menjalani setiap detik hanya berdua.
“Bintang yang indah…” ucap michi yang masih mengarahkan kedua matanya ke langit.

“Yaa. Seindah…” ucapan bara menggantung. Ia berpikir sejenak, apakah ia harus mengatakan hal itu apa tidak.

Michi menoleh ke bara, karena terlalu lama menunggu lanjutan kalimat bara. Melihat bara yang nampak bingung, michi langsung tersenyum dan menggeser posisi duduknya mendekati bara. Bara ikut menoleh ke michi yang pula tengah menatap ke arahnya.

“Seindah persahabatan kita, bar.” Kata michi sambil menatap lekat kedua bolamata bara.

Bata pun demikian. Menatap lekat kedua bolamata michi, yang entah sejak kapan ia mencintai bolamata tersebut. Mencintai kedua bolamata michi, ya, sangat mencintainya.

Hening kemudian. Mereka sama-sama diam dalam tatapan. Tak lama, hanya dua detik. Setelah itu, michi kembali menggeser posisi duduknya agak menjauh dari bara, dan kembali memandang bintang di langit. Sementara bara…

Ya, bara masih terus menatap gadis di sebelahnya. Sahabatnya. Ah, bukan… Entah kenapa bara menginginkan lebih dari itu. Bara ingin lebih dari sekedar sahabat dengan michi. Karena, bara mencintainya. Ya, mencintai sahabat gadisnya.

Izinkan aku mencintainya, Tuhan… batin bara dalam hati.
Bara membuka bungkusan kecil yang ia terima dari sahabatnya. Sementara michi hanya tersenyum melihat gerak-gerik bara yang mulai merobek bungkusan tersebut.

“Indah bukan?” Tanya michi ketika bara berhasil menemukan barang di balik bungkusan tersebut.

Bara memandang sebuah kotak bergambrakan seorang laki laki yang sedang bermain piano dan perempuan yang memegang michrophone.

Michi langsung merebut kotak yang bara pegang, kemudian michi menekan sebuah tombol yang berada disamping kotak itu. Bara hanya menatap michi
Terdengar sebuah alunan musik dari kotak itu suara indah seorang perempuan yang sedang bernyanyi

▪◽◾Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun Bila waktu ku telah habis dengannya
Biar cinta hidup skali ini saja◾◽▪

Seperti itulah penggalan lagu yang terdengar dari kotak musik tersebut
“Untukku?” Tanya bara sambil memegang kotak yang diberikan michi tadi.

“Iya dong. Dan kau tahu? Itu suaraku yang sengaja aku rekam, aku juga akan mengirimkannya cd demonya untuk diajakukan kompetisi” michi kemudian menunjukan cd dan formulir kompetisi tersebut.

Michi kemudian merangkul pundak baar. Tangannya yang lain memegang cd demo dan formulir kompetisi itu

“ini kan menjadi awal bagi mimpiku kalau aku berhasil aku akan pergi ke australia. Itu impianku dari dulu. Dan kalau aku disana nanti aku pasti akan selalu mengingatmu. Kamu kan sahabatku kalau kamu rindu aku kamu dengar lagu ini ya, sampai kapanpun kita akan selalu bersahabat. Iya kan?” ucap michi pada bara

DEG, entah bara merasa jantungnya berhenti berdetak usai mendengar kata-kata michi barusan. Seakan bara tak bisa menerima ucapan tersebut. Bagaimana tidak? michi… Gadis itu memang sahabatnya. Namun tak bisakah michi mengerti bila bara ingin lebih dari itu? Dan kenyataannya memang tidak. Dengan cara apapun bara berusaha, michi tetap tidak akan mengerti. Karena michi hanya menganggap bara adalah sahabat. Ya, sahabat yang ditakdirkan untuk bersama.
Seminggu kemudia setelah michi mengirimkan rekaman suaranya untuk kompetisi michi menerima sebuah surat bahwa ia dinyatakan lolos dan siap untuk berkompetisi dan belajar musik di australia. Michi segera meuju rumah bara.
“Baraa baraa” panggil michi. Lalu kaka nya bara membukakan pintu.
“Ka rena bara nya ada” tanya michi pada ka rena kakanya bara
“Ada dibelakang. Masuk aja” ka rena mempersilahkan michi masuk.
Lalu michi segera berlari menuju belakang rumah bara ia lalu menghampiri bara dan menceritakan semuanya.

“Australia?” bara kaget.

“Ya. Kalau kau tak percaya, baca saja ini.” michi lalu menyerahkan secarik kertas kepada bara.

Bara yang cepat antusias langsung mengambil kertas yang diberikan michi dan membacanya dengan cepat. Membacanya dengan cepat? Ah, rasanya tidak. Di tengah kalimat saja, bara sudah mulai malas membaca. Bagaimana tidak? Sahabat gadisnya itu, Michili Ziudith memenangkan kompetisi dan menerima beasiswa musik di luar negeri. Tepatnya di Australia. Dan bara tahu benar bahwa dari dulu michi memang telah bercita-cita ingin mendapatkan pendidikan tersebut. Untuk mengembangkan bakat musiknya di Australia, dan menjadi pemusik yang terkenal. Tak mungkin bila michi akan menolak tawaran tersebut.

“Kau… kau akan mengambilnya?” Tanya bara mencoba untuk tegar. Karena separuh hatinya telah kecewa membaca surat tersebut. Bukannya kecewa karena michi mendapat beasiswa, justru bara senang karena sahabatnya telah berhasil mencapai impian yang ia ingin raih. Namun itukah artinya michi akan meninggalkan bara? Sendirian…

“Hmm, aku pikir-pikir dulu bar. Lagipula aku juga harus membicarakan hal ini pada orangtua. Tapi mungkin harapanku untuk mengambilnya lebih besar daripada menolak.” Ucap michi tersenyum lebar.

Bara perhatikan gadis yang duduk di hadapannya itu. Gadis itu tersenyum puas, sambil berkali-kali membaca kembali surat yang ia pegang. Pula ia peluk surat tersebut sambil memandang langit. Bara tahu, michi pasti senang. Impiannya akan segera tercapai. Namun, apakah michi bisa mengerti perasaannya? Perasaan bara yang tak ingin michi pergi dari sisinya. Perasaan bara yang ingin memiliki michi lebih dari seorang sahabat. Dan perasaan bara yang sangat perih mendengar kabar beasiswa itu. Ya, jawabannya hanya satu. Michi takkan pernah mengerti. Namun, apakah tak ada sedikitpun celah di hati michi untuk menerimanya lebih dari seorang sahabat?.
Ke esokan hari nya setelah sekolah usai mereka pulang bersama di perjalanan bara masih tengiang akan keinginan michi yang akan pergi ke australia. Lalu bara pun menanyakan hal itu kembali
“Kau akan mengambilnya?” tanya bara.
Michi mengangguk mantap.

“Orangtuaku setuju. Lagipula memang dari awal aku menginginkan ini. Hey, kau ingat kan bara. Aku pernah bilang, aku sangat ingin mendapatkan pendidikan itu pergi kesana, dan menjadi pemusik yang terkenal. Dan kau tahu? Bila aku menerima beasiswa itu, tinggal selangkah lagi, bar… Tinggal selangkah lagi aku bisa menjadi pemusik terkenal, seperti apa yang aku inginkan,” ucap michi, kemudian pikirannya melayang jauh menerawang kehidupannya nanti yang akan ia jalani di negeri yang jauh disana. Pula memakai seragam sekolah tersebut yang sudah sangat dikenali oleh kebanyakan orang. Aih, michi tak sabar.

Sementara bara… hanya kekecewaan yang ia telan.

“Hem, oh iyaa… lusa aku berangkat.” Lanjut michi kemudian.

JDER !!

Ada suara petir hebat di atas langit sana yang menghantam tepat di dada bara.

Bara menghentikan langkahnya . Dan hanya terdiam. tahu bara terdiam michi menghentikan langkahnya. 
“Jadi kau serius ingin pergi kesana?” Tanya bara, sedikit membentak.
Michi kemudian segera menghampiri bara kembali.
“Yap. Datang ya ke bandara lusa nanti. Kutunggu loh!” ucap michi, yang masih saja sempat tersenyum. Padahal ia tak tahu bahwa sahabatnya itu sangat perih mendengar kalimat-kalimat yang ia ucapkan dari bibir manisnya itu. Michi melanjutkan perjalanannya namun tiba tiba
“Oh jadi begitu…” teriak bara
Refleks, michi segera menoleh ke arah bara mendengar nada sinis dari bibir bara.

“Kau akan pergi ke negeri itu, dan meninggalkan sahabatmu menelan kesepian.” Ucap bara dengan nada yang sinis, tanpa melihat wajah michi.

“Maksudku bukan begitu, bar. Aku hanya ingin mengejar impianku. Sebentar lagi impianku akan menjadi nyata. Seharusnya kau senang dong aku ke Australia,” ucap michi yang masih tetap tersenyum.

Bara menghampiri michi mengenggam erat tangan michi dan memicingkan matanya, menatap michi dengan sinisnya. Michi melihat jelas perubahan tingkah bara.

“Senang? Apa yang kau bilang senang itu karena kau pergi untuk menjauh dariku?” bentak bara dengan nada tinggi kemudian.

Michi kaget, ya, sangat kaget. Senyum tak lagi terhias di bibirnya. Tiba-tiba rasa kekecewaan itu hadir dalam benaknya.

“Aku gak menjauh darimu, bar. Aku hanya ingin mengejar impianku. Bukan untuk menjauh darimu,” balas michi.

Bara membuang mukanya ke sisi lain.

“Oke, kau memang tidak menjauh dariku. Tapi kau akan meninggalkanku,” ucap bara dengan nada datar.

Michi menghela nafas panjang, kemudian ia langkahkan kakinya lebih dekati bara. Ia pegang kedua pipinya dan mengarahkan wajah bara pada wajahnya. Michi memberikan senyuman pada bara

“Kau tak pernah mengerti perasaanku, chi… Tapi sampai kapan kau takkan mengerti?? Aku mencintaimu, chi. Aku tak ingin kehilanganmu…” rintih bara dalam hati.

Bara kemudian tersadar. Ia tak bisa begitu saja melepas michi pergi. Ia mencintainya, sangat mencintainya… michi tak boleh pergi darinya…

“Dulu kau menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu…” ucap bara datar, membuat michi menurunkan tangannya dari kedua pipi bara. Ia mundur selangkah ke belakang sambil menatap bara yang tak menatapnya lagi.

Kini michi baru mengerti, bahwa sahabatnya itu tak ingin ia pergi jauh dari sisinya. Namun, tak mungkin bila michi tetap bersama dengan Bara menghabiskan waktunya bersama seperti dahulu kala, dan ia harus kehilangan beasiswa tersebut. Namun sebenarnya, michi pun tak ingin bila harus meninggalkan bara.

Bara kemudian menoleh ke arah michi, menatap kedua bolamata michi yang ia cintai itu yang juga kini tengah menatapnya.

“Tapi sekarang kamu chi, kamu… Kamu yang akan tinggalin aku. Mana sumpah persahabatan kita chi, manaaa……” bentak bara sambil menahan perih di hatinya.

Michi benar-benar mengerti. Benar, bara tak ingin ia jauh dari sisinya.

“Aku tau, bar. Tapi apa kau sama sekali tak mendukung sahabatmu. Sahabatmu menerima beasiswa, bar. Ke Australia, menjadi pemusik terkenal. Apa kau tak mendukungku?” michi mencoba menjelaskan

“Jadi kau lebih memilih beasiswa itu daripada persahabatan kita?” tanya bara dengan sedikit mengiba

“Jelas saja bar… Aku mengambil beasiswa untuk pendidikanku di masa mendatang. Sedangkan sahabat? Sahabat ada dimana-mana bar. Aku pasti punya sahabat disana, seperti kamu. Kamu juga akan mendapat sahabat seperti aku disini,” ucap michi

“GAK ADA YANG BISA SAMAIN AKU, CHI…” bentak bara dengan kerasnya.

“Kalau kau hanya mempedulikan beasiswamu itu, ambil saja… Tinggalkan aku, chi. Tinggalkan aku disini sendirian, TANPA SEORANG SAHABAT,” bentak bara menekankan kata ‘tanpa seorang sahabat’.

Michi menahan kekecewaan. Kini ia mengerti, beginilah bara. Seorang manusia yang tak punya pengertian.

“EGOIS KAU, BAR… AKU BARU TAU TERNYATA BEGINILAH SIFAT ASLIMU…” Michi kemudian melangkah pergi meninggalkan bara. Sebutir airmata yang jatuh dari pelupuk matanya mengiringi langkah michi meninggalkan tempat tersebut.

Bara memandang punggung michi  yang semakin jauh darinya. Kemudian, rasa penyesalan itu datang.

Dua hari kemudian hari dimana michi akan pergi menuju australia itu datang. Bara yang diminta michi untuk datang ke bandara nampaknya berat jika harus melihat kepergian sahabatnya. Bara memilih pergi ke bukit. Bukit dimana ia dan michi selalu bersama bukit dimana ia dan michi saling bercerita menghabiskan waktu berdua.
Bara melirik jam tangannya, lalu kembali memandang langit di sore hari tersebut. Sendirian… tanpa ada michi di sebelahnya.

“huftt michi udah berangkat…” ucapnya kemudian menghembuskan nafas.

Bara mengeluarkan kotak dari kantong jaketnya. Kotak musik yang diberikan michi untuknya, ia terus memandangi kotak tersebut. Sesaat, rasa penyesalan itu kembali hadir di benaknya.

Kenapa kau tak pernah mengerti perasaanku, chi… batin bar sambil menunduk.

Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas bukit, dan kembali memandang langit.

Tiba-tiba langit di sore hari berubah menjadi sebuah rekaman film saat bara dan michi bertengkar untuk pertama kalinya dua hari yang lalu. Bara hanya menyaksikannya sambil menggigit bibir, menahan perih.

“Egois kau, bar… Aku baru tau ternyata beginilah sifat aslimu…”

Suara michi. Yaa, michi yang mengatakannya. Suara itu terngiang lagi di telinga bara. Baru saat ini bara mendengar ucapan itu dari mulut michi. Ahh, kenapa hal itu harus terjadi?

Bara membuka matanya, yang entah sejak kapan terpejam. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat sama yang ia lihat sebelum matanya terpejam. Hanya warna langitlah yang berubah. Bara masih ingat tadi ia menatap langit sore sambil berbaring, mungkin saja ia ketiduran dan bangun ketika malam sudah tiba.

“Bintang…???” ucap bara
Bara memandang langit malam itu. Kenapa?? Kenapa tak ada bintang disana??

Bara melirik sebelahnya. Kosong. Tak ada… tak ada lagi sahabat yang menemani di sebelahnya. Michi telah pergi. Begitu juga bintang-bintang di langit. Pergi… seakan tak ingin lagi menjadi sahabat bara.
Lalu bara terdiam seketika dan mutuskan untuk pulang ia terus memikiran michi hingga ia tak sadar ia telah sampai didepan rumahnya. Lalu bara melangkah gontai menuju kamarnya. Namun, sebuah percakapan dari ruang keluarga yang tak sengaja ia dengar menghentikan langkahnya.

“Naas banget!” Itu suara Rena, kakaknya bara.

“Iya ya kak, ngeri gue. Untung aja keluarga kita gak ada yang ke Australia. Kalo ada, bisa nangis darah gue,” ucap bami pada kak rena. Bami adalah adiknya bara.

“Haduh, lebay banget lo,” ucap rena sambil memukul wajah bami dengan bantal sofa

“Loh, bener kak. Kecelakaannya aja parah gitu, manamungkin ada yang selamat. Kalaupun ada, pasti keadaannya kritis. Dan paling bertahan cuma beberapa jam.”

“Hus, lo kalo ngomong bam. Hati hati” ka rena menasihati bami

“sorry deh kak sorry . Eh, ganti chanel lain dong! Jangan berita terus bosen gue…” pinta bami dan merebut remot dari rena.

Bara kemudian masuk kedalam kamarnya, namun pikirannya masih melayang pada percakapan antara kak rena dengan bami yang tadi ia dengar di ruang keluarga. Sebenarnya,bara  tak mementingkan hal itu. Apalagi itu adalah acara berita. Paling malas bara mendengarnya. Namun entah, mendengar kata ‘Australia’ bara langsung cepat antusias, dan pikirannya melayang ke michi. Apakah michi telah tiba di negeri impiannya?? 
Bara terus memikirkan michi hingga tak sadar ia tertidur pulas dengan mimpinya yang menghadirkan michi yang masih bersamanya.

Hari pun telah berganti pagi kini datang kembali 
bara menggigit roti selainya. Kemudian, bami datang dan duduk di sebelahnya. Ia mengambil selembar roti dan selai kacang.

“Pagi, kak Bar…” sapa bami

Bara tak menjawab, hanya memberi senyuman paksa di bibirnya. Sementara mulutnya masih asik mengunyah roti selai.

“Mau bareng gak bar?”
Sebuah tangan menepuk punggung bara, sontak saja bara yang sedang mengunyah roti selai langsung tersedak. Ia langsung menyeruput air yang udah tersedia di hadapannya.

Sementara bami dan orang yang menepuk punggung bara tadi tertawa lepas.

“Gila lu kak! Mau bikin gua mati?” bentak bara seusai menghabiskan air putihnya. Ia lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air.

“Hahaaa… Santai, bro.” rena memukul lengan bara setelah kembali dari dapur.

Bara Cuma merengut. Ia lalu kembali duduk manis di sebelah bami atau lebih tepatnya di hadapan rena

“Kak, tau gak? Kecelakaan pesawat tadi malem yang kita tonton, sampe kebawa mimpi” ucap Bami sambil mengunyah roti selainya.

“Ah, serius? Serem dong?” kata rena langsung antusias sambil mengoles rotinya dengan selai. Sementara bara cuek sambil terus mengunyah roti terakhirnya.

“Iyalah. Serem banget malah. Lagian sih lu ka pake nonton acara begituan.”

“Itu berita, bam. Gue malah paling demen kayak gitu,”

“Halah sok tua lu kak!” ejek bara kemudian menyeruput airnya lagi karena rotinya telah habis.

Rena tak pedulikan celoteh bara, lalu ia melanjutkan…

“Sebenarnya kakak tuh masih penasaran sama kecelakaan pesawat menuju Australia itu, kan belum dikasih tahu beeerrrr….”

BRRUUUSSS…!!!!

Ucapan Rena tak sampai selesai, karena ia keburu disembur air oleh lelaki di hadapannya.

“Baraa… lu apa-apaan sih? Kalo mau nyembur air jangan ke gua dong, ke Bami ajah mau jadi dukun lo?” ucap rena membentak kemudian mengelap wajahnya yang kena semburan air dari bara dengan saputangannya.

“Lah ko gue” bami bingung.

“Heh, sorii kak. Tapi, tadi lu bilang apa? Kecelakaan pesawat? Australia? Maksudnya?” Tanya bara gak sabaran.

“Iya bar. Pesawat menuju Australia yang take off jam 5 sore kemaren kecelakaan. Hampir semua korban tewas. Naas banget deh pokoknya,” Samber bami sambil mengelap meja makan yang juga kena semburan air dari bara.

Take off jam 5 sore?? Itu kan???…….. Jam keberangkatannya michi???

“Kecelakaan???” teriak bara yang langsung bangkit dari duduknya.

Bami ngangguk-ngangguk. Rena pun demikian.

“Kenapa?” Tanya bami dan rena

Bara tak menjawab. Kini, pikirannya kacau entah kemana.

“Michi… kecelakaan…?? Gak mungkiiin… !!!” pikirnya dalam hati

Bara segera mengubungi nomor michi namun nomornya tidak aktif. Akhirnya bara memutuskan untuk pergi kerumah michi namun hanya sepupunya michi, Ceri yang di temuinya dan memberi tahu bahwa michi masuk rumah sakit akibat kecelakaan pesawat itu. Bara segera menancap gas dan bergegas menuju rumah sakit.
ia menelusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat dan tergesa-gesa. Ia ingin cepat sampai ke ruang dimana sahabatnya berada.

“Michili ziudith ruang UGD, sedang buka jahitan. Tunggu saja 10 menit lagi!” Begitulah jawaban resepsionis ketika bara menanyakan korban kecelakaan pesawat yang bernama michi di Rumah Sakit SCREEN MEDICAL CENTER. Setelah mendengarnya, bara langsung melangkahkan kaki-kaki kecilnya menuju ruang UGD. Di depan ruangan itu bara hanya mondar mandir menunggu kabar dari dokter di dalam. Tak beberapa lama kemudia doktwr pun keluar.
“Gimana dok keadaannya?” tanya bara pada dokter yang menangani michi
“Pasien sudah membaik dan sudah bisa di jenguk sekarang” ucap dokter pada bara
“Makasih ya dok” ucap bara langsug masuk ke ruangan tersebut. Bara segera menghampiri michi dan genggam erat tangan mungilnya michi yang berbaring di hadapannya. Sebutir airmata kemudian jatuh membasahi tangan michi. Secepat mungkin bara mengelap airmatanya yang jatuh di tangan michi.

“Maafin aku chi…” ucap bara yang tiba-tiba airmatanya mengalir kembali dari pelupuk matanya.

“Bukan kamu yang salah bar” bara menoleh ke sumber suara.

“Ini udah jadi takdir. Aku yang memilih jalan ini, berarti aku pula yang harus menanggung semua yang terjadi padaku,”

Bara menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa dirinya tak becus menjaga sahabat yang dicintainya itu. Michi sahabat kecilnya harus berbaring disana. Di rumah sakit  yang menerima korban kecelakaan pesawat menuju Australia. Memang michi selamat, namun ia harus menerima kenyataan bahwa wajahnya akan cacat. Ya, wajah michi cacat. Dan kondisinya pun masih kritis. Banyak luka di tubuhnya yang harus dijahit. Dan yang harus michi telan pahitnya adalah kehilangan kedua orangtuanya yang tewas di tempat.

Bara membelai pelan rambut michi sementara michi… ia hanya diam, sambil menatap lekat wajah sahabat yang duduk di sebelahnya.

“Tapi mungkin takdir akan berkata lain bila kau dan aku tak bertengkar kemarin hari,” ucap bara.

“Sudahlah bar. Tak usah kau ungkit masalah itu lagi. Kenyataannya sekarang udah terjadi, gak ada yang perlu disesalkan,” kata michi mencoba tersenyum. Namun bara bisa melihat jelas sedikit gurat kesedihan di wajah Michi.

“chi…” bara berhenti mengelus rambut michi, ia kini kembali menggenggam tangan michi.

“Aku hadir di dunia untukmu. Jadi, jangan pernah kau tinggalkan aku. Tetaplah disini bersamaku chi. Aku mencintaimu…” ucap bara sambil menatap wajah michi yang penuh perban.

Michi menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

“Aku juga mencintaimu, bar. Karena kau sahabatku,”

“Tapi aku ingin lebih dari itu,” balas bara dengan cepat.

Michi tercekat. Ia diam, tak bereaksi apa-apa. Namun masih menatap lekat wajah bara.

“Sejak dulu chi, sejak dulu kunantikan sosok dirimu yang lain. Sesosok michi yang juga mencintaiku, lebih dari seorang sahabat. Aku menanti itu chi, aku menantinya.” Lanjut bara.

Michi masih diam.

“Kau cinta pertamaku, chi. Dan aku janji akan menjadikanmu cinta terakhirku juga,”

Hening kemudian. Bara tak lagi berkata, michi pun demikian. Ia tak tahu apa yang harus dijawabnya. Ia mencintai bara, namun rasa cintanya tak lebih dari seorang sahabat. Michi hanya menganggap bahwa bara sahabatnya, tak lebih.

“Kau sahabatku, bar” ucap michi kemudian.

“Tapi kau cintaku, chi.” Balas bara tak mau kalah. Ia ingin dirinya menang. Memang, egois. Namun baginya, egois untuk cinta, apa salahnya?? Bara jujur, mencintai michi. Dan tak ingin kehilangannya. Maka bara pun harus egois agar bisa mendapatkan michi untuk menjadi miliknya.

Michi membuang mukanya. Dari sudut matanya, sebutir airmata mengalir membentuk sebuah garis di pipinya. Michi tak ingin menyakiti sahabatnya.

“Aku kini cacat, bar…” ucap michi kemudian, tanpa menatap wajah bara. Dan suaranya, suaranya terdengar lirih.

“Kau tak mungkin akan betah hidup bersama seorang gadis yang cacat.” Lanjutnya, dan kini terdengar suara isak tangis dalam kata-katanya. Michi menangis

“Enggak chi…” bara bangkit dari duduknya, agar bisa melihat wajah michi.
“Aku tak akan mungkin meninggalkanmu. Walau keadaanmu seperti ini, itu tak akan merubah semuanya. Aku tetap mencintaimu,”

Michi menoleh pelan, melihat kembali wajah bara. Segurat keseriusan tampak jelas di wajahnya.

“Izinkan aku chi, untuk mencintaimu lebih dari seorang sahabat. Sekali ini saja chi…” kata bara dengan nada datar. Kembali ia genggam tangan michi yang tadi sempat terlepas olehnya.

Michi tersenyum datar. Entah datang darimana kemauan itu, akhirnya michi mengangguk pelan.

Bara kembali duduk, tanpa mengalihkan pandangannya dari michi.

“Kau serius? Ingin bersamaku?” Tanya bara girang.

“Aku akan mencobanya…” ucap michi lirih disertai anggukan kecil.

Bara langsung menyambar pundak michi untuk memeluknya. Michi merasakan hangat pelukan itu. Namun apa bisa ia menjadi apa yang bara inginkan? Michi hanya menganggap bara sahabat, tak lebih. Ya, michi harus mencobanya. Walau mungkin sulit. Setiap hari bara selalu menjenguk michi dan menemaninya. Michi mulai bisa menerima bara sebagi kekasihnya cinta pada diri michi untuk bara mulai tumbuh.
Sore itu seperti biasa bara menemui michi di rumah sakit ketika bara masuk ke ruangan ia melihat michi yang sedang kesakitan. 
“Aduh bar tolong aku sakit banget” ucap michi lirih. Bara panik dan segera memanggil dokter
“Dok dok tolong dok” teriak bara memanggil dokter, dokter segera memasuki ruangan michi di dampingi kedua susternya dan  segera memeriksa keadaan michi
“Kondisinya memburuk segera bawa ke UDG sus” pinta dokter pada susternya
“Baik dok” suster mengiyakan dan lantas membawa michi ke UGD
“Sakit bar…” michi menggenggam erat tangan bara sambil menahan perih.

“Sabar chi, sabar. Kamu pasti kuat,” bara memberi support sambil terus mengejar michi

Michi kini dibawa lagi ke ruang UGD. Keadaan michi kembali kritis. Dokter kembali akan memeriksanya. Berkali-kali michi merasa perih pada bagian organ tubuhnya. Ia merasa dadanya sesak. Sulit untuk bernafas.

“Maaf, selain dokter dan perawat tidak boleh ikut masuk. Tunggu disini, berdoa agar teman mas diberi keselamatan,” ucap seorang suster menghentikan langkah bara ketika bara ikut masuk ke ruang UGD.

Kemudian suster itu menutup pintu ruang UGD. Bara menunggunya di luar dengan gelisah. Berkali-kali ia membatin,

Tuhan, selamatkan michi. Jangan dulu Kau ambil nyawanya. Aku masih ingin bersamanya, Tuhan….
Pemeriksaan telah selesai bara segera melihat kondisi michi.
Bara tatap wajah gadis itu. Wajahnya pucat, sangat pucat… Akankah ini untuk yang terakhir kalinya ia menatap wajah itu? Tidak, jangan. Itu tak boleh terjadi. Bara masih ingin bersamanya. Sangat ingin… michi tak boleh pergi darinya.

Bara membelai pelan rambut michi. Michi sudah tidur. Sehabis pemeriksaan, dokter memang menyuruh michi untuk tidur, agar kondisinya membaik di kemudian hari. Dan bara, akan menemaninya malam ini. Hingga esok hari tiba…
Sinar mentari yang masuk melewati celah jendela menembus kelopak mata bara membuatnya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengulet. Dilihatnya michi masih berbaring di hadapannya. Matanya masih terpejam. Mungkin pengaruh obat yang diberikan dokter tadi malam hingga membuat michi masih tertidur.

Bara melangkahkan kakinya keluar kamar, ia ingin menghirup udara pagi sejenak sambil melihat para pasien rumah sakit yang dibawa pengunjung ke halaman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Dokter dan suster pun kembali beraktivitas untuk memeriksa keadaan pasiennya satu persatu.

Hampir setengah jam lebih bara menikmati udara pagi di luar rumah sakit. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju kamar michi. Ia masih menemukan sesosok michi terbaring di ranjang. Wajahnya masih pucat. Bara mendekatinya.

“Selamat pagi, chi…” ucap bara

bara kemudian meraih tangan michi. Namun, bara tersentak. Tangan michi dingin, sangat dingin. Bara mulai gelisah. Ia langsung memeriksa denyut nadi michi, namun bara sama sekali tidak merasakan nadi michi berdenyut. Pula tak bara rasakan detak jantung michi ketika memeriksa keadaan jantungnya. Bara terduduk lemas di sebelah michi. Perlahan airmatanya mengalir dari pelupuk matanya.
Michi telah pergi, meninggalkan dirinya. Untuk selamanya…
Lalu jenazah michi dikebumikan di Taman Pemakaman Umum setelah pemakaman usai para teman dan kerabat yang melayat pun pergi satu persatu namun bara masih disana dipusara michi memandangi makam michi dan mengelus nisan yang bertuliskan nama Michili Ziudith bara masih teringat saat saat dirinya bersama michi saat saat dirinya menemani michi dirumah sakit.
Hari pun silih berganti dan sampai saat ini bara selalu mengunjungi makam michi untuk memberikan doa untuk michi, sepulangnya dari makam seperti biasa bara selalu pergi menuju bukit yang biasa ia kunjungi dengan michi kala dulu mereka bersama.
“Kau akan selalu di hatiku untuk selamanya…” batin bara sambil menatap langit.

Bara kembali sendiri di atas bukit sana. Memandang langit sendirian, tanpa ada michi di sebelahnya.

2 tahun sudah michi pergi meninggalkan bara. Meninggalkan semua kenangan tentang persahabatan mereka. Kini, bara berdiri sendiri di atas bukit. Bersama bayangan michi di benaknya, ia lalui hari demi hari hingga ia kini menjadi apa yang ia inginkan dahulu.

Bara akan selalu ingat, ketika michi berada di sebelahnya, menceritakan semua tentang cita-cita dan harapannya, memberikan support untuknya, dan masih banyak lagi yang ada di ingatannya. Walau michi telah pergi dari sisinya, tapi michi akan selalu ada di hati bara untuk selamanya. Begitupun sebaliknya. Walau michi kini berada di dunia lain, pasti bara tak akan terhapus di hatinya.

Sebuah kotak musik pemberian michi yang berisi rekaman suaranya ia selalu pandangi terus dan di dengarkan suara merdu michi oleh bara

▪◽◾Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
izinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktu ku telah habia dengannya 
biar cinta hidup sekali ini saja◾◽▪

Terdengar suara alunan lagu yang dinyanyikan michi itu.
“Tuhan kau telah memberikan aku kesempatan untuk mencintanya, walaupun waktu ku  telah habis untuk bersamanya namun engkau telah biarkan cinta ini hidup walau hanya sekali saja Tuhan..” Batin bara dalam hati dan memeluk kotak musik pemberian michi tersebut.

Posted in FTV / Sinetron

#SINET: I’m Not Your Brother eps. 3

Episode sebelumnya: #INYBeps2

image

-Cat POV-   

Gue baru bangun, sekarang udah jam 6 pagi. Gue segera bangun buat mandi lalu pake seragam sekolah. Sebenernya mood gyue mau sekolah bener-bener ga ngedukung. tapi ya gimana lagi namanya juga sekolahkan? ck

“dek, makan sarapan dulu” panggil mama gue buat makan. Gue senyumin mama gue. lalu jalan ke meja makan terus ngambil roti yang udah diolesin coklat diatasnya. gue abisin terus minum susu yang disediain mama.

“papa mana ma?” tanya gue ke mama. heran juga gitu papa ga ikut makan bareng kek biasanya.

“udah berangkat duluan, katanya ada meeting” jawab mama lembut. gue nyari lagi. keknya ada yang kurang.

“abang fero mana?” tanya gue lagi sekali.

“udah dimobil tuh nungguin kamu” bales mama sambil ngambil bekas piring roti gue tadi. lalu gue langsung beranjak dari kursi terus keluar rumah.

“maaa, aku jalan yaa” ucap gue langsung nyamperin mama di dapur, lalu gue salam. Gue jalan ke mobilnya abang. Dan kita cus ke sekolahnya gue, ya maklum aja sih, dia pan supir gue. wkwk

-Author POV-  

Sehabis Fero nganterin adiknya sekolah, dia langsung ke kampus. ada kelas pagi gitu. Galama setelah dia memarkirkan mobilnya, ada seorang cewe datengin ke Fero, Lala. Lala temen sekampusnya Fero, beda setahun aja sama Fero. Lala udah lama suka sama Fero, tapi dia ga ngungkapin. Dia ngungkapin lewat perlakuan doang. tapi tetep aja Fero ga peka.

“Fer, kamu mau ga temenin aku nonton? tadinya aku beli tiket 2 buat nonton sama Ceri, eh Cerinya malah ada acara. terus aku ajak Lusa, tapi Lusa juga lagi temenin orang tuanya bersihin rumah. pilihannya kamu doang sekarang, mau ga?” ucap lala sambil menatap Fero ngarep.

“oh, boleh. kapan?” jawab Fero, terus senyumin Lala.

“sekarang?” jawab Lala lagi sambil senyum puas kerana ajakannya udah diterima.

‘tuut tuut’

Fero langsung merogoh pocket di celananya, terus menekan tombol hijau di layar hpnya.

“iya iya abang kesana sekarang. lu tunggu sana aja dulu” ucap Fero keliatan panik.

“La, mungkin lain kali aja ya? gue ada urusan. maaf ya” ucap Fero langsung berlalu dari tempat itu.

Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Perfect Love

image

Lala menutup pintu mobilnya lalu menggandeng tas tangan yang ia bawa, memakai jas dokter kemudian berjalan menjauhi mobil dan masuk kedalam rumah sakit

Lala tersenyum ketika beberapa suster dan dokter menyapanya hangat, Lala ikut tersenyum hangat.

Lala mendorong pintu ruangannya dan menyapa suster disana 

“Pagi Ruk.”Sapa Lala ketika ia duduk di kursi kerjanya, Inaaa maruka atau labih sering di sapa Maruk ini menoleh kemudian berjalan mendekati Lala.

“Eh, La. Tumben lo cepet dateng?”Ucap Maruk, Lala menyentil kening Maruk membuat Maruk tambah membesarkan tawanya.

“Lo ada operasi lagi hari ini?”Tanya Maruk, Lala mengangguk kemudian melihat beberapa ronsenan, mata Lala berhenti pada satu ronsenan.

“Loh, ini dia kenapa?”Tanya Lala, Maruk menghentikan aktivitasnya dari membersihkan ruangan, dia berjalan menuju tempat Lala.

“Oh itu, namanya Lusa, dia kaya patah tulang gitu karena ikut kayanya abangnya di asrama gitu”Ucap Maruk, Lala hanya mengangguk anggukkan kepalanya dia kemudian menyuruh Maruk agar Lusa -pasien kecilnya- masuk keruangannnya.

Seorang gadis kecil, berkepang dua dan berpenampilan feminim masuk kedalam ruangan dan di gendong oleh abangnya tersenyum pada Lala

Lala balik tersenyum pada gadis itu, dia kemudian menyuruh abang sigadis kecil untuk berbaring di ranjang.

Ketika sudah berbaring Lala kemudian mengecek beberapa tulang dan sendinya, selesai mengecek keadaan Lusa, Lala tersenyum lalu menatap Lusa.

“Kamu kenapa? kok tulangnya geser gini?”Ucap Lala, Lusa hanya tersenyum kemudian menggeleng.

“Aku nggak papa ko bu dokter.”Ucap Lusa, Lala mencubit hidung Lusa.

“Nggak boleh bohong.”Ucap Lala, Lusa hanya tertawa kecil, Seorang pria muda yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

“Makasih.”Ucap pria yang menggendong anak laki laki tersebut, Lala tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya pada Lusa yang terlihat menggemaskan.

“Kak Tarif ih.”Samar samar Lala dapat mendengar suara Lusa yang berteriak kesal kearah Tarif. 

“Jadi namanya Tarif.”Gumam Lala, dia tersenyum kecil lalu memeriksa pasien yang lain.

***

“Lusaa, besok kamu check up ya?”Ujar Tarif, Lusa mengangguk bersemangat.

“Iyaa kak. Bu dokternya baik banget tau.”Ucap Lusa, Tarif mengacak acak rambut Lusa lalu tersenyum.

“seminggu lagi kaka mau kerja ya, kamu sama mbak Rena ya.”Ucap Tarif, Lusa mengerucutkan bibir nya lalu menyilang tangan di depan dadanya.

“Sama mbak Rena terus kak.  pengen sama kakak.”Ucap Lusa, Tarif berhenti dari aktivitasnya merakit pistol, dia berjongkok menghadap Lusa.

“Lusa, Rena itu mama kamu.”Ucap Tarif, Lusa menggeleng.

“Ih bukan kak.”Ucap Lusa, Tarif menggeleng kemudian mengacak acak rambut Lusa.

“Yaudah kakak mau tidur dulu, goodnight Lus.”Ucap Tarif lalu bangkit menuju kamarnya.

***

“Ruk lo percaya nggak sama cinta pada pandangan pertama?”Ujar Lala, Maruk yang sedang membereskan barang barang yang berada di rumah sakit menoleh.

“Percaya nggak percaya. Kenapa emangnya?”Tanya Maruk. Lala hanya menggeleng sambil tersenyum simpul.

Maruk melihat tingkah sahabatnya itu kemudian mengangkat satu alisnya lalu tersenyum menggoda.

“Lo suka sama abangnya Lusa ya? ngaku lo ngaku lo ngakuu.”Ucap Maruk, Lala hanya tersenyum malu.

“Ciee.”Ucap Maruk, Lala mengambil bantal yang ada diranjang rumah sakit lalu melemparkan bantal itu kepada Maruk.

“Apaan sih Ruk.”Ucap Lala malu.

“Cie Lala pipinya merah cieee Lalaa.”Ucap Maruk, Lala kemudian menjitak Maruk dan terjadilah adegan kejar kejaran di salah satu ruangan dokter.

***

Lala kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, bekerja di rumah sakit ternama di indonesia, Lala bahkan tidak jarang membayar biaya pengobatan orang orang yang tidak mampu.

Lala Lahfah seorang gadis cantik berumur 21 tahun tetapi karirnya di dunia kedokteran semakin hari semakin menaik.

Dengan badan yang bagus, muka bak bdadari, kulit yang mulus, dan kepintaran yang berada di atas rata rata. Siapa yang tidak suka kepadanya? bahkan beberapa dokter lelaki tak sungkan menyatakan perasaan mereka kepada Lala, tetapi di tolak dengan lembut oleh Lala.

Lala masuk dan menyapa Maruk yang selalu datang duluan daripada dirinya, Lala meletakkan tasnya lalu berkata pada Maruk.

“Ruk, Lusa hari ini check up lagi kan?”Tanya Lala, Maruk hanya mengangguk sambil menaik turunkan alisnya.

Beberapa menit kemudian pasien pasien Lala sudah beberapa di obati dan Lusa belum datang juga, padahal ini sudah jam makan siang. Lala hanya mendengus kemudian izin kepada Maruk untuk kekantin.

Lala berjalan santai sambil sesekali tersenyum ramah kepada pengunjung rumah sakit yang ia kenal.

Ketika sampai di kantin, Lala mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Lala mengerutkan keningnya lalu menyipitkan matanya.

“Loh itukan Lusa?”Gumam Lala.

“Tapi Lusa, abangnya sama siapa perempuan itu? keliatan akrab banget sama Tarif.”Gumamnya.

Lala memutuskan untuk duduk di dekat meja mereka bertiga, Lala dapat mendengar kata “Mama” “Kakak” “Benci” dan beberapa bentakkan yang Lala ketahui untuk Lusa.

Lala menoleh kebelakang, dan ketika itu juga mata Tarif menuju tepat kedalam matanya, buru buru Lala menolehkan kepalanya kearah lain menyembunyikan warna merah di pipinya

Lala dapat mendengar suara langkah kaki dan sepertinya mendekat ke arah nya. Ia dapat mencium bau mint ketika sepasang sepatu berhenti di sebelahnya.

Tarif dengan sejuta pesona, mengenakan baju tentara lengkap dengan pistol di pinggangnya, sambil menggendong Lusa yang menangis.

Lala buru buru bangkit lalu mengambil alih untuk menggendong Lusa, Lala dengan telaten berusaha membujuk Lusa agar tidak menangis lagi.

Dan beberapa menit kemudian berhasil, Lala dapat menenangkan Lusa, Tarif tersenyum kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Lala.

“Lusa tadi ketemu sama mamanya.”Ucap Tarif memulai pembicaraan.

Lala menoleh kemudian mengangkat alis, tidak mengerti.

“Iya, Lusa itu nggak mau mamanya itu Rena, nggak tau kenapa, padahal Rena sayang banget Lusa.”Ucap Tarif, Lala menoleh ke Lusa yang sesegukan.

“Loh kenapa dia nggak mau? kan itu mamanya.”Tanya Lala, Tarif mengangkat bahu kemudian bersender ke kursi.

“Dari dulu, Lusa sama gue, Rena sibuk, dia nggak bisa ngejagain Lusa siang malem, jadi Lusa dititipin sama gue, dan Rena setiap sebulan sekali dateng kerumah.”Cerita Tarif, Lala hanya mengangguk, kemudian sesekali melirik Lusa yang sepertinya mengantuk di gendongannya.

“Tapi pas umur Lusa 5Tahun Rena nggak pernah datang kerumah lagi, Lusa kadang nangis karena rindu Rena, gue udah coba telfon Rena beberapa kali tapi nggak diangkat.”Ucap Tarif, dia memainkan bon makanannya yang ia beli tadi.

“2 tahun kemudian Rena dateng, kerumah sambil bawain Lusa oleh oleh, tapi Lusa nggak ngehirauin Rena lagi. Dia malah menghindar setiap Rena dateng kerumah.”Ucap Tarif. Lala mengangguk kemudian membelai rambut Lusa yang sudah tertidur.

“Kasian yah, gue tau perasaan Rena kaya gimana.”Ucap Lala, dia berdiri kemudian menyerahkan Lusa kepada Tarif.

“Gue mau kerja dulu, masih ada 2 pasien lagi sebelum jam sore.”Ucap Lala, Tarif mengangguk dan mengambil Lusa dari gendongan Lala.

Lala tersenyum kemudian mengambil tasnya, lalu melangkah dengan senyuman yang sepertinya abadi di wajahnya.

Beberapa langkah Lala melangkah, Tarif memanggilnya “Gue tungguin ya.”Ucap Tarif, Lala menoleh kemudian mengangguk malu malu.

*** 

Senyum Lala mengembang mengingat teriakan kecil dari Tarif ketika ia ingin kembali menuju ruangannya, dengan menggendong Lusa yang tertidur dan pakaian tentara yang membuat dirinya terlihat berwibawa sekaligus terlihat penyanyang.

Semua berkas tentang ronsen dan beberapa hasil pemeriksaan telah beres dan di taruh di lemari.

Lala berjalan keluar setelah berpamitan kepada Maruk, ia keluar dan tepat di pintu masuk ruangannya Tarif sedang bercanda dengan Lusa.

“Hai, Rif.”Sapa Lala, Tarif menoleh kemudian berdiri dengan posisi tangan sebelah kiri menggandeng Lusa

“Hai juga, La.”Sapa Tarif balik, dia tersenyum sambil mengulurkan tangan membuat Lala gegalapan.

“Eh.” Tapi tak urung uluran tangan Tarif Lala sambut dengan suka cita. Mukanya memerah menambah sisi imutnya bagi Tarif.

Lala tersenyum malu ketika jermari tangannya bertautan dengan jemari kokoh Tarif.

Di sebelah kiri Tarif, Lusa tersenyum bahagia, walaupun umurnya baru menginjak 8tahun, ia sudah mengerti apa arti dari tatapan mereka berdua.

Dan disana Lala menganggap bahwa ia dan Tarif resmi mempunyai ikatan satu sama lain.

***

8bulan kemudian

Lika liku perjalan cinta mereka sangat susah, salah satu contohnya Tarif selalu pergi saat mereka berkencan. 

flashback

“Nonton yuk.”Ajak Lala ketika mereka sedang menikmati makanan di salah satu cafe mall.

“Ayok.”Jawab Tarif, Lala mengganguk bersemangat, ia langsung menggandeng tasnya dan menarik Tarif keluar.

Ketika sampai didepan pintu bioskop, Lala berjingkrat senang, bukan apa apa, setelah jadian selama 5bulan Tarif belum pernah mengajaknya untuk berkencan. Apalagi menonton Film, karena Tarif sangat sibuk untuk melaksanakan tugasnya, yaitu membela negara.

Tarif yang mengenakan pakaian tentara menjadi tontonan, ditambah Lala yang mengenakan jas dokter.

Setelah membayar tiket untuk Film Aku sayang SPP yang di sponsori oleh ScreenplayPard, Mereka berdua menunggu cukup lama, sampai akhirnya studio 3 dibuka dan mereka dipersilahkan masuk.

Tarif dan Lala duduk di tengah tengah membuat mereka langsung menjadi sorotan lagi.

“Sumpa rif, aku malu diliatin.”Adu Lala, Tarif mengacak acak rambut Lala kemudian mencubit pipinya.

“Jangan malu, sayang. Ada aku. Pede ok?”Ucap Tarif, Lala mengangguk pelan, mencoba untuk menahan pipinya agar tidak terlihat merah.

Film sudah di mulai, Diawali dengan adegan lucu yaitu perdebatan kekasih yang sangat fenomenal, Bara dan Cili sedang bertengkar adu mulut yang diakhirnya Bara mencium kening Cili dan membuat Cili menghentkan ocehan panjangnya. membuat beberapa penonton tersenyum geli.

Adegan kedua yaitu Ceri dan Kay yang sedang memakan Ice Cream, Kay sengaja menoel pipi Ceri dengan Ice Cream  yang membuat Ceri berteriak kesal, ia membalas Kay dengan cara memberikan Ice Cream di pipi Kay, dan langsung lari, Kay yang tidak terima mengejar Ceri sampai dapat, ia menangkap Ceri dengan memeluk Ceri dari belakang.

Ketika sampai di adegan ketiga, Tarif mendapat telfon, dia meminta izin kepada Lala yang dibalas dengan anggukan.

Lala yang sedang fokus dengan film tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Tarif di telepon.

Ketika asik melihat adegan Bayem dengan Upil, Lala di kejutkan oleh Tarif yang menepuk pundaknya.

“La.”Ucap Tarif, Lala menoleh kemudian mengangkat alisnya

“Apa Rif?”Tanya Lala, Tarif mengembuskan nafas kemudian menatap Lala.

Lala yang peka langsung mengerti arti dari tatapan itu, dia mengelus pundak Tarif lembut kemudian mengangguk.

“Yaudah pergi sana, pasti mau bela negara lagi kan? aku tungguin ko pahlawannya aku dan Negara pulang.”Ucap Lala disertai senyum tipisnya, Tarif menghembuskan nafas beratnya.

“Kamu nggak papa pulang sendiri?”Tanya Tarif, Lala mengangguk kecil, Tarif kemudian mengacak rambut Lala lalu bangkit berdiri, dan berbisik “Tungguin aku.”

Lala mengangguk disertai senyman tipisnya, setelah Tarif pergi Lala menghembuskan nafasnya lalu mencoba fokus untuk menonton.

***

Hari ini tepat 8 bulan mereka jadian, hari ini Tarif mengajak Lala untuk berkeliling di basecamp pasukannya.

Tarif yang menjabat sebagai kapten pasukan khusus tentu saja diperbolehkan membawa teman untuk masuk kedalam kamp tentara pasukan khusus.

Tarif selalu setia mengaitkan jemari nya di jemari lentik Lala.

Ketika sudah sampai diruangan penyimpanan senjata, Tarif menoleh kemudian menatap Lala dalam.

“La aku mau ngomong serius.”Ucap Tarif, Lala ikut menatap Tarif dalam.

“Ngomong aja Rif.”Ucap Lala, jantungnya berdegub kencang harap cemas menanti apa yang akan di beritahu oleh Tarif.

Terlihat Tarif menghembuskan nafasnya lalu menggaruk tengkuknya.

“Kenapa Rif?”Tanya Lala, Tarif menatap Lala tidak tega.

“Aku mau ‘liburan’ selama 9 bulan di luar negri, La. Buat pelatihan dan itu cuma buat pasukan khusus doang.”Ucap Tarif, Lala melebarkan matanya, lalu menutupnya dengan senyum manis yang Tarif tau itu palsu.

“Oohh.”Ucapan singkat dari Lala mampu membuat Tarif mati kutu. 

“Nggak papa kan?”Ucap Tarif, Lala tersenyum tipis dan menggeleng.

“Nggak papa aku selalu nungguin jagoan aku pulang.”Ucap Lala, Tarif tersenyum lalu mencium kening Lala.

***

Hari ini adalah hari keberangkatan Tarif ke luar negri, dibandara ia sudah di tunggu oleh Rena, Lusa, dan Lala dan ayah Tarif yang dulu juga seorang tentara.

Lusa di gendongan Runa tersenyum dan menepuk nepuk tangannya saat melihat mobil angkutan pasukan khusus berhenti di depan mereka.

“Bang Tarif, yeay.”Ucap Lusa, Rena menurunkan Lusa dan dengan cepat Lusa memeluk Tarif.

“Heyy!”Sapa Tarif pada Lusa.

“Apakabar cantik.”Ucap Tarif, Lusa semakin memeluk Tarif erat.

“Jangan lama lama dong bang pulangnya, Ntar aku, mama sama Kakak cantik kangen.”Ucap Lusa, Tarif terkekeh kemudian mengangguk.

“Iya kakak nggak lama kok.”Ucap Tarif.

Lala tersenyum hangat kemudian menghampiri mereka, diikuti oleh Rena.

“Hey jagoannya Lala.”Ucap Lala, Tarif menoleh kemudian tersenyum.

Lusa melepaskan pelukannya dan lari kedalam pelukan Rena, Rena hanya menggeleng melihat kelakuan putri satu satunya.

“Kenapa bu dokter?”Ucap Tarif, ia mendekat kearah Lala dan merentangkan tangannya.

Lala dengan cepat masuk kedalam dekapan hangat Tarif, menjaga agar air mata nya tidak turun.

“Jangan lama lama ya, nanti aku kangen.”Ucap Lala, Tarif terkekeh kemudian mengeratkan pelukannya.

“Siap bu dokter!”Ucap Tarif, ia melepaskan pelukan nya dan hormat kepada Lala.

Sedangkan Lala hanya terkekeh pelan.

Tarif mengacak acak rambut Lala lagi, Lala meringis saat rambutnya yang sudah ia tata berjam jam lamanya rusak karena tangan Aliando Starif.

Ayahnya Tarif, Azi hormat kepada Tarif yang dibalas oleh Tarif.

“Papa bangga sama kamu.”Ucap Azi, Tarif mengelus bahu Azi kemudian salam pada Azi

“Seandainya Ragu masih hidup ya.”Kata Azi, Tarif hanya menunduk.

“Pasti dia lebih bangga sama kamu.”Lanjut Azi, Tarif menunduk kemudian mengelus bahu Azi.

“Aku pergi dulu Pa.”Ucap Tarif, Azi mengangguk.

Dia beralih ke arah Rena yang sedang bercanda dengan Lusa.

“Mbak.”Ucap Tarif, Rena menoleh kemudian mengulas sedikit senyum.

“Kenapa Rif?”Tanya Rena, Tarif datang lalu mengacak acak rambut Rena.

“Gue pergi dulu, jagain Lusa jangan sampe dia nggak mau sama lo kaya dulu.”Ucap Tarif, Rena terkekeh kemudian mengangguk.

Tarif pergi diiringi oleh 4 orang yang sangat amat dia sayangi, dan sangat amat menyayanginya.

***

Bulan 1

Lala PoV

Hari ini aku sedang mengerjakan operasi besar, ketika sudah selesai, aku mendapatkan notifikasi dari Tarif. Astaga aku kangen dia.

Aliando Starif : Bu dokter, aku udah sampai, aku kangen kamu.

Aku merindukannya.

***

Bulan 2

Hari ini lagu kebangsaan sedang di putar, dan aku tiba tiba saja mengingat Tarif

Lala Lahfah : Pak tentara, udah makan? Aku kangen.

Dan itu membuatku gila.

***

Bulan ke 3

Hari ini aku sedang makan siang di salah satu restoran favorite kami berdua. Dan kini aku sendirian.

Lala Lahfah : Kamu dimana sekarang? Aku lagi makan di restoran fav kita loh. Aku kangen kamu.

Membuat tidurku gelisah.

***

Bulan 6

Sampai sekarang dia masih belum memberiku kabar padahal kalau saja dia on kami akan memperingati anniversary yang Kesatu tahun.

Lala Lahfah : km dmn? aku kgn. seharusnya 2 bulan yg lalu kita ngerayain anniv kita. 

Membuat hati tak kunjung henti memanggil namanya.

***

Bulan 9

Mana katanya mau pulang, ini udah bulan ke 9 dan dia masih nggak pulang. Hari ini aku ada operasi besar.

Lala Lahfah : BigBoss dimana? aku kangen, hari ini ada operasi besar. Aku kangen tau. 

Membuat pikiran tidak menentu.

***

Author PoV

Hari ini adalah hari dimana Tarif pulang, Handphone Tarif rusak ketika ia mencoba mencari sinyal di pedalaman negara sakura itu.

Hari ini hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh Tarif maupun Lala.

Tarif berjalan menggunakan mobil yang sudah ia hias sedimikian rupa, mobil antik yang berharga miliaran itu dijadikannya ajang untuk melamar Lala.

Ketika sampai di depan rumah Lala, Tarif masuk dengan gaya cool seperti biasa, dan mengetuk pintu rumah Lala.

Dan beruntungnya hari ini yang membuka pintu adalah seorang yang ia rindukan selama sembilan bulan ini.

Ketika membuka pintu Lala kaget dan langsung memeluk erat Tarif.

“Aku kangen.”Ucap Lala, Tarif mengelus rambut Lala pelan lalu tersenyum.

“Tengok kebelakang aku deh”Ucap Tarif, Lala melepaskan pelukannya lalu menoleh kebelakang Tarif kemudian terdiam. Tepat di belakang Tarif terdapat mobil sedan antik dengan poster di atas mobil itu bertuliskan

‘bu dokter, will you marry me?’

Tarif langsung merogoh sakunya dan berjongkok sambil mengeluarkan cincin.

“So, will you marry me?”

Lala langsung menutup mata sambil mengangguk, Tarif berdiri kemudian memaikaikan cincin cantik yang pas dengan jemari lentik Lala.

Tarif berdiri kemudian memeluk Lala erat.

“Thankyou.”

Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Gara Gara Cabe

image

Pagi itu adalah jam istirahat pertama mereka dikelas XII ini. Tidak terasa akhirnya mereka semua anak Noswi dapat naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus, malah ada yang bagus banget.

Dan setelah 2 minggu liburan, akhirnya mereka masih bisa berkumpul lagi, walaupun kelas mereka berbeda.

Bayem dan Ceri ada di kelas IPA 2. Chili dan Putrel ada di kelas IPA 4. Dan Rena yang sendiri ada di kelas IPA 1. Walaupun Rena sendiri tapi dia punya banyak teman untuk menemaninya di kelas, jika tidak ada kita. Sikap Rena yang lucu dan baik itulah yang membuatnya jadi banyak teman.

Mereka berlima sedang berada di kantin, untuk beristirahat dari jam pelajaran. Bayem sedang bercerita tentang liburannya dengan Ceri. Rena dan Chili sedang membicarakan sesuatu yang lagi trend. Sementara Putrel sedang membaca novel barunya.

“Eh Rena, katanya sepatu n**** lagi nge trend tau! si Lala kan udah punya, katanya dia beli sampe 300 ribu!” Ujar Chili dengan heboh.

“Ya udah biarin aja kali, dia kan orangnya pamer, jadi sepatu yang baru keluar aja langsung dia beli,” sahut Rena cuek.

“Ga asik kamu Ren,” ujar Chili kesal.

“Kalian ngomongin apaan sih?” Tanya Putrel penasaran.

“Lu sudah selesai baca novelnya?” Tanya Rena.Putrel mengangguk.

“Lu enggak bakal ngerti tentang fashion,Rel.” ucap Chili.

“Gue kan ingin tahu,” jawab Putrel polos.

“Gue kasih tempe saja yah,” tawar Rena ngaco.

“Ngapa jadi tempe?” Keluh Chili.
Melihat sahabatnya yang kesal,Putrel pun membujuk Chili agar tidak kesal lagi.

“Udah si ngapain kesal segala, kamu jelek makin jelek kalau so kesel sob.” Ujar Putrel.

Chili memalingkan wajah kesal.

“Ne Haruna cabe,” ucap Putrel tiba-tiba.

Toeng!

Urat dikepala Chili pun berbentuk siku-siku, kesal. Tadi Putrel membujuk Chili agar tidak kesal dan sekarang dia malah mengatainya dengan kata ‘Cabe?’. Oh tidak, Chili itu cewek baik-baik, jadi dia bukan ‘C-A-B-E’.

Mendengar Putrel mengatainya, Chili pun menjadi murka. “Enak aja, kamu tuh yang cabe, Putrel!” Bentak Chili.

Putrel bingung. “Ih, enggak, bukan,” elaknya.

“Iya! Kamu yang cabe,”

Mendengar kedua temannya yang main kata-kataan, Rena mencoba melerainya. “Eh apaan sih ini? Kok tiba-tiba kamu marah gitu Chili?” Tanya Rena.

“Itu tuh, Putrel ngatain aku cabe,” tuduh Chili.

“Ih, aku enggak ngatain Chili, tapi mau ngasih tau kalo di giginya ada cabe,” jawab Putrel polos.

Blusshh

Wajah Chili pun memerah, malu.
“Makanya rel kalo bicara yang jelas, jangan kaya tadi, kan jadinya Chili salah paham,” jelas Rena.

“Chili-nya aja yang langsung marah, padahal aku belum selesai bicara,” jawab Putrel kesal.

“Putrel!!!! Kau membuatku malu tahu!!!” Murka Chili.

“Aku punyanya tempe, enggak ada tahu,” ucap Putrel polos.

Posted in FTV / Sinetron

#SINET: When You Love Me eps. 3

image

Kay mengantar anice tepat sampai depan rumahnya, tiba-tiba saja kepala kay terasa berat

“aduh..”keluh kay sambil memegang kepalanya yang sakit

“kak lo gapapakan? Aduh gimana ini”ucap anice khawatir

“emm..gue gak papa kok! Lo udah lama tinggal disini”tanya kay

“dari gue kecil, tapi 2tahun lalu gue pindah ke belanda”balas anice

“belanda”balas kay anice hanya mengangguk sambil tersenyum.

Flashback.
Pagi itu anice membuktikan bahwa dirinya benar-benar harus berangkat ke belanda, dan kay datang ke airport walau dengan perasaan yang sangat terpukul.

Jarak memisahkan mereka membuat anice dan kay selalu diterpa konflik, pada awalnya kay menyetujui untuk berhubungan jarak jauh namun saat tepat 1 tahun keduanya tidak ada kabar terlebih anice menghilang begitu saja

“ini udah 6bulan sejak anice gada kabar,kemana dia”gumam kay.

Dan tak lama kay mendapat e-mail dari orang tua anice bahwa anice mengalami kecelakaan berat sehingga menyebabkan dirinya koma selama 3bulan terakhir, kay yang membacanya shok berat bagai disambar petir ribuan volt.

Dengan cekatan saat itu juga kay berangkat ke bandara untuk mencari tiket penerbangan menuju belanda dan hasil nya nihil hari itu tidak ada jadwal penerbangan kay terpukul dan pulang menuju rumah dengan keadaan kacau hingga saat perjalanan mala petaka menghampirinya.

Yak! Kay tabrakan dengan 2 truk besar dan kay mengalami koma selama 2bulan lamanya, selama itu juga dokter memberitahu keluarga kay bahwa kay mengalami amnesia permanen kemungkinan untuk megingat dirinya atau bahkan masa lalunya pun kecil, yang terekam hanya kejadian terakhir yang menimpanya

“gimana ini pah, mamah gak sanggup”ucap Kaiu Ibunda kay

“ya bagaimana lagi mah, kita harus tabah”balas Lion Ayah kay
Flasback off.

“Gue kaya pernah kesini tapi kapan?”batin kay.

Anice mengajak kay untuk mampir kerumahnya walaupun hanya sebentar namun kay menolak. Cowo sedingin kay belum pernah memecahkan sejarah untuk masuk kerumah perempuan, kecuali dulu saat dirinya masih bisa mengingat hal-hal indah yang pernah terjadi.

Sementara itu….

“eky lo harus bantu rena dong supaya rena bisa deket sama kay”ucap lala

“gue gabisa, kay batu! Dia tetep aja bakalan dingin sama cewe-cewe. Lagian guekan udah sempet bilang sama lo walaupun ingatan dia ilang total tapi dia tetep ngerasa bahwa dia tuh masih cinta sama orang yang dia sendiri gatau siapa”balas eky

“lagian aneh”balas lala dengan wajah murung

“ayolah, kita gabisa se-egois ini. Biarin semuanya ngalir kaya air” balas eky santai

“siapa perempuan yang masih kay cintai?”tanya lala dengan menatap tajam eky

“tante kayu bilang perempuan itu pindah ke belanda, dan sampe sekarang tante kayu gatau keberadaan dia”balas eky

“apa ada kemungkinan kay bakalan inget semuanya”ucap lala sambil merapihkan rambut eky yang sedikit tidak rapi

“dokter bilang kemungkinan kecil, tapi kita gak ada yang tau mukjijat dari tuhan la”balas eky

“kita ikutin aja semua sesuai waktu jangan paksakan apa yang gak seharusnya dipaksakan, kita udah berusaha supaya rena deket sama kay, tapi sampe sekarang nihil gak ada hasil yaudah gapapa”sambung eky dan lala pun bangkit dari duduknya kemudian pergi meninggalkan eky sendiri di cafe

“rena buruk buat kay, sorry la”gumam eky pelan.

*****

“ceriiiii gue gamau tau lo harus bantu gue, lo bilang kek sama bami atau eky, atau kay? Lo kan juga sempet deket sama kay waktu pertama kali masuk kampus”ucap rena dengan nada tinggi

“rena ngomongnya pelan bisa? Gue udah coba ren tapi kay tetep dingin, omg waw rena gue deket sama kay jaman purba ren. Lo liatlah sekarang kay kaya apa”balas ceri santai

“guetu kesel,kesel,bete dan bete banget”balas rena.

Ceri sama sekali tidak menanggapi ocehan rena dirinya hanya sibuk melihat olshop olshop. Lala datang dengan wajah cemberut saat sampai dirumah ceri, rena menatap lala bingung

“kenapa lo?dimodusin bami?”balas lala

“engga, gue lagi kesel aja”balas lala kemudian duduk di sebelah ceri

“ohiya, gue dikabarin sama hand katanya kay anterin cewe pulang, dan yang lebih parahnya dia itu MABA”terang ceri

Rena seperti tersambar petir “what!!!” ucap rena teriak

“biasa-biasa”balas lala

“MABA?! Kok bisa, apa peringatan kita ga cukup buat mahasiswi disana, astaga”balas rena

“yaudah si ren, toh kay juga tetep dingin sama lo udahlah”balas ceri

“kalau kalian gamau bantuin gue lagi gapapa, gue bisa pake cara gue sendiri”balas rena kemudian pergi.

Itulah sifat rena yang kurang disukai oleh kedua sahabatnya selalu melakukan ribuan cara agar semuanya tercapai.

Keesokan hari nya….

Anice berjalan Menuju Fakultas Hukum ntah kenapa rasanya anice ingin bertemu dengan kay sejak kemarin hari,  bahkan tak disangka anice membawa sekotak nasi goreng buatannya.

“kak”teriak anice saat melihat kay keluar dari kelas

“ya”balas kay dingin 

“ini buat lo sebagai tanda ucapan terimakasih karna lo udah nolong gue kemarin”balas anice sambil tersenyum dan memberikan misting Nasi goreng tsb

“kenapa repot-repot. Gue terima ya thanks”balas kay sambil tersenyum tipis, ini kedua kalinya setelah hari ulang tahun kay kembali tersenyum

“Sama-sama semoga suka ya! Kalau gitu gue balik ke kelas, once again thank you”balas anice sambil tersenyum.

*****

Rena melihat kay sedang berada dikantin, hal yang membuat rena aneh adalah kay sedang makan dan berasal dari misting rena berjalan perlahan untuk menghampiri kay dan saat sampai rena langsung duduk tanpa izin, kay menatap rena dingin

“tumben bawa bekal ke kampus, kok waktu gue bawain lo gamau makan”balas rena bingung

“punya lo pasti gaenak makanya waktu itu gue kasihin ceri”balas kay dingin

“ini buatan siapa?”balas rena

“anice, maba fakultas psikologi. Enak loh! Beda sama buatan lo”balas kay lalu menutup mistingnya kemudian pergi meninggalkan rena, tapi eits… 

“nasi goreng punya lo gaenak, masih mending nasi goreng bikinan ceri waktu dulu, tapi buatan anice lebih baik dari punya kalian, well jauhin gue ren gue enek sama lo”balas kay kemudian pergi

“iiiiiwwwwhhh”teriak rena.

Kay berjalan menelurusuri kampusnya sambil tersenyum walaupun tipis tapi entah kenapa perasaan nya ini sungguh senang dan belum pernah dia rasakan sebelumnya

“apa benar kata mamah gue kecelakaan parah, terus kecelakaan itu bikin gue amnesia permanen? Apa gabisa secuil kenangan indah gue inget? Walaupun sedikit”gumam kay sambil menatap kosong dihadapannya

“gue pingin banget inget masa lalu gue, gue bahkan gatau sahabat sahabat SMA gue, pasti selalu mereka yang sksd. Kapanpun takdir itu datang gue siap nerima manis dan pahitnya masa lalu gue”gumam kay lagi.

Waktu berjalan begitu cepat hingga kay benar-benar dekat dengan anice, bahkan hampir seluruh mahasiswi di universitas cendrawasih merasa iri dengannya apalagi rena, sudah tidak bisa di jelaskan lagi rena selalu termakan api cemburu, lala bahkan sekarang sedang dekat dengan eky sahabatnya kay, ceri yang ke kanak-kanakan masih anteng saja dengan statusnya.

Pagi itu Ceri sedang jogging disebuah taman dekat komplek dan tidak sengaja bertemu dengan anice

“elo?rumah lo disini”sahut ceri

“iya”balas anice sambil tersenyum

“ohgitu, by the way. Lo ada apa sama kay?”selidik ceri

“nothing”balas anice

“kok lo deket banget sama kay, padahalkan lo maba”balas ceri, anice merasa tingkat ke kepoan ceria ini semakin tinggi

“ngga tau gue ngerasa aja kalau gue itu dulu pernah kenal sama kay, mungkin bukan kay tapi typical orang nya aja yang sama,sama sama dingin”balas anice

“iya kay emang frozen banget”balas ceri sambil sedikit tertawa.

Keesokan hari nya ceri datang menghampiri rena yang sedang duduk di salah satu kursi taman

“ren..”sapa ceri

“yaa?”balas rena sendu

“ih lo kenapa sih ren, lo liat apaan?”balas ceri rena hanya menunjuk kerah depan yap!

Dihadapan rena ada kay dan anice mereka terlihat seperti sepasang kekasih padahal belum terlalu lama kenal.

Sementara itu, kay menatap anice sambil tersenyum “kalau gitu besok lo temuin gue di aula kampus gimana?”sahut kay

“mau ngapain?”anice menatap kay lekat

“katanya mau liat gue main gitar,gimana sih haha”balas kay sambil mengacak-ngacak rambut anice pelan

“ohgitu, okeoke”balas anice tersenyum dari kejauhan rena sudah seperti berada dalam minyak panas diatas kompor hatinya meletup-letup.

Adik-Kaka Zone membuat anice dan kay semakin dekat dan lebih dekat, bahkan hampir seluruh mahasiswi merasa iri pada anice

The Girls sebetulnya tidak tinggal diam bagaimana bisa seorang MABA mendapat perhatian dari cowok terdingin di universitas cendrawasih

“gue aneh sama anice dia pake pelet apa?”ujar lala santai

“gimana kalau kita kerjan dia”balas ceri

“kerjain gimana”balas rena

“kita teror dia”balas ceri tersenyum

“teror dengan?”balas lala

“Aduh makanya kalau gue ngomong jangan dipotong, sabar”balas ceri kemudian duduk dihadapan rena dan lala

“jadi gini gue ada ide,gimana kalau kita teror dia supaya dia gak deket lagi sama kay. Teror nya dalam bentuk apapun tulisan mungkin atau apa gitu”balas ceri

“nanti kalau ketauan posisi kita gak aman”balas lala

“ide lo kadang bagus! Tapi gue gak setuju”ucap rena sedikit menyentak.

*****

Siang ini kay berencana untuk memberi sedikit kejutan pada anice

“lusa”panggil kay

“ya?”balas lusa

“lo mau kan bantuin gue siapin aula kampus, lo ambil gitar di ruang anak basket abis itu lo simpen disana bantuin gue ya”balas kay tersenyum

“tumben banget! Benteng es lo berhasil roboh”balas lusa santai

“cowo frozen juga”ledek hand.

Anice berjalan menuju aula Siang itu, sesuai dengan janjinya akan menemui kay siang ini. Saat anice memasukin Aula nada accoustic dari gitar terdengar dengan melow

“ku rasa kutlah jatuh cinta pada pandangan yang pertama…sulit bagiku oh tuk bisa berhenti mengagumi dirimu”nyanyi kay sambil tersenyum pada anice, pipi perempuan dihadapannya ini menggembung merah menahan rasa malu yang menerpanya

kay berjalan menghampiri anice dan memberikan se-bucket bunga mawar berwarna merah serta boneka unicron yang menjadi boneka favorit anice sejak kecil

“hope you like, and hope you happy”ucap kay lembut

“i’m so happy! Thank you so much!”balas anice tersenyum.

Rena menatap sendu ke dalam AULA hatinya teriris sakit seperti belati yang menusuk ke dalam hingga menembus tulang rusuk, lelaki yang selama ini dia cintai memang betul-betul tidak peduli akan hatinya

“mungkin benar kata ceri, cinta itu gak bisa dipaksa dan cinta pun datang tanpa bisa kita tolak, Cuma waktu yang bisa nentuin lo gue jadi kita”gumam rena dan berlalu pergi meninggalkan aula.

Kay tersenyum saat melihat anice menghirup aroma bunga pemberiannya, sikap nya yang seperti ini sudah lama tidak dia lakukan apa lagi dengan perempuan yang belum lama dia kenal.

“by the way. Kenapa lo lakuin ini buat gue kak?”tanya anice

“panggil kay aja. Gak enak kalau ada embel embel kak”balas kay

“oke”balas anice

“gapapa. Gue pingin kasih kejutan kecil ga seberapa ini buat lo kok”ucap kay dengan tatapan teduhnya

“lo tau gak, terkadang kita gak pernah sadar bahwa orang yang paling dekat sama kita itu adalah orang yang paling sering nyakitin kita” ucap anice

“hmm iya gue sadar, dan kalau gue lebih memilih gue bakalan milih nyakitin diri gue sendiri dari pada nyakitin orang yang paling dekat sama gue”balas kay tersenyum lalu berlalu pergi beranjak meninggalkan anice

anice tersenyum pelan “kita ga pernah tau kapan waktu bakalan nyatuin 2orang yang saling mencintai. Kadang bermimpi lebih indah”gumam nya pelan

“Ayo pulang”teriak kay dari depan pintu AULA anice pergi sedikit berlari untuk mengejar kay.

“Mimpi itu dikejar, bukan di tinggal!”gumam rena pelan sambil menatap kay yang sedang bersama anice menuju parkir mobil

“apapun gue bakalan lakuin. Lampu merah belum nyala! Well. Gue bakalan terus kejar Kay”gumam rena

“jangan terlalu terobsesi dengan mengejar cinta, biarin aja cinta datang dengan sendirinya “sambung bami yang datang tiba-tiba, rena hanya menatapnya tajam.

*****

Dufan! Satu nama tempat yang menjadi tujuan Kay dan anice Minggu ini, Ntah kenapa kay ingin sekali memiliki 1hari full bersama anice.

Eky dan bami pun ikut untuk meramaikan hari minggu yang dimulainya baik ini

“eh buset tumben banget ngajak cewe”sahut eky

“gatau kenapa, makin hari makin gamau kehilangan, makin sering kangen”gumam kay sambil tersenyum tipis

“lo jatuh cinta kay? Serius”sambung bami antusias

“ntah lah gue aja ga percaya”balas kay santai.

Tidak perlu menunggu waktu lama anice sudah berada didalam mobil kay

“ngomong-ngomong ini gapapakan gue ikut kalian ke dufan?”sahut anice

“nggalah santai aja. Lagian si frozen ini kan yang ngajak lu ce”tanya bami

“iya kay yang ajak”balasnya tersenyum

“gaklah santai aja!”balas eky.

Setelah memakan waktu beberapa jam untuk menuju dufan karna jalanan yang macet akhirnya mereka sampai didufan, ke-empatnya terlihat enjoy selama di dufan hampir semua wahana mereka datangi mulai dari histeria,kora-kora atau rollercoster pun sudah mereka jajahi anice dan kay semakin dekat bahkan tak disangka saat kay berkeringat dengan cepat anice memberikan sapu tangan pinknya untuk menghapus keringat kay, perhatian memang tapi ini bentuk care anice pada kay bukan lebih. Selama hari itu pula tatapan kay tak pernah lepas dari anice menurutnya ice termasuk permpuan yang apa adanya, tidak banyak tingkah dan kalem itulah type kay.

Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Misunderstand

image

Rena adalah murid kelas 12 SMA didaerah bandung mempunyai kepribadian yang sabar, pintar, baik semua ada padanya sampai-sampai semua murid cowok di sekolahnya mengaguminya.

Ada seorang laki-laki yang cukup terkenal disekolahnya dia bernama Rayn Wikaya. Anak-anak biasa memanggilnya “kay”, kay mengagumi Rena sejak dulu tetapi cintanya tak terbalaskan karna slama ini Rena tetap bergantung pada satu hati.

Yaitu kepada Rezeky, lelaki yang sudah menemaninya 5 tahun. Cukup lama walaupun hubungan mereka putus nyambung tetapi Rena masih terus menunggunya. Keberadaan Eky yang harus kuliah di belanda itu membuat Rena terus menerus merasa menunggu Eky.

Setiap hari Rena terus menerus melihat kotak masuk di handphonenya tetapi tidak ada satupun pesan masuk dari seorang laki-laki yang ditunggunya itu.

“jangan ngeliatin hape terus dong ren nanti makanan kamu dikerubutin laler tuh” ucap sahabat Rena yang bernama Ice.

“engga kok ce, kamu sok tau ah ce” jawab rena dengan nada malu-malu.

“kamu masih nungguin dia ya ren?” ucap Ice dengan nada serius.
“iya sebenernya dalam hati kecilku, aku masih nunggu dia ce dia yg terus menerus buat hati aku selalu tanda tanya” jawab Rena.

“semoga kamu bisa cepet ngelupain dia ya ren, aku gak tega kalau liat sahabatku ini terus digantung hubungannya” ucap Ice yg sudah tau semuanya.

“iya ce aku berusaha melupakan dia terus kok, semampuku” jawab Rena.

Perasaan Rena kembali bimbang setelah bercerita tentang seorang laki-laki yang ditunggunya. Tak lama kemudian bel pulang berbunyu, Rena yang biasanya dijemput Ayahnya hari ini dia balik seorang diri karna ayahnya ada urusan mendadak dan 2 sahabatnya juga berbarengan ada urusan. Rena berjalan menuju jalan pulang seketika ada mobil putih berhenti disamping Rena

image

“Ren.. ngapain pulang sendiri? yuk pulang bareng aku” ucap Kay turun dari mobilnya.

“iya aku pulang sendiri aja kay” jawab Rena.

“masih jauh Ren jarak kerumah km, mending ikut aku aja” ucap kay langsung membukakkan pintu mobil.

“iya kay makasih yah” jawab Rena tersenyum manis. Kay dan Rena asik mengobrol dimobil tidak kerasa hujan deras tiba.

“hujan deras ren kamu jangan takut ya ada aku disini” ucap kay

“aku gak pernah takut kay dengan hujan, aku slalu menganggap hujan itu anugrah untuk kita bukan musibah”jawab Rena serius.

“kamu beda dari yg lain ren itu sebabnya sampai detik ini aku masih cinta kekamu walaupun kamu gak pernah mencintaiku” jawab Kay dalam hati dan tersenyum kearah Rena.

Tak lama kemudian mereka sampai rumah Rena lalu Kay langsung pamit kepada Rena untuk langsung pulang.

Hari sudah larut malam, semua keluarga Rena sudah tidur termasuk Rena.

Tiba-tiba handphone Rena berbunyi ada pesan masuk daru seseorang dan Renapun akhirnya terbangun.

“Selamat tidur wanita terbaikku, tunggu aku pulang besok yah” isi pesan masuk Eky kepada Rena.

“kalau emng km bener-bener balik ke indonesia, kamu gak perlu nemuin aku ky” balas Rena menitihkan air mata.

image

Tengah malam, perasaan Rena campur aduk apakah harus senang atau sedih karena laki-laki yg ditunggunya itu akhirnya pulang. Rena tidak mau merasakan sakit hati terus karena dia terus menerus datang dan pergi dari hatinya. Tak lama kemudian Rena tertidur, jam sudah menunjukan jam 5 pagi Rena langsung bergegas siap-siap untuk ke sekolah. Dikelas begitu ramai sebelum bel masuk berbunyi.

“Ren kok diem aja sih masih pagi ini”ucap Ceri sahabat Rena.

“iya ren kenapa sih, cerita dong kekita ” ucap Ice.

“Eky hari ini sampai keindonesia Cer,ce”jawab Rena lembut.

“serius ren? jangan temuin dia ren udah cukup” ucap Ceri.

“ngomongnya jangan gitu Cer, semua tergantung Rena” jawab Ice.

Rena semakin bingung karna mendengar kan ucapan sahabatnya itu. Waktu terus berputar menunjukan jam pulang. Rena,Ice dan Ceri berjalan menuju gerbang depan sekolah.

Dari kejauhan Kay berlari-lari tergesah-gesah mengejar Rena. Seketika ada seorang lelaki langsung muncul dihadapan Rena dan 2 sahabatnya, dan itu ternyata adalah Eky. Hati Rena rasanya campur aduk sementara Kay tiba-tiba berhenti dan gagal mengejar Rena karna melihat Rena sedang bersamanya

“ren kita duluan yah, oiya Eky kita duluan ya” ucap Ice sambil menarik tangan Ceri dan pergi meninggalkan Rena dan Eky.

“aku kangen banget sama km, aku minta ma…” perkataan Eky dipotong oleh Rena.

“Cukup gak usah km ngelanjutin perkataan km ky, semua udah jelas. Aku tuh udah capek sama km” ucap Rena ke Eky smbil mengeluarkan airmatanya.

Rena berlari dan Eky menyusulnya lalu, Eky langsung memeluk Rena dengan penuh perasaan.

“maafin aku ren, aku janji gak akan mengulangu kesalahan yg sama, aku sayang dan cinta kekm” ucap Eky dengan nada serius.

“janji km gak akan ngulangin kesalahan yg sama?”jawab Rena.

“iya aku janji ren” ucap Eky dengan nada serius sambil memeluk rena.

image

Akhirnya mereka baikan dan Ekypun mengajak rena untuk pergi ketempat yg indah. Disana mereka sangat bahagia sekali. Banyak bunga-bunga yg indah, danau yg indah dan pemandangan yg indah.

“km mau ngapain ngambil itu ky?” tanya Rena.

“bunga ini indah ren seperti wanita yg ada dihadapan aku” jawab Eky sambil memasangkan bunga ketelinga Rena.

“km bisa aja ky hehe. hari ini, esok dan seterusnya aku pengen selalu kaya gini ky aku harap” ucap Rena serius.

“iya.. aku janji Nadya Arena” jawab Eky sambil memegang tangan rena dan mencubit pipinya

image

Hari sudah mulai gelap lalu mereka segera pulang. Eky mengantarkan Rena pulang dan bertemu kedua orangtua Rena. Eky dan Keluarga Rena asik mengobrol lalu tak lama kemudian Ekypun pamit pulang karna sudah malam.

Handphone Renapun berbunyi nada pesan masuk, ternyata sms ucapan tidur Eky kepada Rena yg begitu romantis.

Jam menunjukan pukul 07:00 pagi hari ini hari minggu sekolah libur, Rena memutuskan untuk pergi ke toko buku langganannya. Rena asik memilih buku tiba-tiba Rena menengok ke arah jendela toko buku itu terlihat Eky bersama mantannya yang bernama Chilli berjalan bersama menuju toko bunga didekat toko buku langganan rena.

image

Hati Rena sudah mulai tidak karuan dan menyangka dia cuma memberikan harapan yg tidak jelas lagi, lagi dan lagi. Renapun berlari menuju tempat biasa dia bersama Eky.

“KAMU KENAPA JAHAT BANGET KE AKU KY, KENAPA KAMU TEGA!” teriak Rena kencang kearah danau

image

“ini buat km..” memberikan sapu tangan ke Rena.

“Kay..” tangisan Rena berhenti dan mengambil sapu tangan lelaki itu.

“jangan nangis lagi yah ren, pundak aku slalu ada buat km ” ucap Kay memegang tangan Rena.

Rena langsung memeluknya dengan erat tak berfikir apa-apa lagi. Hati kay merasa lega karna wanita idamannya memeluknya dengan erat kepadanya, itu tanda bahwa Rena sudah bisa menerimanya walaupun semua itu bukan seberapa dimata wanita idamannya itu

image

Keesokan harinya dikantin begitu ramai seperti biasa Rena,Ice dan Ceri selalu duduk dipinggir sana

image

“udah ya ren jangan galau lagi kita ada disinu buat km, lupain dia kalau km inget-inget dia terus sama aja nyakitin diri km sebdiri” ucap Ceri dengan nada serius.

” iya aku baru menyadari semuanya Ce,Cer maafin aku ya gak pernah dengerin kata-kata kalian”jawab Rena.

“iya ren gapapa, cie mending sama kay aja sekarang” tambah dengan nada becanda.

“apa sih ce, kamu bisa aja..” jawab Rena dengan nada malu-malu.

Tak lama kemudian bel masuk berbunyi setelah pelajaran selesai semua murid-murid pulang. Rena,Ceri dan Ice menuju pintu gerbang sekolah tiba-tiba ada mobil hitam berhenti didepan Rena,Ceri dan Ice.

Rena dan Ice sudah mengerti itu mobil siapa mereka langsung pamit pulang. Ternyata itu Eky, diapun langsung menghampiri Rena.

“hai Rena.. aku sengaja jemput km” ujar Eky.

“aku bisa pulang sendiri kok, mending km pulang sana” jawab Rena dengn cuek.

“aku mohon ren jangan kaya gitu, kenapa sikap km berubah tiba-tiba?”dengan nada serius.

“kamu pura-pura gak ngerti atau gimana sih? aku udah tau semuanya ky, gak ada yg perlu kita bicarain lagi, aku udah males sama km ngerti?!”jawab Rena dengan nada marah dan langsung meninggalkan Eky.

“kamu dengerin penjelasan aku dulu Ren, Rena… besok aku terbang kebelanda lagi” ujar Eky teriak kepada Rena. Rena sempat berhenti dari jalannya dia berfikir kembali tapi semua itu tidak diperdulikannya.

image

Rena tetap pergi dan langsung memasuki mobil berwarna putih disebrang sana, itu adalah mobil Kay. Eky melihat semua itu pasrah, hatinya menangis. Ekypun pergi meninggalkan Rena dan pergi menuju rumah chilli.

“Rena berfikir kita masih ada hubungan Cill, kayaknya dia ngeliat kita pas ditoko bunga itu” jawab Eky dengan nada serius.

“serius Ky? pasti dia berfikir macem-macem deh padahal kita nyiapin Surprise ini buat Dia, kamu yg sabar ya Ky” jawab Chilli.

“iya Cill mungkin udah seharusnya aku pergi dari dia, kayaknya dia juga udah bahagia sama yang lain” ujar Eky

image

Ekypun meminta tolong kepada Chilli untuk memberikan surat dan surprisenya kepada Rena karna dirinya akan terbang kebelanda untuk melanjutkan pendidikannya disana. Keesokan harinya setelah Eky sudah terbang kebelanda, Chilli menerima telfon dari salah satu keluarga Eky bawah Eky dikabarkan sudah meninggal, pesawat yg dinaikinya jatuh. Keluarga Eky memberikan kabar ke Chilli supaya surat dan surprisenya dari Eky segera diberikan itu pesan terakhirnya. Chilli tidak menyangka, dia langsung menjatuhkan handphonenya dan menangis.

image

Tak lama kemudian Chilli menunggu Rena pulang sekolah di sekolah Rena. Bel pulang berbunyi seperti biada Rena,Ceri,dan Ice jalan bersama menuju pintu gerbang.

“Tunggu.. kamu Renakan?” ucap Chilli.

“iya ngapain kamu kesini?”jawab Rena.

“ikut aku sebentar”ucap Chilli langsung menarik tangan Rena dan pergi.

Sementara awan sangat mendung sekali hari itu, hati Rena gelisah sekali, beberapa menit kemudian Chilli dan Rena sampai tempat surprise yg eky berikan kepada Rena.

“ini ap.. apa..?” ucap Rena dengan nada gugup dan penasaran, Rena langsung menghampiri suprise yang diberikan Eky.

“ini surprise Eky buat kamu ren, dia gak mau kehilangan kamu dan itu semua bukan buat aku, aku gak ada apa-apa sama Eky, kita udah kaya Sahabat. Dia nyuruh aku buat bantuin dia ngedekor semua ini dan ini ada surat Eky buat km” ucap Chilli dengan nada serius.

image

Rena langsung membuka suratnya dan membacanya seketika Rena menangis kencang.

“ada satu lagi yang pengen aku kasih tau kekm ren”ucap Chilli sambil mengelap air mata Rena.

“ada apa lagi? KASIH TAU AKU!!”jawab Rena menangis kencang.

“Eky udah gak ada ren, pesawatnya jatuh setelah 1jam terbang” ucap Chilli dengan gugup.
“itu.. itu gak mungkin kan? itu gak bener kan? GAK MUNGKINNN!!” jawab Rena menangis kencang dan tidak percaya semua itu terjadi kepada Eky.

Chillipun langsung memeluk Rena kencang dilokasi itu dan menenangkan Rena yang terus menangis.

image

Posted in FTV / Sinetron

#FTV: Rasa Yang Tersimpan

image

Mungkin Tuhan punya rencana, hingga akhirnya Bara harus menjalani kejadian yang tak pernah diduganya sama sekali. Bara mengerti Bara tak bisa salahkan takdir. Tapi Bara sangat menyayangkan ketika kenyataan itu tak sesuai yang ia harapkan.

“Hai Bar, lo ko sendiri? Eky mana Bar?” tanya Michi saat melihat Bara yang datang sendirian ke dalam kelas.

“Dia sakit chi, lo kemarin gua telfon ga diangkat.” jawab pelan Bara.

“Ya Ampun, Eky sakit apa? Sekarang dia ada dimana?” sahut Michi dengan paniknya.

“Iya dia dirumahnya, kemarin gua anter dia  ke dokter katanya sih kecapean doang.”

“Baliknya lo kerumah dia kan? Kalau iya gua ikut, kalau ga tetep lo harus anter gua kesana.” Ucap Michi dengan paniknya.

“Segitunya ya lo, panik soal Eky. Eky beruntung.” dalam hati Bara.

“Hei ra? Hello.”

“Iya gua anterin lo.” ucap singkat Bara.

“Khawatir gua sama dia.” ucap Michi yang masih saja panik.
Bara hanya menatap Michi saat Michi sibuk memikirkan Eky.

Akhirnya bel masuk pun berbunyi, siswa dan siswi pun masuk kelas dan belajar dengan hikmat.

Tak terasa waktu pun telah menunjukan waktu pulang, Michi pun dengan sigapnya langsung menarik tangan Bara agar cepat-cepat pulang dan menuju rumah Eky.

“Ayo Bar ktia langsung kesana.”

“Iya iya sabar dulu, beresin dulu buku.” ucap Bara sambil memmasukkan buku-bukunya.

“Ih lama.” Sambil membantu Bara memasukkan buku ke dalam tas.

“Dah, ayo.”

Akhirnya mereka pun pulng dan menuju rumah Eky.

Sesampainya dirumah Eky…

“Ky, gua dateng nih sama Michi.” sambil mengendap ngendap masuk ke kamar Eky.

Pada saat masuk ke kamar Eky tak terlihat sama sekali ada orang dikamar tersebut, Bara dan Michi kebingungan dan akhirnya mecari keberadaan Eky. Dan pada saat mencari, ternyata Eky jatuh dari tempat tidurnya, Bara pun langsung membantu Eky untuk kembali ke tempat tidur.

“Eky.” Ucap Bara terkejut.

“Ya Ampun, ky. Bar ayo Bar bantuin dia.” Ucap Michi panik.

“Lo ngapain sih ky?Kenapa lo bisa jatoh gitu?Lo kan lagi sakit coba lo jangan banyak tingkah deh.Kalau tadi… ”

“Bar,stop dari semua pertanyaan itu,please Eky lagi sakit lo jangan banyak pertanyaan aneh deh” sahut Michi yang memotong pembicaraan Bara.

“Gapapa chi, gua tadi mau ambil buku doang, gua kira gua kuat ternyata gua jatuh tadi.” Ucap lembut Eky.

“Lagian ya lo, buku apa sih yang mau lo ambil? Diary? Novel? Resep makanan? Atau apa?” sahut Bara dengan sewotnya,

“Bara STOP.” ucap Michi sambil melemparkan kain yang ada didepan matanya.

“Lah ko gua dilempar kain segala sih?Gua kan nanya doang.” balas Bara penuh keheranan.

“Lo tuh dari tadi berisik, lo tau kan Eky sakit?Bisa ga sih lo diem aja.”

“Udah udah ko kalian malah berantem sih.” ucap Eky.

“Iya maaf ky, Bara tuh rese.” balas Michi.

“Gua aja terus chi, dah ah gua aus gua mau minum dulu.Lo mau ga chi?Gamu?Yaudah.” ucap Bara seraya meninggalkan kamar.

“Baraaaaaaa.” teriak Michi.
Bara pun akhirnya pergi ke dapur untuk mengambil minuman, saat sedang berjalan menuju dapur terlihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka.

“Ruangan apa ya,selama gua temenan bertahun tahun gua ga pernah tau isi dalam ruangan itu. Pa gua masuk aja ya.”

Karena Bara sangat penasaran akhirnya Bara pun masuk ke ruangan itu. Dan Bara terkejut saat melihat apa yang ada didalam ruangan itu.

“Jadi… “

image

Bara pun menelusuri lagi isi dari ruangan tersebut dan akhirnya menemukan sepucuk surat. Bara pun membuka surat tersebut dan membacanya.

image

“Jadi bener, Eky punya rasa yang sama kaya gua ke Michi? Kenapa harus cewe yang sama sih?”

Bara masih tak menyagka atas apa yang ia lihat dan ia baca. Bara tak pernah sangka bahwa Eky sahabatnya sendiri sama sepertinya yang juga menyukai dan menyayangi Michi.

“Yang sulit diterima bukan ketika musuh kita memiliki rasa yang sama untuk orang yang kita cintai tapi ketika sahabat terbaik kita menyi’mpan rasa yang sama untuk orang yang kita cintai.”

image

Bara pun bergegas kembali ke kamar Eky, tapi Bara langsung pamit untuk pulang. Michi dan Eky yang melihat tingkah Bara kebingungan.

“Gua balik dulu. Lo cepet sembuh ky.” ucap Bara sambil memakai tasnya.

“Eh eh lo kemana Bar?Ko lo pulang sih?Gua pulang sama siapa?” balas Michi kebingungan.

“Eh iya lo mau kemana ko buru buru?” tanya Eky.

“Gua duluan ya, bye,” jawab Bara singkat.

“Eh ky, gua juga balik deh gua ga biasa ditinggal Bara, lo cepet sembuh ya, kalau belum sembuh besok lo gausah masuk dulu oke?” ucap Michi sendari pamit.

“Iya Chi hati-hati ya lo. Makasih udah jengukin gua.” balas Eky dengan sebuah senyuman.

Akhirya Michi pun belari menyusul Bara.

“Baraaa, tungguin.” teriak Michi dari jauh.

Bara pun menghentikan langkahnya.

“Lah ko lo malah ikut pulang sih?” tanya Bara.

“Gamau gua ga biasa kalau ga pulang sama lo, lo kan tau gua, lo doang yang sering anter gua pulang kerumah.” jawab Michi.

“Yaudah terserah lo.” ucap Bara sambil lanjut berjalan.
Mereka pun akhirnya pulang, Bara mengantarkan Muchi pulang terlebih dahulu.

Sesampainya dirumah Michi…

“Udah,gua balik dulu, jangan lupa mandi lo, bau. Makan sama shalat juga.” ucap Bara.

“Loh ko tumben?” tanya Michu.

“Tumben apa?” jawab Bara kebingungan.

“Tumben lo ga titip salam sama puspus.”

“Oh iya gua lupa, yaudah lo salamin bilang kurang-kurangin nyakar orang.” Jawab Bara.

Puspus adalah seekor hamster yang Bara berikan kepada Michi sebagai hadiah ulang tahun tahun lalu.

“Yaudah sana balik lo.” ucap Michi.

Tanpa basa basi Bara pun langsung pergi meninggalkan Michi di depan rumahnya dan satu kata pun terucap.

“Huh, kebiasaan.” Keluh Michi dalam hati.

2 hari kemudian…

“Akhirnya bisa sekolah juga, kangen semuanya.” gumam Eky.

Dari kejauhn terlihat Bara sedang bersama Michi, dan Eky bergegas untuk menghampiri mereka.

“Oiii.”

“Eky.” dengan senang Michi menyambut.

“Ky dah sembuh lo?” ucap Bara singkat.

“Iya Alhamdulillah gua udah enakan, gua kangen sekolah juga padahal Cuma 3 hari gua dirumah.haha” jawab Eky dengan senyuman.

“Makanya lain kali lo tuh jaga kesehatan, makan yang teratur  obat lo diminum juga tepat waktu dan ga usah beli makanan yang dilarang dokter.” ucap Michi.

“Iya bawel, gua makan yang bener ko.” jawab Eky sambil menarik hidung Michi.

“Ih sakit tau ky.” Keluh Michi
Akhirnya Michi dan Eky pun saling bercanda dan membuat Bara cemburu. Bara akhirnya memutuskan untuk meninggalkn mereka ditaman.

“Gua ke kelas duluan ya.” ucap Bara.

Dari kejauhan…

“Mungkin mulai sekarang, gua harus terbiasa jauh dari lo Chi, gua gamau karena sayang gua ke lo bikin gua sama Eky pecah, biarin gua simpen perasaan gua dan semoga perasaan gua bisa ilang. Kebahagiaan sahabat gua, lebih penting dari kebahagiaan gua sendiri.” gumam Bara.
Sepulang sekolah…

Karena ditaman kota ada pameran, Michi mengajak Bara dan Eky untuk datang kesana. Awalnya Bara menolak untuk ikut ke pameran tersebut tapi akhirnya setelah dibujuk Bara pun mau datang ke pameran tersebut.

“Please ikut ya Bar ikut.” memohon kepada Bara.

“Yaudah gua ikut.” jawab Bara.

“Nah gitu dong Bar.” sahut Eky.
Akhirnya mereka pun pergi ke pameran itu.

Sesampainya disana…

“Chi, kita kesana yu? Kayanya sebelah sana bagus bagus.” ajak Eky pada Michi.

“Boleh, ayo Bar.” ajak Michi sambil menarik tangan Bara.

Eky bingung, mengapa Michi selalu saja tak bisa jauh dari Bara kemana pun Michi pergi pasti ia sealu mengajak Bara untuk ikut.

“Kenapa Michi sebegitunya sama Bara?” ucapnya Eky dalam hati.
Bara pun merasakan bahwa Eky memperhatikan tingkah Michi kepadanya, karena Bara takut Eky berfikiran yang aneh, akhirnya Bara melepaskan tangan Michi dan enolak untuk ikut.

“Lo kesana aja, gua mau ke sebelah sana dulu nanti kalau udah gua susul kalian.” jawab Bara.

“Yaudah tapi lo beneran nyusul ya?” tanya Michi pada Bara.

“Iya.” jawab singkat Bara.

“Yaudah Bar, kita kesana dulu ya, lo hati hati jangan jadi copet disini haha.” Canda Eky pada Bara.

“Ga lah haha.” jawab Bara.
Michi dan Eky pun akhrnya pergi ke arah selatan untuk melihat lukisan lukisan yang dipamerkan, sedangkan Bara ke arah Timur. Pada saat sedang melihat lihat, tak sengaja Bara menubruk seorang wanita.

Bruuuuuk…

“Sorry sorry, gua ga sengaja.” ucap panik Bara.

“Bara.” ucap wanita itu dengan terkejut.

“Rena?Lah ini beneran lo?” sahut Bara.

“Iya ini gua, gua Rena.” jawab Rena dengan senyuman.

“Lo kemana aja? Gua nyari lo, semenjak lo pindah rumah gua bingung lo kemana.” oceh Bara.

“Justru gua balik lagi karena gua sekarang pindah lagi ke rumah lama dan otomatis gua bakal satu sekolah lagi sama lo.” ucap Rena sambil kegirangan.

“Serius lo?” jawab Bara terkejut.

“Iya gua serius Bar.”

“Yaudah bagus, oh iya lo kesini sendiri?” tanya Bara.

“Tadi gua dianter Papa sih, tapi Papa udah pulang juga.” jawab Rena.

“Yaudah abis kita liat-liat disini kita cari Michi sama Eky baru kita pulang, lo pulang sama gua aja gausah minta jemput Papa.” sambung Bara.

“Beneran Bar?”

“Iyalah, rumah kita sebelahan yakali gua ninggalin lo sendiri. Yaudah ayo kita liat – liat abis itu cari Michi Eky.” ucap Bara sambil menggandeng tangan Rena.

Mereka pun akhirnya kembali melihat lihat pameran disana itu. Rena dan Bara yang sedang asik melihat sambil bercanda ternyata mengundang kecemburuan Michi yang melihat mereka dari kejauhan.

“Bara sama siapa ya, akrab banget.” ucap dalam hati Michi.

“Ngeliatin siapa chi?” tanya Eky.

“Itu Bara sama siapa ya?” tanya Michi.

“Oh itu kayanya Rena deh, temen lama kita, dia rumahnya sebelah rumah Bara, cuma dia pindah rumah jadi kita lost deh. Oh iya dia juga… ” cerita singkat Eky.

Tiba tiba saja Michi pergi  menghampiri Bara dan Rena saat Eky belum menyelesaikan ceritanya.

“Dia juga salah satu cewe  yang tertarik sama Bara, sama kaya cewe cewe lain.” terus Eky.

Akhirnya Eky pun menyusul Michi yang menghampiri Bara dan Rena.

“Bar.” Ucap Michi sambil menepuk pundak Bara.

“Hei,udah chi?Loh Eky mana?” tanya Bara.

“Ada tuh dibelakang.” Jawab Michi sambil menunjuk kearah Eky.

“Bar,itu siapa?” tanya Rena.

“Oh iya gua lupa, kalian belum saling kenal. Chi ini Rena temen gua dari kecil juga sama kaya Eky,Ren ini temen gua juga namanya Michi.” ucap Bara sambil mengenalkan satu sama lain.

“Rena.” mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Michi.” mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Hai Ren,sehat lo?” tanya Eky yang baru saja datang.

“Eky,hei lo apa kabar?Udah lama ga ketemu.” sahut Rena.

“Gua baik ko,lo makin cantik aja ya.” jawab Eky tersenyum.

“Hehe lo bisa aja ky.” jawab Ren malu malu.

“Nanti lagi kangen kangenannya, sekarang kita balik. Udah mau sore juga.” ucap Bara.

“Bar, lo nganterin gua kan?” tanya Michi tiba-tiba.

Eky yang mendengar pertanyaan Michi kepada Bara merasa cemburu. Begitupun dengan Rena yang sejak kecil memang menyukai Bara.

“Kayanya deket banget Bara sama cewe ini.” ucap Rena dalam hati.

“Yaudah yok, ko malah pada bengong semua.” ajak Bara.

Mereka pun akhirnya pulang ke rumah dan terlebih dahulu mengantarkan Eky. Beberapa waktu kemudian, akhirnya tinggal Michi, Rena dan Bara yang tersisa. Pada saat akan masuk mobil, Rena dan Michi bersamaan untuk masuk ke bagian depan. Bara bingung siapa yang harus duduk didepan karena Bara tak ingin terjadi pertengkaran hanya karena tempat duduk.

“Kalian duduk dibelakang ya,gua duduk depan sendiri.” Ucap Bara sambil membukakan pintu mobil.

Akhirnya mereka pun duduk dibelakang, sepanjang perjalananan pun sangat hening tak ada ada yang berbicara satu sama lain. Bara bingung dengan sikap kedua wanita itu. Beberapa menit kemudian akhirnya sampai juga dirumah Michi. Bara pun turun dan langsung membukakan pintu mobil. Rena hanya diam saja didalam mobil.

“Dah sampai, inget ya mandi makan shalat dan…” ucap Bara.

“Dan salam sama puspus kan.” sahut Michi sambil tertawa kecil.

“Pinter, yaudah gua pulang dulu ya.” ucap Bara sambil mengusap ngusap rambut Michi.

“Hati – hati ya.” ucap Michi tersenyum.

Bara membalas dengan senyuman.

Akhirnya Bara pun pergi dan Michi pun masuk ke dalam rumah. Di perjalanan tiba – tiba saja Rena membahas soal Michi.

“Bar, lo udah kenal lama ya sama Michi?” tanya Bara.

“Ko nanya soal Michi?” tanya balik Bara pada Rena.

“Ya gapapa, gua liatnya kaya deket banget.” jawab Rena.

“Gua, Eky, sama Michi lumayan lama sahabatan jadi ya wajar kalau emang deket kan.” Jawab Bara.

“Tapi gua liat sikap lo ke dia beda.” Sahut Rena.

Tiba-tiba saja Bara mengerem mobilnya. Rena pun terkejut.

“Bara.”

“Sorry, sorry gua ga sengaja. Lo gapapa kan?” ucap Bara panik.

“Gua gapapa, lo kaget karena omogan gua brusan soal Michi ya?” tanya Rena.

“Ga ko, tadi gua salah injek aja.” jawab Bara gugup.

“Gua kenal lo udah berapa lama sih Bar?Gua tau lo.”
Bara hanya diam saja.

“Bar…” panggil Rena.

“Gua ga tau kenapa gua ngerasain ini ren, gua gatau kenapa harus dia, gua ga ngerti.” jawab Bara.

“Jadi lo suka sama Michi?” tanya Rena.

“Lupain soal tadi ren, ga penting kita lanjut pulang ya.” jawab Bara tersenyum.

Bara pun akhirnya kembali mengemudikan mobilnya. Rena masih memikirkan soal itu dan merasa sedih juga karena Rena tau, Bara pasti memiliki rasa terhadap Michi. “Gua tau lo suka Bar sama Michi.” Ucap Rena dalam hati.

Sesampainya…

“Akhirnya sampe juga Ren, lo istirahat deh ya. Sorry soal tadi gua ga sengaja.” ucap Bara.

“Gapapa, santai aja.” jawab Rena tersenyum.

“Yaudah gih masuk, gua juga mau masuk mau mandi.” ucap Bara.

Akhirnya Rena pun masuk ke dalam rumahnya dan Bara pun juga.

Beberapa jam kemudian…

“Si Eky mau ngapain ke rumah malem malem gini tumben banget.” ucap Bara sambil berjalan kesana kemari depan teras rumahnya.

Beberapa menit berlalu akhirnya Eky pun datang.  “Hai Bar, sorry ya gua ganggu.” ucap Eky.

“Gapapa, oh iya masuk deh jangan diluar.” ajak Bara.

Mereka pun masuk.

“Mau minum apa lo ky?” ucap Bara.

“Apa aja Bar, gua pasti minum. Nyokap bokap lo pergi lagi ya?” tanya Eky samil melihat lihar isi rumah Bara.

“Iya biasa sibuk sama urusan masing masing.” jawab Bara sambil memberikan segelas minuman.

“Yea enak seger nih, oh iya Bar gua mau minta tolong sama lo.”

“Tolong apa Ky?”

“Tolong kasih saran buat gua. Gua bingung harus apa.” Jawab Eky sambil menyimpan gelas yang ia pegang.

“Kita bertiga kan sahabatan udah lama, salah ga sih kalau gua suka sama Michi?” tanya Eky.

“Udah ga kaget gua tau ini ky, nyakitin banget rasanya.” ucap Bara dalam hati.

“Bar..”

“Eh iya ky, gimana gimana?” tanya Bara balik.

“Iya gua harus apa?Apa gua bilang Michi aja kalau gua sayang sama dia?” tanya Eky,

“Kalau lo sayang lo nyatain aja,mumpung dia lagi ga punya pacar kan.” jawab Bara.

“Gitu ya,tapi kalau gua ditolak?” tanya Eky lagi.

“Yang penting dia tau lo sayang dia kan.”

“Iya sih, ok fix gua bakalan bilng besok.Lo support gua terus ya Bar.”

“Iya pasti.” jawab Bara.

“Lo emang sahabat baik gua Bar.” menepuk pundak Bara.

Dibalik kata kata Bara tadi, Bara menyimpan kesedihan,berpura pura tidak mencintai itu leih sulit dibandingkan putus dari cinta. Eky pun sudah matang dengan keputusannya untuk menyatakan cintanya pada Michi esok hari.

Bara pun sudah siap dengan segla yang terjadi esok hari. Kuat tidak kuat, Bara harus terima itu semua.

“Karena cinta ga harus meiliki.” dalam hati Bara.

“Yaudah Bar gua balik dulu ya, besok kita ketemu disekolah dan semoga dia juga suka sama gua ya, doain gua.” Ucap Eky.

“Iya Ky, gua doain.” sahut Bara.

Akhirnya Eky pulang.

Bara bingung apa yang harus dilakukan dan sejujurnya Bara tidak siap jika Michi punya rasa yang sama dengan Eky. Bara belum siap untuk melupakan rasanya itu.

Keesokan harinya….

Waktu yang Bara tak inginkan pun datang, Bara masih memikirkan soal pembicaraan Eky kemarin, Bara benar-benar belum siap khilangan Michi. Bara takut rasanya malah semakin dalam, dan akan semakin sulit untuk melupakannya. Tapi Bara bertekad untuk memendam rasa itu dan Bara akan menjauh pelan pelan dari Michi.

Bara pun akhirnya pergi berangkat sekolah dan berusaha bersikap biasa saja seakan akan tidak akan ada yang terjadi hari itu.

Sesampainya disekolah…

“Hei Bar.”

“Eh Ren, lo langsung sekolah disini?” tanya Bara.

“Iya Bar, biar gua ada temennya, dari dulu kan cuma lo yang mau deket sama gua dan mau jadi temen gua tulus.” jawab Rena.

“Apa sih ren, lo sekarang juga udah ga kaya dulu pasti banyak ko yang mau jadi temen lo sekarang, yaudah dari pada kita sedih sedihan kita ke kelas bareng aja.” ajak Bara.

Mereka pun ke kelas..

Hari itu hari bebas dimana guru sedang ada rapat dan akhirnya siswa an siswi pun tidak ada kegiatan belajar mengajar. Sesuai apa yang dikatakan Eky pada hari kemarin, Eky akhirnya benar benar akan menyatakan rasa sayangnya pada Michi. Ternyata Eky telah mempersiapkan semuanya, Bara hanya melihat kegiatan sahabatnya itu yang sibuk demi menyatakan cintanya pada Michi, wanita yang dia sayangi.

Disisi lain Michi sedang asyik membaca dan tak beranjak sama sekali daritempat duduknya. Rena yang duduk disebelah Bara, menydari bahwa Bara dari tadi hanya diam dan memperhatikan Michi dari tempat duduknya.

“Kalau sayang lo kejar, jangan biasain nyimpen perasaan lo sama orang lain, gabaik apalagi dipendem.” ucap Rena yang membuat Bara bingung.

“Maksud lo apa ren?” tanya Bara.

“Gua tau ko lo sayang sama Michi, lo juga suka sama Michi, tapi lo ga berani buat bilangnya kan?” tanya Rena.

“Ga ren,gua gamau rusak persahabatan cuma karena gua suka sama dia,gua mau simpan rasa ini.” jawab Bara sambil tersenyum.

“Bar, gua gamau liat lo kaya gini, gua mau lo bahagia, iya walaupun gua sedih liat lo ternyata suka sama cewe lain, tapi gua ikhlas asal lo bahagia.” menepuk pudak Bara.

Bara pun memegang tangan Rena dan disaat yang bersamaan Michi melihatnya. Karena Michi tak sanggup melihatnya, akhirnya Michi pun pergi keluar kelas.

“Ren, makasih dari dulu lo ngertiin gua, gua minta maaf sama lo gua cuma bisa sayang lo sebagai sahabat gua.”

“Bar, gua gapapa ko, gua gamau maksain hati lo yang nyatanya hati lo itu bukan buat gua. Lo harus kejar kebahagiaan lo inget.” ucap Rena.

Bara pun akhirnya menceritakan alasan mengapa Bara tidak menyatakan perasaannya pada Michi. Dan Rena tak menyangka dengn apa yang terjadi.

“Jadi Eky suka Michi juga?Padahal setau gua, Ice ninggalin dia dan belum mutusin dia. Kalau sekarang Michi terima Eky…” ucap Rena.

Tiba-tiba saja saat Rena sedang berbicara, dari luar terdengar suara yang sangat ramai.

Terima…terima …terima..

Bara dan Rena pun akhirnya keluar kelas dan melihat apa yag terjadi diluar kelas. Dan pada saat mereka keluar, mereka melihat Eky yang sedan menyatakan cintanya pada Michi. Bara hanya diam saja melihat sahabatnya menyatakan rasa sayangnya pada seorang wanita yang bukan lain wanita itu adalah orang yang Bara cinta.

“Lo mau kan jadi cewe gua?” tanya Eky pada Michi.

“Gua ga sayang sama Eky, gua sayang sama Bara tapi gua ga mungkin bikin Eky malu depan orang banyak. Gua bingung harus apa.” Ucap Michi dalam hati.

Michi pun melihat ke arah Bara dan Rena, Michi menyangka Bara tak menyukainya juga yang akhirnnya lebih baik Michi menerima cinta Eky dan belajar untuk melupakan Bara.

“Tapi, Bara kelitan seneng sama Rena, semenjak Rena datang pun perhatian lo ilang gitu aja. Gua mau lupain lo Bar, gua harus bisa kaya lo yang biasa aja sama gua.” ucap Michi dalam hati.

“Jadi lo mau kan?” tanya Eky sekli lagi.

“Iya, gua mau.” Jawab Michi.
Dan akhirnya Eky pun loncat bergembira saat Michi akhirnya menerima cintanya. Bara hnya meberikan senyuman atas apa yang ia lihat. Bara pun pergi dari tempat itu, begitu pun Rena yang menyusul Bara pergi.

Sore hari dirumah Bara…

“Sakit banget sakit chi, harusnya lo tau gua juga suka sama lo, tapi gua juga gabisa biarin Eky sedih. Ya Tuhan bantu hamba untuk lupain rasa ini.”

Bara sangat sedih dengan kejadian itu, semenjak kejadian itu Bara tidak masuk sekolah, sudah hampir 4 hari Bara menghilang tanpa kabar. Eky, Michi bahkan Rena sekalipun tak tau kabar Bar karena rumah Bara pun sepi dan tak ada orang sama sekali.

Handphone Bara pun mati dan tak da siapa pun yang tu keadaan dan dimana Bara sekarang.

Disisi lain…

“Bar, gua kangen sama lo, puspus kagen sama lo, lo kemana Bar.” Ucap Michi dalam lamunannya.

Dirumah Eky…

“Permisi bi, Eky nya ada?” tanya seorang wanita.

“Ada non, silahkan masuk bibi panggilkan dulu.”

Akhirnya dipanggilkanlah Eky. Pada saat Eky turun, Eky tak menyangka ternyata yang datang itu Ice, kekasihnya yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar sama seali. Eky sangat terkejut kan hal itu.

“Ice.” Ucap Eky terkejut.

“Ky, gue kangen lo.” Ucap Ice sambil memeluk Eky.

“Lo datang disaat gua udah sama orang lain, maksud lo apa sih? Lo mau bikin gua gabisa lupain lo lagi? Lo mau apalagi sih balik lagi ke kehidupan gua?” ucap eky emosi.

Ice pun menjelaskan alasan mengapa ia meninggalkan Eky tanpa kabar sama sekali dan meminta maaf atas perlakuannya itu. Eky pun ta menyangka ternyata Ice ada alasan mengapa dia pamit tanpa kabar, tiba – tiba saja Eky bingung. Mengapa disaat ia sudah menjadi kekasih Michi, Ice hadir kembali dihidupnya. Eky bingung apa yang harus dilakukan dan tak tau apa yang akan terjadi jika Ice tau Eky sudah punya yang lain, dan Eky pun takut ketika Michi tau bahwa hubungan Eky dan Ice belum benar benar berakhir.

Eky ternyata simpan rapat rapat rahasia itu dan tetap memacari Ice tanpa Michi tau begitu pun kepada Michi. Sampai akhirnya tak disangka Rena bertemu dengan Ice dan Ice menjelaskan semuanya dan meceritakan semuanya termasuk soal hubungannya yang masih berlanjut dengan Eky.

‘Apa jadi lo sama Eky belum putus?” tanya Rena terkejut.

“emang belum Ren, ko lo kaget gitu sih?” tanya Ice bingung.

“Ga bisa diginiin, Eky keterlaluan.” Ucapnya dalam hati.

“Ren..”

Keesokan harinya…

Karena Rena tak mau Michi disakiti Eky, Rena pun berbicara pada Eky agar Eky melepaskan Michi.

“Gua ga pernah nyangka, lo jahat sama Ice sama Michi.” ucap sewot Rena.

“Lo ren, apa sih dateng dateng marah?” jawab Eky kebingungan.

“Lo pacaran sama mereka berdua maksudnya apa? Kalau Michi tau lo masih pacaran sama Ice gimana dan gimana juga kalau Ice tau lo malah nembak cewe lain disini.”

Tiba-tiba saja ada Michi dan Ice yang tepat medengar apa perkataan Rena kepada Eky.

“Maksudnya apa?” tanya Ice.

“Ce, lo ko disini?” jawab Eky gugup.

“Ga perlu tau kenapa, maksud Rena bilang lo nembak cewe lain apa?” tanya Ice sambil meneteskan air matanya.

“Ce lo salah denger ce.” ucap Rena.

“Lo ternyata belum putus tapi kenapa lo…” ucap Michi.

“Dengerin gue dulu, please chi dengerin gua.” Jawab Eky bingung.

Entah apa yang dirasakan Michi kali itu Michi pun akhirnya memutuskn untuk mengakhiri hubungannya dengan Eky dan langsun pergi ke taman sekolah.

“Kita putus ky.”ucap singkat Michi.
Rena pun akhirnya mengejar Michi dan meninggalkan Ice dan Eky.

“Gua bodo gua bodo terima Eky yang jelas jelas memang masih milik orang lain” ucap Michi sambil menangis.

Michi tak henti hentinya menangis dan menyebut ama Bara. Rena pun datang dan berusaha menenangkan Michi.

“Chi, maafin gua, tadi gua gamaksud sama sekali ngomng gitu maaf bikin lo putus.” ucap Rena.

“Gapapa, gua terlalu bodoh soal cinta.” jawab Michi yang masih dalam keadaan menangis.

“Kalau lo bodo, Bara ga mungkin suka sama lo chi, lo jangannangis ya,kalau Bara tau gua yakin Bara bakal marah liat cewe yang dia sayang nangis kaya gini.” ucap Rena.

“Sayang?” jawab Michi bingung.

Akhirnya Rena menjelaskan semuanya dari A-Z tentang Bara, tentang perasaanya terhadap Michi. Rena juga menjelaskan bahwa tidak ada hubungan apa apa antara irinya dengan Bara.

“Jadi Bara sayang sama gua tapi demi persahabatan dia ngalah? Dan ternyata lo sama Bara ga ada apa apa ?” tanya Michi.

“Iya gua gda apa apa sama Bara chi,Bara sayangnya sama lo bukan sma gua. Oh iya sebelum dia pergi, ada surat yang dia kasih buat lo” memberikan  sebuath surat.

Chi, apa kabar?Lo baik baik aja kan? Chi sori gua ga pamit kemarin gua lagi bener bener gabisa ngabarin siapa siapa, kemarin pun ga sengaja gua ketemu Rena dan akhirnya gua titip surat buat lo. Chi gua mau lo tau yang sebenernya walaupun gua tau, gua ga pantes bilang gini. Tapi gua Cuma mau lo tau aja dan ga lebih.
Chi gua sebenernya sayang sama lo dari semenjak awal kita kenal, maaf gua ga pernah bilang soal ini karena gua gamau kita jauh.  Dan gua juga tau dari lama kalau Eky suka sama lo, makanya gua ngalah dan gua mau kalian sahabat sahabat gua dapetin yang terbaik. Lo sekarang gimana sama Eky? Harus akur akur ya jangan berantem berantem.
Chi gua pamit ya, kalau dikasih kesempatan kita jumpa lagi kita bakal ketemu lagi. Sekali lagi jaga diri lo jaga makan lo dan jaga ibadah lo. Titip salam sama puspus. Bara kangen, kangen juga gua sama lo Chi. Hehehe
Chi maaf kalau gua salah pake bikin surat ginian tapi gua gatau harus apa buat ungkapin semuanya. Gua sayang sama lo chi, bahagia disana ya. Gua disini masih dan akan tetap sayang sama lo, sayang lo dari jauh.

Bara.

Michi pun menetesan air matanya setelah membaca surat dari Bara. Dan Michi tak menyangka betapa baiknya Bara yang rela merasakan sakit hatinya demi menjga perasaan sahabatnya.

“Gua juga sayang sama lo Bar.” Ucap Mihi sambil menangis.

“Lo gausah sedih lgi Chi, Bara pergi gakan lama, lo harus setia nunggu dia balik sama kaya dia yang setia buat simpan rasanya selama bertahun tahun,” ucap Rena.

“Gua janji, sampai kapan pun gua bakal tunggu Bara balik, gua sayang lo Bar.” Ucap Michi yang masih menangis.

Akhirnya Michi pun tau perasaan yang selama ini tersimpan di hati Bara, dan Michi berjanji untuk tetap setia menunggu kembali datangnya Bara dikehidupannya.